FITNESS & HEALTH
Pas Orang Tua Bilang Remaja Depresi Cuma karena ‘Kurang Ibadah’, Padahal Gak Sesimpel Itu
Yatin Suleha
Kamis 28 Mei 2026 / 08:05
- Kondisi remaja yang depresi bisa dipengaruhi banyak hal.
- Ada banyak alasan kompleks di baliknya, kayak tekanan dari keluarga, pengalaman hidup yang berat, atau stres lingkungan yang terus-terusan menumpuk.
- Remaja yang memiliki orang tua dengan riwayat depresi, cenderung lebih rentan mengalami kondisi serupa.
Jakarta: Remaja yang kena depresi itu enggak bisa langsung dicap cuma karena kurang bersyukur atau terlalu lembek.
Ada banyak alasan kompleks di baliknya, kayak tekanan dari keluarga, pengalaman hidup yang berat, atau stres lingkungan yang terus-terusan menumpuk.
Jadi, ini gak bisa disamain sama moody biasa, ya. Kita harus paham kalau di balik senyum mereka, bisa jadi ada perjuangan berat melawan tekanan mental yang enggak pernah mereka ceritain ke siapa-siapa.
Menurut Rachel Busman, Psy.D., seorang psikolog anak dan remaja bersertifikat dan direktur senior Pusat Gangguan Kecemasan di Child Mind Institute, depresi pada remaja dapat dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Dilansir dari Parents, berikut adalah empat penyebab depresi pada remaja.
Salah satu penyebab yang cukup berpengaruh adalah faktor keturunan dan kondisi biologis. Remaja yang memiliki orang tua dengan riwayat depresi, cenderung lebih rentan mengalami kondisi serupa.
Selain karena faktor genetik, anak juga sering belajar dari lingkungan sekitar, dan meniru cara orang tua menghadapi emosi atau tekanan hidup.
Para peneliti juga menduga bahwa depresi pada ibu, dapat memengaruhi perkembangan janin sejak dalam kandungan. Selain itu, kombinasi faktor lingkungan dan genetik, dipercaya ikut berperan dalam perkembangan depresi pada anak dan remaja.
.jpg)
(Ada sejumlah faktor pemicu depresi pada remaja. Mulai dari peristiwa traumatis, perundungan hingga mengidap suatu penyakit. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Depresi juga bisa muncul akibat pengalaman masa kecil yang berat atau traumatis, yang dikenal sebagai pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan (ACEs). Menurut CDC, pengalaman seperti ini dapat meninggalkan dampak emosional jangka panjang.
Beberapa contoh ACEs, yaitu mengalami kekerasan, pelecehan, atau pengabaian, kedua adalah menyaksikan kekerasan di rumah atau lingkungan sekitar, dan memiliki anggota keluarga yang mencoba bunuh diri atau meninggal, karena bunuh diri
Penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak pengalaman traumatis yang dialami seseorang sejak kecil, semakin tinggi pula risiko mengalami gangguan kesehatan mental di masa depan, termasuk depresi.
Peristiwa hidup yang penuh tekanan juga bisa menjadi pemicu depresi, terutama jika remaja tidak memiliki dukungan emosional atau cara coping yang sehat. Misalnya seperti kehilangan anggota keluarga, pindah lingkungan, kesulitan beradaptasi di tempat baru, atau tekanan akademik yang berat.
Jennifer Rothman, manajer senior inisiatif remaja dan dewasa muda di National Alliance on Mental Illness (NAMI), juga menjelaskan bahwa remaja yang kesulitan mengikuti pelajaran atau memiliki gangguan belajar, bisa merasa tertinggal dan kehilangan rasa percaya diri. Kondisi tersebut lama-kelamaan dapat memicu stres hingga depresi.
Kecemasan dan depresi juga sering muncul bersamaan pada remaja. Bahkan, menurut tinjauan sistematis Journal of Psychiatric Practice tahun 2016, kondisi ini kemungkinan masih sering diremehkan atau tidak terdeteksi sejak awal.
Remaja yang mengalami kecemasan dan depresi sekaligus, biasanya memiliki gejala yang lebih berat dan lebih sulit ditangani, dibanding mereka yang hanya mengalami salah satunya. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda sejak dini menjadi sangat penting.
