FITNESS & HEALTH
Mengenali 5 Penanganan Pencitraan Intravaskular untuk Pasien Penyumbatan Jantung
Aulia Putriningtias
Jumat 06 Maret 2026 / 10:10
- Faktor risiko penyumbatan jantung sendiri dibagi atas dua kategori utama.
- Ada faktor risiko yang dapat diubah seperti gaya hidup tidak sehat.
- Pada perokok pasif atau yang mencium dan terpapar asap rokok juga dapat berisiko.
Jakarta: Jantung merupakan organ yang sangat penting bagi manusia. Jika mengalami masalah, tentunya akan memengaruhi kehidupan dan aktivitas, termasuk saat alami penyumbatan jantung. Ada beberapa penanganan yang direkomendasi untuk masalah jantung ini.
Penyumbatan jantung atau penyakit jantung koroner (PJK) merupakan kondisi terjadinya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri koroner. Hal ini diakibatkan oleh penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan kalsium) yang dikenal sebagai ateroskleorosis.
Kondisi ini dapat menghambat aliran darah dan suplai oksigen ke otot jantung (iskemia). Hal ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen jantung dan ketersediaan suplai darah. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko serangan jantung.
Menurut dr. Nanda Iryuza, Sp. J.P, Subsp. K.I. (K), FIHA, FAPSIC selaku Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Jantung dan Pembuluh Darah Kardiologi Intervensi Pondok Indah Heart Center, faktor risiko penyumbatan jantung sendiri dibagi atas dua kategori utama, yaitu yang tak dapat diubah, seperti umur, jenis kelamin, riwayat genetik, dan etnis.
"Pada etnis yang cenderung berisiko adalah Asia dan Afrika. Etnis bisa menjadi salah satu penyebab risiko dari penyumbatan jantung," ungkap dr. Nanda dalam temu media di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Selain itu, ada faktor risiko yang dapat diubah seperti gaya hidup tidak sehat, merokok, hipertensi, kolesterol, dan obesitas. Bahkan, pada perokok pasif atau yang mencium dan terpapar asap rokok juga dapat berisiko.
Adapun beberapa gejala penyumbatan jantung yang perlu diketahui, antara lain:
- Nyeri dada (angina), yang terasa seperti tekanan, sesak, berat, atau rasa terbakar di dada.
- Sesak napas, yang terasa seperti kesulitan bernapas, terutama saat beraktivitas fisik atau beristirahat.
- Nyeri menjalar, yang terasa di lengan kiri, leher, atau rahang.
- Berkeringat dingin dan mual, yang tiba-tiba muncul tanpa sebab dan sering disertai pusing serta sensasi seperti ingin pingsan.
Teknologi pencitraan intravaskular (Intravascular Coronary Imaging) memberikan gambaran visual yang akurat mengenai struktur dinding arteri dan tingkat penyempitan. Dokter pun dapat mengambil keputusan tindakan yang lebih tepat. Inilah beberapa metode yang dapat dilakukan:
Alat intravascular imaging gelombang cahaya (inframerah) yang mampu menghasilkan gambaran dari arteri koroner dan stent/ring jantung dengan resolusi gambar lebih jelas dan detail. Mulai dari resolusi gambar tinggi, durasi pengambilan lebih cepat, dan membantu dokter merencanakan intervensi.
OCT dianjurkan pada tindakan PCI untuk pasien yang memiliki struktur arteri koroner kompleks. Ini seperti penyempitan arteri di daerah pangkal, percabangan pembuluh darah, penyempitan yang panjang, dan lainnya.
Alat ultrasound berukuran sangat kecil ini dimasukkan ke pembuluh darah melalui selang/kateter jantung untuk mencapai muara pembuluh darah koroner yang ingin diperiksa lebih lanjut. Metode ini dapat melihat karakteristik penyumbatan, mengukur presentase penyempitan pembuluh darah, meminimalisir penggunaan zat kontras, dan mendeteksi PJK non-sumbatan.
IVUS direkomendasikan untuk semua kasus pemasangan stent, karena dapat mengurangi risiko komplikasi saat pemasangan. Teknologi ini juga diperlukan untuk kasus sumbatan pada pasien yang sebelumnya sudah pernah dipasang ring/stent jantung.
