FAMILY

Bukan Sekadar Moody, Ternyata Depresi Remaja Makin Banyak Terjadi

A. Firdaus
Kamis 21 Mei 2026 / 15:08
Ringkasnya gini..
  • Satu dari lima remaja akan mengalami depresi sebelum mereka mencapai usia 25 tahun.
  • Masalah kesehatan mental pada remaja juga semakin meningkat dari tahun ke tahun.
  • 12% remaja mengalami setidaknya satu kali “gangguan parah”, yang sampai mengganggu aktivitas dan kehidupan sehari-hari mereka.
Jakarta: Remaja memang sering mengalami perubahan suasana hati. Kadang mudah marah, cepat sedih, jadi lebih sensitif, atau merasa malas melakukan apa pun. Perubahan seperti itu sebenarnya normal terjadi karena pengaruh hormon, tekanan sekolah, pergaulan, hingga proses mencari jati diri. 

Namun, jika perasaan sedih, lelah, kehilangan semangat, atau emosi negatif terus berlangsung selama dua minggu atau lebih, kondisi tersebut bisa menjadi tanda depresi yang tidak boleh dianggap sepele.

“Secara umum, satu dari lima remaja akan mengalami depresi sebelum mereka mencapai usia 25 tahun,” kata Susan Weinstein, wakil direktur eksekutif bidang program dan operasional di Families for Depression Awareness dilansir dari Parents.
Masalah kesehatan mental pada remaja juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak remaja merasa kesulitan menghadapi tekanan hidup, merasa sendirian, atau tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Oleh karena itu, penting bagi keluarga, teman, dan lingkungan sekitar untuk lebih peka, terhadap perubahan perilaku dan kondisi emosional remaja.

Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), sebanyak 17% remaja usia 12 hingga 17 tahun, mengalami setidaknya satu episode depresi mayor pada tahun 2020. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4,1 juta remaja di Amerika. Selain itu, sekitar 12% remaja mengalami setidaknya satu kali “gangguan parah”, yang sampai mengganggu aktivitas dan kehidupan sehari-hari mereka.

Jennifer Rothman, manajer senior inisiatif remaja dan dewasa muda di National Alliance on Mental Illness (NAMI), juga mengatakan bahwa angka depresi pada remaja terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, lebih dari satu juta remaja mengalami depresi, pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2017.

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pada tahun 2021, juga menunjukkan kondisi kesehatan mental remaja yang semakin mengkhawatirkan, di antaranya:
• 42% siswa merasa sedih atau putus asa secara terus-menerus
• 29% mengalami kesehatan mental yang buruk
• 22% pernah mempertimbangkan bunuh diri
• 10% pernah mencoba bunuh diri

CDC juga mencatat bahwa beberapa kelompok remaja, memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental, termasuk siswa LGBTQIA, perempuan, serta kelompok ras dan etnis yang termarjinalkan. 

Bahkan, hampir setengah siswa LGBTQIA, dilaporkan pernah mempertimbangkan bunuh diri. Sementara itu, siswa kulit hitam tercatat lebih sering melakukan percobaan bunuh diri, dibandingkan remaja dari kelompok ras dan etnis lainnya.

Oleh karena itu, depresi pada remaja tidak bisa dianggap hanya sebagai fase “moody” biasa. Dukungan dari orang terdekat, komunikasi yang sehat, serta bantuan profesional sangat penting agar remaja merasa didengar, dipahami, dan tidak menghadapi semuanya sendirian.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH