FITNESS & HEALTH
Spill Alasan Remaja Bisa 5 Kali Lebih Berempati Gara-gara Teman Dekat
Aulia Putriningtias
Selasa 03 Maret 2026 / 19:37
- Dr. Ray, perilaku melaporkan kebaikan teman (tootling) secara terstruktur selama 10 hari mampu meningkatkan empati.
- Program ini mengukur enam aspek emosional remaja. Hal ini termasuk gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas dan lainnya.
- Sebanyak 8 dari 10 pelajar merasakan perubahan positif setelah mengikuti program CekTemanSebelah 2.0 ini.
Jakarta: Narasi publik untuk remaja masa kini cenderung negatif karena banyaknya hal-hal buruk viral. Ada temuan menarik yang melaporkan kebaikan teman, justru dapat meningkatkan empati.
Narasi remaja yang saat ini masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), dikenal sebagai generasi rapuh yang rentan mengalami gangguan mental. Namun, ternyata tak semua remaja di Indonesia seperti itu.
Ketua TIm Eksperimen sekaligus Ketua Health Colaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH bersama DIrektur Eksekutif HCC, Bunga Pelangi, MKM, melakukan program CekTemanSebelah 2.0 "Laporkan Kebaikan teman". Hasilnya begitu menarik mengenai remaja yang telah dilakukan eksperimen.
Menurut dr. Ray, perilaku melaporkan kebaikan teman (tootling) secara terstruktur selama 10 hari mampu meningkatkan empati. Selain itu, dapat juga meningkatkan sikap prososial remaja secara signifikan.
Program ini mengukur enam aspek emosional remaja.
Hal ini termasuk gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas, relasi teman sebaya, skor kesulitan, dan prososial. Pada aspek empati, menggunakan Interpersonal Reactivy Index.
.jpg)
(Dr. Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH bersama DIrektur Eksekutif HCC, Bunga Pelangi, MKM. Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)
Intervensi ini melibatkan 699 siswa di SMA Jakarta, dengan 541 siswa menyelesaikan program penuh selama 10 hari. Hasilnya pun menarik, yaitu:
- 5 kali lebih berempati
- 5 kali lebih prososial
- Hampir 4 kali lebih tinggi pemikiran prespektif atau kemampuan memahami sudut pandang orang lain
"Di akhir eksperimen ini terdapat 4.170 laporan kebaikan terkumpul hanya dalam waktu 10 hari. Artinya ada daya multiplikasi 10 kali lipat dalam satu waktu intervensi sederhana," papar dr. Ray dalam temu media mengungkapkan hasil penelitian eksperimen ini di Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.
Sebanyak 8 dari 10 pelajar merasakan perubahan positif setelah mengikuti program CekTemanSebelah 2.0 ini. Kemudian, mereka yang aktif melaporkan kebaikann, memiliki 11 kali peluang lebih besar merasakan perubahan yang positif.
Fakta menarik lainnya yang dipaparkan ada sebanyak 77 persen siswa melaporkan kebaikan sebagai bentuk menguncapkan terima kasih.
Sebanyak 71 persen sebagai bentuk apresiasi. Kemudian, 50 persen sebagai balas kebaikan. 41 persen untuk menginspirasi teman lain, dan 34 persen agar kebaikan diketahui oleh publik.
Tak hanya itu, siswa perempuan diketahui lebih memiliki peluang 34 kali lebih besar untuk melaporkan kebaikan kepada sesama perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan dinamika sosial yang dapat menjadi dasar pengembangan strategi intervensi selanjutnya.
Menurut Sulastry Pardede, S.Psi, Psikolog Klinis dari Puskesmas Cirasa yang juga sebagai elaborator ekslusif eksperimen sosial ini, perilaku prososial yang dilatih melalui tootling CekTemanSebelah meningkatkan empati dan solidaritas.
"(Ditambah) Mengurangi rasa ketidaknyamanan diri, membentuk reaksi sosial positif, dan memperkuat antar teman sebaya," kata Sulastry.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran kesehatan jiwa remaja, pendekatan berbasis kekuatan seperti ini menujukkan bahwa solusi tidak selalu harus kompleks atau mahal. Program ini membuka peluang besar bagi penguatan promosi kesehatan jiwa berbasis sekolah secara nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Narasi remaja yang saat ini masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), dikenal sebagai generasi rapuh yang rentan mengalami gangguan mental. Namun, ternyata tak semua remaja di Indonesia seperti itu.
Ketua TIm Eksperimen sekaligus Ketua Health Colaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH bersama DIrektur Eksekutif HCC, Bunga Pelangi, MKM, melakukan program CekTemanSebelah 2.0 "Laporkan Kebaikan teman". Hasilnya begitu menarik mengenai remaja yang telah dilakukan eksperimen.
Menurut dr. Ray, perilaku melaporkan kebaikan teman (tootling) secara terstruktur selama 10 hari mampu meningkatkan empati. Selain itu, dapat juga meningkatkan sikap prososial remaja secara signifikan.
Program ini mengukur enam aspek emosional remaja.
Hal ini termasuk gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas, relasi teman sebaya, skor kesulitan, dan prososial. Pada aspek empati, menggunakan Interpersonal Reactivy Index.
.jpg)
(Dr. Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH bersama DIrektur Eksekutif HCC, Bunga Pelangi, MKM. Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)
Intervensi ini melibatkan 699 siswa di SMA Jakarta, dengan 541 siswa menyelesaikan program penuh selama 10 hari. Hasilnya pun menarik, yaitu:
- 5 kali lebih berempati
- 5 kali lebih prososial
- Hampir 4 kali lebih tinggi pemikiran prespektif atau kemampuan memahami sudut pandang orang lain
"Di akhir eksperimen ini terdapat 4.170 laporan kebaikan terkumpul hanya dalam waktu 10 hari. Artinya ada daya multiplikasi 10 kali lipat dalam satu waktu intervensi sederhana," papar dr. Ray dalam temu media mengungkapkan hasil penelitian eksperimen ini di Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.
Sebanyak 8 dari 10 pelajar merasakan perubahan positif setelah mengikuti program CekTemanSebelah 2.0 ini. Kemudian, mereka yang aktif melaporkan kebaikann, memiliki 11 kali peluang lebih besar merasakan perubahan yang positif.
Fakta menarik lainnya yang dipaparkan ada sebanyak 77 persen siswa melaporkan kebaikan sebagai bentuk menguncapkan terima kasih.
Sebanyak 71 persen sebagai bentuk apresiasi. Kemudian, 50 persen sebagai balas kebaikan. 41 persen untuk menginspirasi teman lain, dan 34 persen agar kebaikan diketahui oleh publik.
Tak hanya itu, siswa perempuan diketahui lebih memiliki peluang 34 kali lebih besar untuk melaporkan kebaikan kepada sesama perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan dinamika sosial yang dapat menjadi dasar pengembangan strategi intervensi selanjutnya.
Menurut Sulastry Pardede, S.Psi, Psikolog Klinis dari Puskesmas Cirasa yang juga sebagai elaborator ekslusif eksperimen sosial ini, perilaku prososial yang dilatih melalui tootling CekTemanSebelah meningkatkan empati dan solidaritas.
"(Ditambah) Mengurangi rasa ketidaknyamanan diri, membentuk reaksi sosial positif, dan memperkuat antar teman sebaya," kata Sulastry.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran kesehatan jiwa remaja, pendekatan berbasis kekuatan seperti ini menujukkan bahwa solusi tidak selalu harus kompleks atau mahal. Program ini membuka peluang besar bagi penguatan promosi kesehatan jiwa berbasis sekolah secara nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)