BEAUTY
Kulit Remaja Lagi Berubah? Ini Rutinitas Simpel Biar Jerawat Nggak Makin Parah
A. Firdaus
Sabtu 13 Juni 2026 / 12:08
- Perubahan hormon selama masa pubertas menjadi salah satu penyebab utama munculnya berbagai masalah kulit pada remaja.
- Bagi remaja yang mulai mengalami masalah jerawat, beberapa bahan aktif dapat menjadi pilihan untuk membantu mengontrol kondisi kulit.
- Pada anak perempuan biasanya muncul lebih awal, sekitar usia 11 hingga 13 tahun.
Jakarta: Memasuki masa pubertas, banyak remaja mulai menghadapi perubahan pada kulit yang sering kali membuat tidak percaya diri. Wajah yang sebelumnya cenderung bersih bisa tiba-tiba menjadi lebih berminyak, muncul komedo, hingga jerawat yang datang silih berganti.
Menurut dokter kulit Dr. Stephanie Ho, perubahan hormon selama masa pubertas menjadi salah satu penyebab utama munculnya berbagai masalah kulit pada remaja. Saat tubuh mulai memproduksi hormon dalam jumlah lebih tinggi, kelenjar minyak ikut bekerja lebih aktif dan menghasilkan sebum berlebih.
Sebum yang bercampur dengan sel kulit mati dan bakteri dapat menyumbat pori-pori, sehingga memicu munculnya komedo hitam, komedo putih, hingga jerawat meradang.
"Jerawat memengaruhi sekitar 90 hingga 96 persen remaja dalam berbagai tingkat keparahan. Pada anak perempuan biasanya muncul lebih awal, sekitar usia 11 hingga 13 tahun, sementara pada anak laki-laki umumnya mulai terlihat pada usia 13 hingga 14 tahun," ujar Dr. Ho, seperti dikutip dari Channel News Asia.
Di tengah tren skincare yang semakin populer di media sosial, Dr. Ho mengingatkan bahwa remaja sebenarnya tidak membutuhkan rutinitas yang rumit.
Menurutnya, tiga produk dasar sudah cukup untuk menjaga kesehatan kulit selama masa pubertas, yaitu pembersih wajah yang lembut, pelembap ringan, dan tabir surya dengan SPF 50 atau lebih saat beraktivitas di luar ruangan.
Rutinitas sederhana ini membantu menjaga keseimbangan kulit tanpa meningkatkan risiko iritasi yang justru dapat memperparah jerawat.
Bagi remaja yang mulai mengalami masalah jerawat, beberapa bahan aktif dapat menjadi pilihan untuk membantu mengontrol kondisi kulit.
Niacinamide dikenal mampu membantu mengurangi produksi minyak berlebih sekaligus meredakan kemerahan akibat peradangan.
Sementara azelaic acid dapat membantu membersihkan pori-pori, melawan bakteri penyebab jerawat, serta menyamarkan bekas jerawat yang mengganggu penampilan.
Untuk kasus jerawat yang lebih aktif, benzoyl peroxide sering digunakan karena efektif membunuh bakteri penyebab jerawat dan membantu mengurangi peradangan. Namun, bahan ini perlu digunakan secara hati-hati karena berpotensi menyebabkan kulit kering dan iritasi pada sebagian orang.
Ada pula salicylic acid yang bekerja membantu mengangkat sel kulit mati dan membersihkan minyak yang menyumbat pori-pori.
Meski banyak dijual bebas, Dr. Ho menyarankan penggunaan bahan aktif dilakukan secara bertahap agar kulit memiliki waktu untuk beradaptasi.
"Jika jerawat terus berlanjut atau semakin parah, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kulit untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat," katanya.
Selain memilih produk yang tepat, ada beberapa kebiasaan yang justru dapat memperburuk kondisi kulit.
Salah satunya adalah mencuci wajah terlalu sering. Banyak remaja mengira wajah yang berminyak harus dibersihkan berkali-kali dalam sehari. Padahal, kebiasaan tersebut dapat merusak lapisan pelindung alami kulit dan memicu iritasi.