Rotablator merupakan teknologi modern berbentuk bor yang dapat berputar hingga 200.000 kali per menit, membantu mengikis dan membuka plak sumbatan yang keras dengan sangat presisi. Metode ini bisa melakukan pengikisan plak keras secara presisi, dapat bekerja di area sempit, dan meminimalkan risiko komplikasi.
Tindakan ini direkomendasikan untuk pasien penyakit jantung koroner dengan plak aterosklerosis yang mengalami kalsifikasi berat (keras/berkapur). Hal ini sulit dilewati atau dikembangkan dengan balon angioplasti konvensional.
Prosedur diagnostik minimal invasif menggunakan teknologi pressure wire yang dimasukkan ke dalam arteri koroner melalui kateter untuk mengukur tekanan darah sebelum dan sesudah penyempitan. Hasilnya menunjukkan seberapa besar pengaruh penyempitan dalam menghalangi aliran darah.
Metode ini dapat menilai penyempitan arteri koroner dan mengurangi risiko pemasangan stent yang tidak diperlukan. Tindakan ini direkomendasikan pada pasien dengan penyempitan kategori sedang, mengalami beberapa titik penyempitan, serta digunakan saat hasil tes treadmill atau EKG tidak sinkron dengan gambaran kateterisasi.
Menggunakan gelombang kejut (sonic pressure waves) untuk memecahkan kalsium atau kapur yang keras pada dinding pembuluh darah koroner. Menggunakan balon khusus yang dimasukkan melalui kateter, yang kemudian mengeluarkan energi suara untuk meretakkan kerak kalsium tanpa merusak jaringan lunak pembuluh darah.
Metode ini mampu menangani sumbatan yang sangat keras (kalsifikasi berat) yang sulit ditembus oleh balon biasa. Kemudian, dapat beerja spesifik pada jaringan keras (kalsium) dan membuat pembuluh darah lebih lentur untuk stent mengembang.
Prosedur ini direkomendasikan pada pasien dengan penyempitan pembuluh darah koroner yang disertai kalsifikasi berat. IVL juga digunakan sebagai persiapan sebelum pemasangan stent/ring agar tidak terhambat oleh dinding pembuluh darah yang kaku.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Penyumbatan jantung atau penyakit jantung koroner (PJK) merupakan kondisi terjadinya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri koroner. Hal ini diakibatkan oleh penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan kalsium) yang dikenal sebagai ateroskleorosis.
Kondisi ini dapat menghambat aliran darah dan suplai oksigen ke otot jantung (iskemia). Hal ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen jantung dan ketersediaan suplai darah. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko serangan jantung.
Menurut dr. Nanda Iryuza, Sp. J.P, Subsp. K.I. (K), FIHA, FAPSIC selaku Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Jantung dan Pembuluh Darah Kardiologi Intervensi Pondok Indah Heart Center, faktor risiko penyumbatan jantung sendiri dibagi atas dua kategori utama, yaitu yang tak dapat diubah, seperti umur, jenis kelamin, riwayat genetik, dan etnis.
"Pada etnis yang cenderung berisiko adalah Asia dan Afrika. Etnis bisa menjadi salah satu penyebab risiko dari penyumbatan jantung," ungkap dr. Nanda dalam temu media di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Selain itu, ada faktor risiko yang dapat diubah seperti gaya hidup tidak sehat, merokok, hipertensi, kolesterol, dan obesitas. Bahkan, pada perokok pasif atau yang mencium dan terpapar asap rokok juga dapat berisiko.
Adapun beberapa gejala penyumbatan jantung yang perlu diketahui, antara lain:
- Nyeri dada (angina), yang terasa seperti tekanan, sesak, berat, atau rasa terbakar di dada.
- Sesak napas, yang terasa seperti kesulitan bernapas, terutama saat beraktivitas fisik atau beristirahat.
- Nyeri menjalar, yang terasa di lengan kiri, leher, atau rahang.
- Berkeringat dingin dan mual, yang tiba-tiba muncul tanpa sebab dan sering disertai pusing serta sensasi seperti ingin pingsan.
