BEAUTY
6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Remaja saat Mengatasi Jerawat
A. Firdaus
Sabtu 13 Juni 2026 / 09:13
- Jerawat yang muncul saat masa pubertas sering kali membuat remaja berusaha mencari berbagai cara untuk mendapatkan kulit yang lebih bersih.
- Kulit bertransisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja.
- Masa pubertas merupakan proses remaja mulai mengalami perubahan pada kondisi kulit.
Jakarta: Masa pubertas merupakan proses remaja mulai mengalami perubahan pada kondisi kulit. Perubahan hormon dapat merangsang produksi minyak berlebih yang memicu munculnya komedo, kulit berminyak, hingga jerawat.
Dokter kulit Dr. Stephanie Ho menjelaskan bahwa saat kulit bertransisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja, peningkatan produksi sebum dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan berbagai masalah kulit.
Jerawat yang muncul saat masa pubertas sering kali membuat remaja berusaha mencari berbagai cara untuk mendapatkan kulit yang lebih bersih. Namun, tanpa disadari, sejumlah kebiasaan sehari-hari justru dapat memperparah kondisi kulit dan membuat jerawat semakin sulit dikendalikan.
Berikut 6 kesalahan yang kerap dilakukan remaja ketika sedang jerawatan:
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah mencuci wajah terlalu sering. Banyak remaja beranggapan bahwa wajah yang berminyak harus dibersihkan berulang kali agar jerawat cepat hilang. Padahal, membersihkan wajah lebih dari dua kali sehari dapat menghilangkan lapisan pelindung alami kulit. Akibatnya, kulit menjadi kering dan iritasi, bahkan dapat memicu produksi minyak berlebih sebagai mekanisme pertahanan tubuh.
Selain itu, tren penggunaan produk perawatan kulit dengan kandungan aktif seperti AHA, BHA, dan retinoid juga perlu diperhatikan. Bahan-bahan tersebut memang dikenal efektif membantu mengatasi jerawat dan mempercepat regenerasi kulit, namun, penggunaan yang berlebihan atau tanpa pendampingan ahli dapat menyebabkan kulit menjadi sensitif, kemerahan, mengelupas, hingga memperburuk peradangan jerawat.
Kebiasaan lain yang masih sering dilakukan adalah menyentuh wajah atau memencet jerawat. Tangan yang tidak bersih dapat membawa bakteri dan kotoran ke permukaan kulit, sehingga meningkatkan risiko infeksi. Sementara itu, memencet jerawat dapat merusak jaringan kulit, memperparah peradangan, dan meningkatkan risiko munculnya bekas jerawat yang sulit hilang.
Tidak hanya perawatan dari luar, kondisi kulit juga dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari. Dokter kulit, Dr. Stephanie Ho menjelaskan bahwa pola makan tertentu dapat berkontribusi terhadap munculnya jerawat pada sebagian orang.
Makanan tinggi gula, minuman manis, produk olahan susu tertentu, serta makanan dengan indeks glikemik tinggi diketahui dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan proses metabolisme tubuh. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan produksi minyak dan memicu peradangan yang berhubungan dengan jerawat.
“Pola makan dapat memengaruhi jerawat melalui jalur hormonal dan metabolik yang kompleks,” ujar Dr. Ho.
Selain pola makan, kualitas tidur juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kulit. Kurang tidur dapat meningkatkan kadar hormon stres atau kortisol yang berpengaruh terhadap produksi minyak berlebih. Kondisi ini membuat kulit lebih rentan mengalami peradangan dan memicu timbulnya jerawat.
Tingkat stres yang tinggi juga dapat memperburuk kondisi kulit. Saat seseorang mengalami stres, tubuh memproduksi hormon tertentu yang dapat merangsang kelenjar minyak bekerja lebih aktif. Akibatnya, pori-pori lebih mudah tersumbat dan jerawat pun semakin sering muncul.
Meski jerawat dan kulit berminyak merupakan bagian normal dari proses pertumbuhan, para ahli menekankan pentingnya membangun kebiasaan perawatan kulit yang sehat sejak dini.