Dr. Ho menyarankan mencuci wajah maksimal dua kali sehari, lalu dilanjutkan dengan penggunaan pelembap.
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah penggunaan bahan aktif seperti AHA, BHA, dan retinoid secara berlebihan karena terpengaruh tren skincare di media sosial. Alih-alih membuat kulit lebih cepat membaik, penggunaan berlebihan justru dapat menyebabkan kemerahan, kulit sensitif, hingga jerawat semakin meradang.
Tak kalah penting, kebiasaan menyentuh wajah atau memencet jerawat juga sebaiknya dihentikan. Tangan yang tidak bersih dapat memindahkan bakteri ke kulit dan memperparah peradangan.
Merawat kulit tidak cukup hanya dari luar. Dr. Ho menegaskan bahwa gaya hidup juga memiliki peran besar terhadap kesehatan kulit remaja.
Pola makan tinggi gula, produk susu tertentu, serta makanan dengan indeks glikemik tinggi diketahui dapat berkontribusi terhadap munculnya jerawat pada sebagian orang.
Selain itu, kurang tidur dan tingkat stres yang tinggi juga dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh. Kondisi ini memicu peningkatan produksi minyak dan peradangan yang membuat jerawat lebih mudah muncul.
Bagi anak usia 8 hingga 12 tahun yang aktif berolahraga atau sering berkeringat, mandi setelah beraktivitas atau membersihkan tubuh menggunakan tisu basah hipoalergenik juga dapat membantu mengurangi risiko penumpukan bakteri di kulit.
Jerawat dan kulit berminyak memang menjadi bagian yang umum terjadi selama masa pubertas. Namun, kondisi tersebut bukan berarti harus dibiarkan begitu saja.
Dengan rutinitas skincare yang sederhana, penggunaan produk yang sesuai kebutuhan kulit, serta didukung pola hidup sehat, remaja dapat menjaga kesehatan kulit sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Karena pada akhirnya, kulit yang sehat bukan soal memiliki rutinitas skincare paling mahal atau paling panjang, melainkan tentang konsistensi merawat kulit sesuai kebutuhan di setiap fase pertumbuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Menurut dokter kulit Dr. Stephanie Ho, perubahan hormon selama masa pubertas menjadi salah satu penyebab utama munculnya berbagai masalah kulit pada remaja. Saat tubuh mulai memproduksi hormon dalam jumlah lebih tinggi, kelenjar minyak ikut bekerja lebih aktif dan menghasilkan sebum berlebih.
Sebum yang bercampur dengan sel kulit mati dan bakteri dapat menyumbat pori-pori, sehingga memicu munculnya komedo hitam, komedo putih, hingga jerawat meradang.
Baca Juga :
Remaja Wajib Tahu, Kapan Mulai Pakai Glad2Glow?
"Jerawat memengaruhi sekitar 90 hingga 96 persen remaja dalam berbagai tingkat keparahan. Pada anak perempuan biasanya muncul lebih awal, sekitar usia 11 hingga 13 tahun, sementara pada anak laki-laki umumnya mulai terlihat pada usia 13 hingga 14 tahun," ujar Dr. Ho, seperti dikutip dari Channel News Asia.
1. Remaja tak perlu skincare berlapis-Lapis
Di tengah tren skincare yang semakin populer di media sosial, Dr. Ho mengingatkan bahwa remaja sebenarnya tidak membutuhkan rutinitas yang rumit.
Menurutnya, tiga produk dasar sudah cukup untuk menjaga kesehatan kulit selama masa pubertas, yaitu pembersih wajah yang lembut, pelembap ringan, dan tabir surya dengan SPF 50 atau lebih saat beraktivitas di luar ruangan.
Rutinitas sederhana ini membantu menjaga keseimbangan kulit tanpa meningkatkan risiko iritasi yang justru dapat memperparah jerawat.
