FITNESS & HEALTH
Nyaris tak Bergejala, Penyakit Jantung Rematik Diam-diam Mengintai Anak Sekolah
A. Firdaus
Selasa 04 Agustus 2026 / 15:15
- Radang tenggorokan pada anak sering kali dianggap sebagai penyakit ringan.
- Yayasan Jantung Indonesia (YJI) melanjutkan program nasional skrining Penyakit Jantung Rematik sebagai upaya mendeteksi kasus sejak dini.
- Penyakit Jantung Rematik merupakan komplikasi akibat infeksi bakteri Streptococcus yang tidak diobati secara tuntas.
Jakarta: Radang tenggorokan pada anak sering kali dianggap sebagai penyakit ringan. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi Penyakit Jantung Rematik (PJR) yang berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung.
Karena itu, Yayasan Jantung Indonesia (YJI) melanjutkan program nasional skrining Penyakit Jantung Rematik sebagai upaya mendeteksi kasus sejak dini. Setelah Malang dan Tulang Bawang (Lampung), Kabupaten Bekasi menjadi lokasi ketiga pelaksanaan program tersebut.
Pada tahap pertama, skrining dilakukan di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari 01, Kabupaten Bekasi. Sebanyak 958 siswa menjalani pemeriksaan menggunakan alat ekokardiografi portabel untuk mendeteksi kelainan katup jantung sejak dini.
Program ini merupakan bagian dari target YJI untuk menjangkau 8.000 siswa sekolah dasar di empat wilayah prioritas, yakni Malang, Tulang Bawang, Bekasi, dan Minahasa Utara.
Penyakit Jantung Rematik merupakan komplikasi akibat infeksi bakteri Streptococcus yang tidak diobati secara tuntas. Penyakit ini paling sering menyerang anak usia 5–15 tahun.
Menurut data yang dipaparkan Yayasan Jantung Indonesia:
- Sekitar 60 persen kasus radang tenggorokan berulang berpotensi berkembang menjadi Penyakit Jantung Rematik.
- Lebih dari 50 persen penderita tidak menunjukkan gejala hingga penyakit memasuki stadium lanjut.
- Penderita PJR berat memiliki risiko kematian dini dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
Ketua Bidang Medis sekaligus Project Director Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia, dr. Ario Soeryo Kuntjoro, Sp.JP(K), mengatakan skrining di sekolah menjadi langkah penting karena kelompok usia tersebut merupakan yang paling rentan.
"Dengan deteksi dini, kita bisa mencegah kerusakan jantung permanen dan memberikan intervensi sebelum terlambat," ujarnya.
Tak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan, program ini juga diisi dengan edukasi bagi guru dan orang tua mengenai gejala awal Penyakit Jantung Rematik, pentingnya mengobati infeksi tenggorokan hingga tuntas, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan di rumah.
Ketua Bidang Komunikasi sekaligus Project Leader Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan, menilai lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam mengenali gejala penyakit sejak dini.
"Guru dan orang tua adalah garda terdepan. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa mengenali gejala awal dan segera mengambil tindakan," katanya.
Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Annisa Pohan Yudhoyono, menegaskan setiap anak berhak tumbuh dengan jantung yang sehat. Menurutnya, program skrining bukan sekadar pemeriksaan kesehatan, tetapi investasi jangka panjang untuk mencegah kecacatan permanen dan kematian dini akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Selain membantu menemukan kasus lebih awal, program ini juga diharapkan mampu menekan biaya pengobatan jangka panjang karena penanganan penyakit pada stadium lanjut jauh lebih kompleks dan mahal.
Hasil skrining dari Kabupaten Bekasi, bersama data dari daerah lain, nantinya akan dianalisis dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah sebagai dasar rekomendasi kebijakan skrining Penyakit Jantung Rematik di sekolah-sekolah Indonesia.
Program ini didukung oleh penggunaan perangkat ultrasound portabel Lumify dari Philips melalui kemitraan Philips Foundation dan World Heart Federation (WHF), sehingga layanan deteksi dini dapat menjangkau lebih banyak anak di daerah dengan akses terbatas terhadap layanan spesialis jantung.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Karena itu, Yayasan Jantung Indonesia (YJI) melanjutkan program nasional skrining Penyakit Jantung Rematik sebagai upaya mendeteksi kasus sejak dini. Setelah Malang dan Tulang Bawang (Lampung), Kabupaten Bekasi menjadi lokasi ketiga pelaksanaan program tersebut.
Pada tahap pertama, skrining dilakukan di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari 01, Kabupaten Bekasi. Sebanyak 958 siswa menjalani pemeriksaan menggunakan alat ekokardiografi portabel untuk mendeteksi kelainan katup jantung sejak dini.
Program ini merupakan bagian dari target YJI untuk menjangkau 8.000 siswa sekolah dasar di empat wilayah prioritas, yakni Malang, Tulang Bawang, Bekasi, dan Minahasa Utara.
Berawal dari radang tenggorokan
Penyakit Jantung Rematik merupakan komplikasi akibat infeksi bakteri Streptococcus yang tidak diobati secara tuntas. Penyakit ini paling sering menyerang anak usia 5–15 tahun.
Menurut data yang dipaparkan Yayasan Jantung Indonesia:
- Sekitar 60 persen kasus radang tenggorokan berulang berpotensi berkembang menjadi Penyakit Jantung Rematik.
- Lebih dari 50 persen penderita tidak menunjukkan gejala hingga penyakit memasuki stadium lanjut.
- Penderita PJR berat memiliki risiko kematian dini dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
Ketua Bidang Medis sekaligus Project Director Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia, dr. Ario Soeryo Kuntjoro, Sp.JP(K), mengatakan skrining di sekolah menjadi langkah penting karena kelompok usia tersebut merupakan yang paling rentan.
"Dengan deteksi dini, kita bisa mencegah kerusakan jantung permanen dan memberikan intervensi sebelum terlambat," ujarnya.
Guru dan orang tua ikut diedukasi
Tak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan, program ini juga diisi dengan edukasi bagi guru dan orang tua mengenai gejala awal Penyakit Jantung Rematik, pentingnya mengobati infeksi tenggorokan hingga tuntas, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan di rumah.
Ketua Bidang Komunikasi sekaligus Project Leader Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan, menilai lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam mengenali gejala penyakit sejak dini.
"Guru dan orang tua adalah garda terdepan. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa mengenali gejala awal dan segera mengambil tindakan," katanya.
Investasi kesehatan jangka panjang
Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Annisa Pohan Yudhoyono, menegaskan setiap anak berhak tumbuh dengan jantung yang sehat. Menurutnya, program skrining bukan sekadar pemeriksaan kesehatan, tetapi investasi jangka panjang untuk mencegah kecacatan permanen dan kematian dini akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Selain membantu menemukan kasus lebih awal, program ini juga diharapkan mampu menekan biaya pengobatan jangka panjang karena penanganan penyakit pada stadium lanjut jauh lebih kompleks dan mahal.
Hasil skrining dari Kabupaten Bekasi, bersama data dari daerah lain, nantinya akan dianalisis dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah sebagai dasar rekomendasi kebijakan skrining Penyakit Jantung Rematik di sekolah-sekolah Indonesia.
Program ini didukung oleh penggunaan perangkat ultrasound portabel Lumify dari Philips melalui kemitraan Philips Foundation dan World Heart Federation (WHF), sehingga layanan deteksi dini dapat menjangkau lebih banyak anak di daerah dengan akses terbatas terhadap layanan spesialis jantung.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)