Rutinitas sederhana yang konsisten, pola makan seimbang, tidur yang cukup, serta pengelolaan stres yang baik dapat membantu remaja menjaga kesehatan kulit sekaligus meningkatkan rasa percaya diri selama masa pubertas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dokter kulit Dr. Stephanie Ho menjelaskan bahwa saat kulit bertransisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja, peningkatan produksi sebum dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan berbagai masalah kulit.
Jerawat yang muncul saat masa pubertas sering kali membuat remaja berusaha mencari berbagai cara untuk mendapatkan kulit yang lebih bersih. Namun, tanpa disadari, sejumlah kebiasaan sehari-hari justru dapat memperparah kondisi kulit dan membuat jerawat semakin sulit dikendalikan.
Berikut 6 kesalahan yang kerap dilakukan remaja ketika sedang jerawatan:
1. Sering mencuci wajah
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah mencuci wajah terlalu sering. Banyak remaja beranggapan bahwa wajah yang berminyak harus dibersihkan berulang kali agar jerawat cepat hilang. Padahal, membersihkan wajah lebih dari dua kali sehari dapat menghilangkan lapisan pelindung alami kulit. Akibatnya, kulit menjadi kering dan iritasi, bahkan dapat memicu produksi minyak berlebih sebagai mekanisme pertahanan tubuh.
2. Tren penggunaan produk perawatan kulit
Selain itu, tren penggunaan produk perawatan kulit dengan kandungan aktif seperti AHA, BHA, dan retinoid juga perlu diperhatikan. Bahan-bahan tersebut memang dikenal efektif membantu mengatasi jerawat dan mempercepat regenerasi kulit, namun, penggunaan yang berlebihan atau tanpa pendampingan ahli dapat menyebabkan kulit menjadi sensitif, kemerahan, mengelupas, hingga memperburuk peradangan jerawat.
3. Memencet jerawat
Kebiasaan lain yang masih sering dilakukan adalah menyentuh wajah atau memencet jerawat. Tangan yang tidak bersih dapat membawa bakteri dan kotoran ke permukaan kulit, sehingga meningkatkan risiko infeksi. Sementara itu, memencet jerawat dapat merusak jaringan kulit, memperparah peradangan, dan meningkatkan risiko munculnya bekas jerawat yang sulit hilang.
4. Pola makan
Tidak hanya perawatan dari luar, kondisi kulit juga dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari. Dokter kulit, Dr. Stephanie Ho menjelaskan bahwa pola makan tertentu dapat berkontribusi terhadap munculnya jerawat pada sebagian orang.
Makanan tinggi gula, minuman manis, produk olahan susu tertentu, serta makanan dengan indeks glikemik tinggi diketahui dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan proses metabolisme tubuh. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan produksi minyak dan memicu peradangan yang berhubungan dengan jerawat.
“Pola makan dapat memengaruhi jerawat melalui jalur hormonal dan metabolik yang kompleks,” ujar Dr. Ho.
5. Kualitas tidur
Selain pola makan, kualitas tidur juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kulit. Kurang tidur dapat meningkatkan kadar hormon stres atau kortisol yang berpengaruh terhadap produksi minyak berlebih. Kondisi ini membuat kulit lebih rentan mengalami peradangan dan memicu timbulnya jerawat.
6. Stres
Tingkat stres yang tinggi juga dapat memperburuk kondisi kulit. Saat seseorang mengalami stres, tubuh memproduksi hormon tertentu yang dapat merangsang kelenjar minyak bekerja lebih aktif. Akibatnya, pori-pori lebih mudah tersumbat dan jerawat pun semakin sering muncul.
Meski jerawat dan kulit berminyak merupakan bagian normal dari proses pertumbuhan, para ahli menekankan pentingnya membangun kebiasaan perawatan kulit yang sehat sejak dini.
Rutinitas sederhana yang konsisten, pola makan seimbang, tidur yang cukup, serta pengelolaan stres yang baik dapat membantu remaja menjaga kesehatan kulit sekaligus meningkatkan rasa percaya diri selama masa pubertas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)