FITNESS & HEALTH

Sering Sesak Naik Tangga? Jangan Langsung Salahkan Umur, Bisa Jadi Katup Jantung Bermasalah

A. Firdaus
Jumat 07 Agustus 2026 / 10:23
Ringkasnya gini..
  • Gejala tersebut juga bisa menjadi tanda penyakit katup jantung, kondisi yang sering berkembang perlahan.
  • Salah satu tantangan penyakit katup jantung adalah gejalanya muncul secara perlahan.
  • Gangguan ringan biasanya cukup menjalani kontrol rutin dan pemeriksaan berkala.
Jakarta: Pernah merasa napas terengah-engah saat naik tangga, cepat lelah meski aktivitas ringan, atau jantung tiba-tiba berdebar? Banyak orang menganggap keluhan seperti ini sebagai efek kurang olahraga, kelelahan, atau pertambahan usia.

Padahal, gejala tersebut juga bisa menjadi tanda penyakit katup jantung, kondisi yang sering berkembang perlahan sehingga kerap tidak disadari hingga fungsi jantung mulai menurun.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Vera Citra Setiawan Hoei, BMedSci., Sp.B.T.K.V., Subsp.JD(K), menjelaskan bahwa jantung memiliki empat katup, yakni katup mitral, aorta, trikuspid, dan pulmonal. Keempatnya berfungsi seperti pintu satu arah yang memastikan darah mengalir ke jalur yang benar.
"Ketika katup menyempit atau tidak menutup sempurna, aliran darah menjadi terganggu sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan pembesaran jantung, gangguan irama, hingga penurunan fungsi pompa jantung," jelas dr. Vera.
 

Apa itu penyakit katup jantung?


Gangguan katup jantung umumnya terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

- Stenosis, ketika katup menyempit sehingga tidak bisa terbuka secara optimal.
- Regurgitasi, yaitu kondisi katup bocor sehingga darah mengalir kembali ke ruang jantung sebelumnya.
- Kelainan bawaan, yakni bentuk katup sudah tidak normal sejak lahir.

Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gagal jantung, gangguan irama jantung, hingga terbentuknya bekuan darah.
 

Penyebabnya bukan cuma faktor usia


Meski lebih sering ditemukan pada orang lanjut usia akibat proses pengapuran katup, penyakit ini juga bisa dialami anak-anak maupun orang dewasa.

Beberapa penyebabnya antara lain:

- Demam rematik akibat infeksi tenggorokan yang tidak ditangani.
- Endokarditis atau infeksi pada katup jantung.
- Kelainan katup sejak lahir.
- Hipertensi.
- Penyakit jantung koroner.
- Riwayat serangan jantung atau gagal jantung.

Pada ibu hamil, gangguan katup yang sebelumnya tidak bergejala juga bisa mulai terasa karena beban kerja jantung meningkat selama kehamilan.
 

Jangan abaikan gejalanya


Salah satu tantangan penyakit katup jantung adalah gejalanya muncul secara perlahan. Bahkan, tingkat keluhan tidak selalu mencerminkan tingkat keparahan kerusakan katup.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

- Sesak napas saat beraktivitas atau ketika berbaring.
- Mudah lelah dan stamina terus menurun.
- Jantung berdebar atau berdetak tidak teratur.
- Nyeri atau rasa tertekan di dada.
- Pusing hingga hampir pingsan.
- Kaki, pergelangan kaki, atau perut membengkak.

"Sebagian pasien dengan kerusakan katup yang cukup berat justru hanya merasakan gejala ringan karena tubuh telah beradaptasi secara bertahap. Karena itu, pemeriksaan sangat penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya," ujar dr. Vera.
 

Bagaimana cara memastikan diagnosis?


Pemeriksaan utama untuk mendeteksi gangguan katup jantung adalah ekokardiografi (USG jantung). Pemeriksaan ini membantu dokter melihat kondisi katup, tingkat penyempitan atau kebocoran, ukuran ruang jantung, hingga kekuatan pompa jantung.

Jika diperlukan, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan tambahan seperti EKG, rontgen dada, CT scan, MRI jantung, tes latih jantung, hingga kateterisasi jantung.

Apakah semua pasien harus operasi?

Jawabannya tidak.

Menurut dr. Vera, pasien dengan gangguan ringan biasanya cukup menjalani kontrol rutin dan pemeriksaan berkala. Dokter juga dapat memberikan obat untuk mengontrol tekanan darah, irama jantung, mengurangi penumpukan cairan, atau mencegah terbentuknya bekuan darah.

Sementara pada kondisi yang lebih berat, pilihan terapi bisa berupa pelebaran katup menggunakan balon, operasi perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, hingga prosedur Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) pada pasien tertentu.

Selain mengikuti pengobatan, pasien juga dianjurkan menjaga tekanan darah, gula darah, kolesterol, berhenti merokok, serta menjaga kesehatan gigi dan mulut karena infeksi di area mulut dapat meningkatkan risiko gangguan pada katup jantung.

Apabila muncul sesak napas berat, nyeri dada hebat, pingsan, atau bibir membiru, segera cari pertolongan medis karena kondisi tersebut bisa menjadi tanda keadaan darurat.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menegaskan bahwa keberhasilan penanganan penyakit katup jantung tidak hanya bergantung pada tindakan medis, tetapi juga diagnosis yang tepat dan penanganan secara menyeluruh.

"Tujuan kami bukan hanya mengatasi kelainan katup, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi jantung dan meningkatkan kualitas hidup pasien melalui layanan yang terintegrasi, mulai dari diagnosis, terapi, tindakan, hingga rehabilitasi," tutupnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH