FITNESS & HEALTH
Kemarau Datang, ISPA Jangan Ikutan! Dokter Ungkap Jurus Lindungi Anak
A. Firdaus
Sabtu 15 Agustus 2026 / 09:11
- Udara yang panas dan kering dapat membuat selaput lendir atau mukosa di saluran pernapasan menjadi kering.
- Mukosa memiliki peran penting sebagai salah satu pertahanan saluran pernapasan.
- Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan kebutuhan cairan anak tercukupi.
Jakarta: Musim kemarau identik dengan cuaca panas, udara kering, dan debu yang beterbangan. Kondisi ini bukan cuma bikin tenggorokan terasa kering, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama pada anak.
Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp, mengatakan udara yang panas dan kering dapat membuat selaput lendir atau mukosa di saluran pernapasan menjadi kering, terlebih ketika tubuh kekurangan cairan.
Padahal, mukosa memiliki peran penting sebagai salah satu pertahanan saluran pernapasan.
“Saluran selaput lendir di saluran napas anak itu berfungsi untuk memfilter atau menyaring bahan-bahan yang masuk ke dalam saluran napas, termasuk bakteri, virus, kemudian juga polutan," ucap Dr. Nastiti melansir Antara.
Menurut Dr. Nastiti, ketika fungsi selaput lendir menurun, risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat meningkat.
Masalah lainnya datang dari kualitas udara. Curah hujan yang rendah membuat debu dan polutan lebih mudah beterbangan sehingga berpotensi lebih banyak terhirup.
Kondisi tersebut bisa semakin terasa pada awal musim kemarau ketika terjadi perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam.
“Seringkali di awal-awal musim kemarau itu kan terjadi perbedaan suhu yang besar. Perbedaan panas di siang hari dan dingin di malam hari yang ekstrem ini juga bisa memengaruhi daya tahan tubuh anak sehingga mudah terkena ISPA,” ujar Dr. Nastiti.
Karena kondisi lingkungan di luar rumah tidak selalu bisa dikendalikan, orang tua bisa melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi paparan.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengecek indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) sebelum mengajak anak beraktivitas di luar rumah.
Jika kualitas udara sedang buruk, sebaiknya aktivitas outdoor dibatasi. Apabila anak memang harus keluar rumah ketika udara kurang ideal, penggunaan masker dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan polutan.
Selain itu, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk tetap penting untuk membantu mengurangi risiko penularan penyakit.
Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan kebutuhan cairan anak tercukupi.
Nastiti menekankan bahwa hidrasi yang baik tidak hanya membantu mencegah dehidrasi. Cairan tubuh yang cukup juga membantu menjaga selaput lendir saluran pernapasan tetap lembap sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
“Yang paling penting memang minum yang cukup. Hidrasi yang cukup, jangan sampai tubuh dalam kondisi dehidrasi," kata Dr. Nastiti.
Selain cukup minum, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang yang terdiri atas protein, karbohidrat, sayuran, dan buah-buahan.
Makanan yang mengandung vitamin C dan vitamin A juga dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi untuk mendukung kesehatan tubuh.
Perlindungan anak dari gangguan pernapasan tidak berhenti di luar rumah. Kualitas udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan.
Dr. Nastiti mengingatkan orang tua untuk menghindari sumber polusi yang sebenarnya dapat dikendalikan, terutama asap rokok.
Asap dari kegiatan memasak, membakar sampah, maupun sumber polusi lainnya di sekitar rumah juga perlu diminimalkan agar udara yang dihirup anak tetap lebih sehat.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah dampak kesehatan selama musim kemarau, termasuk ISPA.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan minimnya tutupan awan pada musim kemarau dapat membuat suhu udara terasa lebih terik di sejumlah wilayah. Penurunan kualitas udara akibat debu dan potensi asap kebakaran juga dapat meningkatkan paparan terhadap gangguan pernapasan.
Jadi, menghadapi musim kemarau bukan cuma soal menyediakan kipas atau mencari tempat teduh. Pastikan anak cukup minum, cek
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp, mengatakan udara yang panas dan kering dapat membuat selaput lendir atau mukosa di saluran pernapasan menjadi kering, terlebih ketika tubuh kekurangan cairan.
Padahal, mukosa memiliki peran penting sebagai salah satu pertahanan saluran pernapasan.
“Saluran selaput lendir di saluran napas anak itu berfungsi untuk memfilter atau menyaring bahan-bahan yang masuk ke dalam saluran napas, termasuk bakteri, virus, kemudian juga polutan," ucap Dr. Nastiti melansir Antara.
Menurut Dr. Nastiti, ketika fungsi selaput lendir menurun, risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat meningkat.
Kemarau Bukan Cuma Soal Panas
Masalah lainnya datang dari kualitas udara. Curah hujan yang rendah membuat debu dan polutan lebih mudah beterbangan sehingga berpotensi lebih banyak terhirup.
Kondisi tersebut bisa semakin terasa pada awal musim kemarau ketika terjadi perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam.
“Seringkali di awal-awal musim kemarau itu kan terjadi perbedaan suhu yang besar. Perbedaan panas di siang hari dan dingin di malam hari yang ekstrem ini juga bisa memengaruhi daya tahan tubuh anak sehingga mudah terkena ISPA,” ujar Dr. Nastiti.
Karena kondisi lingkungan di luar rumah tidak selalu bisa dikendalikan, orang tua bisa melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi paparan.
Cek Kualitas Udara Sebelum Anak Main di Luar
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengecek indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) sebelum mengajak anak beraktivitas di luar rumah.
Jika kualitas udara sedang buruk, sebaiknya aktivitas outdoor dibatasi. Apabila anak memang harus keluar rumah ketika udara kurang ideal, penggunaan masker dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan polutan.
Selain itu, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk tetap penting untuk membantu mengurangi risiko penularan penyakit.
Jangan Tunggu Haus untuk Kasih Anak Minum
Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan kebutuhan cairan anak tercukupi.
Nastiti menekankan bahwa hidrasi yang baik tidak hanya membantu mencegah dehidrasi. Cairan tubuh yang cukup juga membantu menjaga selaput lendir saluran pernapasan tetap lembap sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
“Yang paling penting memang minum yang cukup. Hidrasi yang cukup, jangan sampai tubuh dalam kondisi dehidrasi," kata Dr. Nastiti.
Selain cukup minum, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang yang terdiri atas protein, karbohidrat, sayuran, dan buah-buahan.
Makanan yang mengandung vitamin C dan vitamin A juga dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi untuk mendukung kesehatan tubuh.
Rumah Juga Harus Bebas Polusi
Perlindungan anak dari gangguan pernapasan tidak berhenti di luar rumah. Kualitas udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan.
Dr. Nastiti mengingatkan orang tua untuk menghindari sumber polusi yang sebenarnya dapat dikendalikan, terutama asap rokok.
Asap dari kegiatan memasak, membakar sampah, maupun sumber polusi lainnya di sekitar rumah juga perlu diminimalkan agar udara yang dihirup anak tetap lebih sehat.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah dampak kesehatan selama musim kemarau, termasuk ISPA.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan minimnya tutupan awan pada musim kemarau dapat membuat suhu udara terasa lebih terik di sejumlah wilayah. Penurunan kualitas udara akibat debu dan potensi asap kebakaran juga dapat meningkatkan paparan terhadap gangguan pernapasan.
Jadi, menghadapi musim kemarau bukan cuma soal menyediakan kipas atau mencari tempat teduh. Pastikan anak cukup minum, cek
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)