FITNESS & HEALTH
Bisakah Hamil Meski Berhubungan Seks saat Menstruasi? Ini Penjelasan Medisnya
A. Firdaus
Sabtu 11 Juli 2026 / 20:10
- Peluang hamil saat berhubungan intim di masa menstruasi memang lebih rendah dibandingkan saat masa subur.
- Pada umumnya, siklus menstruasi berlangsung sekitar 28 hingga 35 hari.
- Para ahli tidak menyarankan menjadikan waktu menstruasi sebagai metode kontrasepsi alami.
Jakarta: Masih banyak pasangan suami istri yang percaya bahwa berhubungan seks saat menstruasi pasti tidak akan menyebabkan kehamilan. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak benar jika dianggap sebagai jaminan bahwa kehamilan tidak mungkin terjadi.
Secara medis, peluang hamil saat Pasutri berhubungan intim di masa menstruasi memang lebih rendah dibandingkan saat masa subur. Namun, kemungkinannya tidak benar-benar nol, terutama pada perempuan yang memiliki siklus menstruasi lebih pendek.
Melansir Alodokter, kehamilan terjadi ketika sperma berhasil membuahi sel telur yang dilepaskan saat ovulasi. Waktu ovulasi setiap perempuan dapat berbeda-beda, bergantung pada panjang siklus menstruasinya.
Pada umumnya, siklus menstruasi berlangsung sekitar 28 hingga 35 hari. Dalam siklus 28 hari, ovulasi biasanya terjadi sekitar hari ke-14 yang dihitung sejak hari pertama menstruasi. Karena itu, hubungan seksual yang dilakukan saat awal menstruasi umumnya masih berada cukup jauh dari masa ovulasi sehingga peluang terjadinya pembuahan relatif kecil. Namun, kondisi tersebut tidak berlaku untuk semua perempuan.
Perempuan dengan siklus menstruasi yang lebih pendek, misalnya sekitar 22 hari atau kurang, dapat mengalami ovulasi lebih cepat, bahkan sekitar hari ketujuh siklus.
Jika menstruasi berlangsung hingga enam atau tujuh hari, ovulasi dapat terjadi tidak lama setelah perdarahan berhenti. Dalam kondisi seperti ini, sperma yang masuk ke saluran reproduksi saat akhir menstruasi masih berpotensi bertahan hidup hingga lima atau enam hari.
Artinya, ketika ovulasi terjadi beberapa hari kemudian, sperma masih dapat membuahi sel telur sehingga kehamilan tetap mungkin terjadi.
Karena masih ada peluang terjadinya kehamilan, para ahli tidak menyarankan menjadikan waktu menstruasi sebagai metode kontrasepsi alami.
Selain untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, penggunaan kondom juga tetap penting karena dapat membantu mengurangi risiko penularan infeksi menular seksual (IMS). Perlu diketahui, darah menstruasi bukanlah pelindung dari penularan penyakit seksual.
Apabila belum merencanakan kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi yang tepat tetap menjadi pilihan paling efektif untuk mencegah kehamilan. Jika memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur atau ingin mengetahui masa subur dengan lebih akurat, konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi dapat membantu menentukan metode yang paling sesuai.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Secara medis, peluang hamil saat Pasutri berhubungan intim di masa menstruasi memang lebih rendah dibandingkan saat masa subur. Namun, kemungkinannya tidak benar-benar nol, terutama pada perempuan yang memiliki siklus menstruasi lebih pendek.
Melansir Alodokter, kehamilan terjadi ketika sperma berhasil membuahi sel telur yang dilepaskan saat ovulasi. Waktu ovulasi setiap perempuan dapat berbeda-beda, bergantung pada panjang siklus menstruasinya.
Pada umumnya, siklus menstruasi berlangsung sekitar 28 hingga 35 hari. Dalam siklus 28 hari, ovulasi biasanya terjadi sekitar hari ke-14 yang dihitung sejak hari pertama menstruasi. Karena itu, hubungan seksual yang dilakukan saat awal menstruasi umumnya masih berada cukup jauh dari masa ovulasi sehingga peluang terjadinya pembuahan relatif kecil. Namun, kondisi tersebut tidak berlaku untuk semua perempuan.
Siklus menstruasi pendek meningkatkan peluang
Perempuan dengan siklus menstruasi yang lebih pendek, misalnya sekitar 22 hari atau kurang, dapat mengalami ovulasi lebih cepat, bahkan sekitar hari ketujuh siklus.
Jika menstruasi berlangsung hingga enam atau tujuh hari, ovulasi dapat terjadi tidak lama setelah perdarahan berhenti. Dalam kondisi seperti ini, sperma yang masuk ke saluran reproduksi saat akhir menstruasi masih berpotensi bertahan hidup hingga lima atau enam hari.
Artinya, ketika ovulasi terjadi beberapa hari kemudian, sperma masih dapat membuahi sel telur sehingga kehamilan tetap mungkin terjadi.
Jangan jadikan menstruasi sebagai metode kontrasepsi
Karena masih ada peluang terjadinya kehamilan, para ahli tidak menyarankan menjadikan waktu menstruasi sebagai metode kontrasepsi alami.
Selain untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, penggunaan kondom juga tetap penting karena dapat membantu mengurangi risiko penularan infeksi menular seksual (IMS). Perlu diketahui, darah menstruasi bukanlah pelindung dari penularan penyakit seksual.
Apabila belum merencanakan kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi yang tepat tetap menjadi pilihan paling efektif untuk mencegah kehamilan. Jika memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur atau ingin mengetahui masa subur dengan lebih akurat, konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi dapat membantu menentukan metode yang paling sesuai.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)