2. Kandungan yang bisa membantu atasi jerawat
Bagi remaja yang mulai mengalami masalah jerawat, beberapa bahan aktif dapat menjadi pilihan untuk membantu mengontrol kondisi kulit.
Niacinamide dikenal mampu membantu mengurangi produksi minyak berlebih sekaligus meredakan kemerahan akibat peradangan.
Sementara azelaic acid dapat membantu membersihkan pori-pori, melawan bakteri penyebab jerawat, serta menyamarkan bekas jerawat yang mengganggu penampilan.
Untuk kasus jerawat yang lebih aktif, benzoyl peroxide sering digunakan karena efektif membunuh bakteri penyebab jerawat dan membantu mengurangi peradangan. Namun, bahan ini perlu digunakan secara hati-hati karena berpotensi menyebabkan kulit kering dan iritasi pada sebagian orang.
Ada pula salicylic acid yang bekerja membantu mengangkat sel kulit mati dan membersihkan minyak yang menyumbat pori-pori.
Meski banyak dijual bebas, Dr. Ho menyarankan penggunaan bahan aktif dilakukan secara bertahap agar kulit memiliki waktu untuk beradaptasi.
"Jika jerawat terus berlanjut atau semakin parah, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kulit untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat," katanya.
3. Kesalahan yang sering dilakukan remaja
Selain memilih produk yang tepat, ada beberapa kebiasaan yang justru dapat memperburuk kondisi kulit.
Salah satunya adalah mencuci wajah terlalu sering. Banyak remaja mengira wajah yang berminyak harus dibersihkan berkali-kali dalam sehari. Padahal, kebiasaan tersebut dapat merusak lapisan pelindung alami kulit dan memicu iritasi.
Dr. Ho menyarankan mencuci wajah maksimal dua kali sehari, lalu dilanjutkan dengan penggunaan pelembap.
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah penggunaan bahan aktif seperti AHA, BHA, dan retinoid secara berlebihan karena terpengaruh tren skincare di media sosial. Alih-alih membuat kulit lebih cepat membaik, penggunaan berlebihan justru dapat menyebabkan kemerahan, kulit sensitif, hingga jerawat semakin meradang.
Tak kalah penting, kebiasaan menyentuh wajah atau memencet jerawat juga sebaiknya dihentikan. Tangan yang tidak bersih dapat memindahkan bakteri ke kulit dan memperparah peradangan.
4. Pola hidup ikut menentukan kondisi kulit
Merawat kulit tidak cukup hanya dari luar. Dr. Ho menegaskan bahwa gaya hidup juga memiliki peran besar terhadap kesehatan kulit remaja.
Pola makan tinggi gula, produk susu tertentu, serta makanan dengan indeks glikemik tinggi diketahui dapat berkontribusi terhadap munculnya jerawat pada sebagian orang.
Selain itu, kurang tidur dan tingkat stres yang tinggi juga dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh. Kondisi ini memicu peningkatan produksi minyak dan peradangan yang membuat jerawat lebih mudah muncul.
Bagi anak usia 8 hingga 12 tahun yang aktif berolahraga atau sering berkeringat, mandi setelah beraktivitas atau membersihkan tubuh menggunakan tisu basah hipoalergenik juga dapat membantu mengurangi risiko penumpukan bakteri di kulit.
5. Kunci utamanya konsisten
Jerawat dan kulit berminyak memang menjadi bagian yang umum terjadi selama masa pubertas. Namun, kondisi tersebut bukan berarti harus dibiarkan begitu saja.
Dengan rutinitas skincare yang sederhana, penggunaan produk yang sesuai kebutuhan kulit, serta didukung pola hidup sehat, remaja dapat menjaga kesehatan kulit sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Karena pada akhirnya, kulit yang sehat bukan soal memiliki rutinitas skincare paling mahal atau paling panjang, melainkan tentang konsistensi merawat kulit sesuai kebutuhan di setiap fase pertumbuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)