“Gangguan kecemasan yang tidak diobati pada anak, merupakan salah satu prediktor utama terjadinya depresi saat memasuki masa remaja,” kata Lynn Lyons, pekerja sosial klinis berlisensi, psikoterapis, pembicara, dan co-author buku Anxious Kids, Anxious Parents.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Ada banyak alasan kompleks di baliknya, kayak tekanan dari keluarga, pengalaman hidup yang berat, atau stres lingkungan yang terus-terusan menumpuk.
Jadi, ini gak bisa disamain sama moody biasa, ya. Kita harus paham kalau di balik senyum mereka, bisa jadi ada perjuangan berat melawan tekanan mental yang enggak pernah mereka ceritain ke siapa-siapa.
Menurut Rachel Busman, Psy.D., seorang psikolog anak dan remaja bersertifikat dan direktur senior Pusat Gangguan Kecemasan di Child Mind Institute, depresi pada remaja dapat dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Dilansir dari Parents, berikut adalah empat penyebab depresi pada remaja.
1. Faktor genetika dan biologi
Salah satu penyebab yang cukup berpengaruh adalah faktor keturunan dan kondisi biologis. Remaja yang memiliki orang tua dengan riwayat depresi, cenderung lebih rentan mengalami kondisi serupa.
Selain karena faktor genetik, anak juga sering belajar dari lingkungan sekitar, dan meniru cara orang tua menghadapi emosi atau tekanan hidup.
Para peneliti juga menduga bahwa depresi pada ibu, dapat memengaruhi perkembangan janin sejak dalam kandungan. Selain itu, kombinasi faktor lingkungan dan genetik, dipercaya ikut berperan dalam perkembangan depresi pada anak dan remaja.
2. Pengalaman masa kecil yang menyakitkan
.jpg)
(Ada sejumlah faktor pemicu depresi pada remaja. Mulai dari peristiwa traumatis, perundungan hingga mengidap suatu penyakit. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Depresi juga bisa muncul akibat pengalaman masa kecil yang berat atau traumatis, yang dikenal sebagai pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan (ACEs). Menurut CDC, pengalaman seperti ini dapat meninggalkan dampak emosional jangka panjang.
Beberapa contoh ACEs, yaitu mengalami kekerasan, pelecehan, atau pengabaian, kedua adalah menyaksikan kekerasan di rumah atau lingkungan sekitar, dan memiliki anggota keluarga yang mencoba bunuh diri atau meninggal, karena bunuh diri
Penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak pengalaman traumatis yang dialami seseorang sejak kecil, semakin tinggi pula risiko mengalami gangguan kesehatan mental di masa depan, termasuk depresi.
3. Tekanan hidup dan masalah di sekolah
Peristiwa hidup yang penuh tekanan juga bisa menjadi pemicu depresi, terutama jika remaja tidak memiliki dukungan emosional atau cara coping yang sehat. Misalnya seperti kehilangan anggota keluarga, pindah lingkungan, kesulitan beradaptasi di tempat baru, atau tekanan akademik yang berat.
Jennifer Rothman, manajer senior inisiatif remaja dan dewasa muda di National Alliance on Mental Illness (NAMI), juga menjelaskan bahwa remaja yang kesulitan mengikuti pelajaran atau memiliki gangguan belajar, bisa merasa tertinggal dan kehilangan rasa percaya diri. Kondisi tersebut lama-kelamaan dapat memicu stres hingga depresi.
4. Kecemasan yang tidak ditangani
Kecemasan dan depresi juga sering muncul bersamaan pada remaja. Bahkan, menurut tinjauan sistematis Journal of Psychiatric Practice tahun 2016, kondisi ini kemungkinan masih sering diremehkan atau tidak terdeteksi sejak awal.
Remaja yang mengalami kecemasan dan depresi sekaligus, biasanya memiliki gejala yang lebih berat dan lebih sulit ditangani, dibanding mereka yang hanya mengalami salah satunya. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda sejak dini menjadi sangat penting.
“Gangguan kecemasan yang tidak diobati pada anak, merupakan salah satu prediktor utama terjadinya depresi saat memasuki masa remaja,” kata Lynn Lyons, pekerja sosial klinis berlisensi, psikoterapis, pembicara, dan co-author buku Anxious Kids, Anxious Parents.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)