Mengenal teknologi pencitraan intravaskular untuk penyumbatan jantung
Teknologi pencitraan intravaskular (Intravascular Coronary Imaging) memberikan gambaran visual yang akurat mengenai struktur dinding arteri dan tingkat penyempitan. Dokter pun dapat mengambil keputusan tindakan yang lebih tepat. Inilah beberapa metode yang dapat dilakukan:
1. OCT (Optical Coherence Tomography)
Alat intravascular imaging gelombang cahaya (inframerah) yang mampu menghasilkan gambaran dari arteri koroner dan stent/ring jantung dengan resolusi gambar lebih jelas dan detail. Mulai dari resolusi gambar tinggi, durasi pengambilan lebih cepat, dan membantu dokter merencanakan intervensi.
OCT dianjurkan pada tindakan PCI untuk pasien yang memiliki struktur arteri koroner kompleks. Ini seperti penyempitan arteri di daerah pangkal, percabangan pembuluh darah, penyempitan yang panjang, dan lainnya.
2. IVUS (Intravascular Ultrasound)
Alat ultrasound berukuran sangat kecil ini dimasukkan ke pembuluh darah melalui selang/kateter jantung untuk mencapai muara pembuluh darah koroner yang ingin diperiksa lebih lanjut. Metode ini dapat melihat karakteristik penyumbatan, mengukur presentase penyempitan pembuluh darah, meminimalisir penggunaan zat kontras, dan mendeteksi PJK non-sumbatan.
IVUS direkomendasikan untuk semua kasus pemasangan stent, karena dapat mengurangi risiko komplikasi saat pemasangan. Teknologi ini juga diperlukan untuk kasus sumbatan pada pasien yang sebelumnya sudah pernah dipasang ring/stent jantung.
3. Roblator (Atherectomy)
Rotablator merupakan teknologi modern berbentuk bor yang dapat berputar hingga 200.000 kali per menit, membantu mengikis dan membuka plak sumbatan yang keras dengan sangat presisi. Metode ini bisa melakukan pengikisan plak keras secara presisi, dapat bekerja di area sempit, dan meminimalkan risiko komplikasi.
Tindakan ini direkomendasikan untuk pasien penyakit jantung koroner dengan plak aterosklerosis yang mengalami kalsifikasi berat (keras/berkapur). Hal ini sulit dilewati atau dikembangkan dengan balon angioplasti konvensional.
4. Fractional Flow Reserve (FFR)
Prosedur diagnostik minimal invasif menggunakan teknologi pressure wire yang dimasukkan ke dalam arteri koroner melalui kateter untuk mengukur tekanan darah sebelum dan sesudah penyempitan. Hasilnya menunjukkan seberapa besar pengaruh penyempitan dalam menghalangi aliran darah.
Metode ini dapat menilai penyempitan arteri koroner dan mengurangi risiko pemasangan stent yang tidak diperlukan. Tindakan ini direkomendasikan pada pasien dengan penyempitan kategori sedang, mengalami beberapa titik penyempitan, serta digunakan saat hasil tes treadmill atau EKG tidak sinkron dengan gambaran kateterisasi.
5. Intravenous Lithotripsy (IVL)
Menggunakan gelombang kejut (sonic pressure waves) untuk memecahkan kalsium atau kapur yang keras pada dinding pembuluh darah koroner. Menggunakan balon khusus yang dimasukkan melalui kateter, yang kemudian mengeluarkan energi suara untuk meretakkan kerak kalsium tanpa merusak jaringan lunak pembuluh darah.
Metode ini mampu menangani sumbatan yang sangat keras (kalsifikasi berat) yang sulit ditembus oleh balon biasa. Kemudian, dapat beerja spesifik pada jaringan keras (kalsium) dan membuat pembuluh darah lebih lentur untuk stent mengembang.
Prosedur ini direkomendasikan pada pasien dengan penyempitan pembuluh darah koroner yang disertai kalsifikasi berat. IVL juga digunakan sebagai persiapan sebelum pemasangan stent/ring agar tidak terhambat oleh dinding pembuluh darah yang kaku.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)