FITNESS & HEALTH
DKI & BMKG Gandengan, Bikin Alarm Polusi Udara!
Yatin Suleha
Minggu 07 Juni 2026 / 11:05
- DKI dan BMKG rancang sistem prediksi kualitas udara tiga hari ke depan.
- Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan informasi yang valid lebih awal.
- Selain itu, dapat merencanakan aktivitas luar ruangan dengan lebih aman.
Jakarta: Langkah antisipasi terhadap pencemaran udara di Ibu Kota terus ditingkatkan. Kini, Pemprov DKI Jakarta bersama BMKG sedang merancang sistem peringatan dini (Early Warning System) kualitas udara guna menjaga kesehatan masyarakat.
Keunggulan dari sistem ini adalah kemampuannya menyajikan prakiraan kondisi udara hingga tiga hari ke depan.
Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan informasi yang valid lebih awal dan dapat merencanakan aktivitas luar ruangan dengan lebih aman.
Sistem prakiraan tersebut dikembangkan BMKG melalui teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial bernama SILAM Urban.
Teknologi ini mampu memetakan kondisi polusi udara secara rinci hingga radius satu kilometer dengan cakupan seluruh 44 kecamatan di Jakarta.
Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert C Nahas mengatakan, SILAM Urban dikembangkan menggunakan data inventori emisi lokal, mulai dari emisi sektoral hingga emisi polutan.
Dengan dukungan data tersebut, sistem dapat menghasilkan prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan spesifik untuk wilayah Jakarta.
“Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren ISPU hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi, peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” ujar Albert, Jumat (5/6) seperti dilansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi mengatakan, pengembangan EWS kualitas udara merupakan bagian dari langkah strategis Pemprov DKI untuk memperkuat upaya pencegahan pencemaran udara sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.
.jpg)
(“Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharapkan menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat,” tandas Dudi Gardesi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Menurut Dudi, sistem tersebut akan menjadi instrumen penting dalam upaya mitigasi. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari sebelumnya, pemerintah dapat menyiapkan langkah penanganan yang diperlukan.
Di sisi lain masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan perlindungan diri sejak dini.
“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan, sementara masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” jelas Dudi.
Ia menambahkan, informasi prakiraan kualitas udara akan sangat bermanfaat bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Melalui informasi ini, warga diharapkan bisa lebih bersiap—seperti memakai masker atau membatasi kegiatan di luar ruangan—saat kualitas udara diprediksi sedang memburuk.
“Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharapkan menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat, sehingga warga memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap risiko pencemaran udara,” tandas Dudi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Keunggulan dari sistem ini adalah kemampuannya menyajikan prakiraan kondisi udara hingga tiga hari ke depan.
Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan informasi yang valid lebih awal dan dapat merencanakan aktivitas luar ruangan dengan lebih aman.
Sistem prakiraan tersebut dikembangkan BMKG melalui teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial bernama SILAM Urban.
Teknologi ini mampu memetakan kondisi polusi udara secara rinci hingga radius satu kilometer dengan cakupan seluruh 44 kecamatan di Jakarta.
Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert C Nahas mengatakan, SILAM Urban dikembangkan menggunakan data inventori emisi lokal, mulai dari emisi sektoral hingga emisi polutan.
Dengan dukungan data tersebut, sistem dapat menghasilkan prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan spesifik untuk wilayah Jakarta.
“Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren ISPU hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi, peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” ujar Albert, Jumat (5/6) seperti dilansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi mengatakan, pengembangan EWS kualitas udara merupakan bagian dari langkah strategis Pemprov DKI untuk memperkuat upaya pencegahan pencemaran udara sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.
.jpg)
(“Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharapkan menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat,” tandas Dudi Gardesi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Menurut Dudi, sistem tersebut akan menjadi instrumen penting dalam upaya mitigasi. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari sebelumnya, pemerintah dapat menyiapkan langkah penanganan yang diperlukan.
Di sisi lain masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan perlindungan diri sejak dini.
“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan, sementara masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” jelas Dudi.
Ia menambahkan, informasi prakiraan kualitas udara akan sangat bermanfaat bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Melalui informasi ini, warga diharapkan bisa lebih bersiap—seperti memakai masker atau membatasi kegiatan di luar ruangan—saat kualitas udara diprediksi sedang memburuk.
“Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharapkan menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat, sehingga warga memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap risiko pencemaran udara,” tandas Dudi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)