FITNESS & HEALTH
Kabar Pes Pneumonia di Rusia, Seberapa Bahaya Menurut Para Ahli?
Yatin Suleha
Selasa 06 Oktober 2026 / 19:49
- Seorang staf laboratorium dilaporkan meninggal dunia lantaran diduga tertular penyakit pes (pneumonic plague).
- Hingga bikin sekitar 200 orang harus berada dalam pemantauan medis super ketat.
- Langkah isolasi dan pelacakan kontak erat segera dijalankan di area terdampak buat memastikan bakteri enggak menyebar ke luar wilayah tersebut.
Jakarta: Kabar mengejutkan datang dari wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia. Seorang staf laboratorium dilaporkan meninggal dunia lantaran diduga tertular penyakit pes (pneumonic plague), hingga bikin sekitar 200 orang harus berada dalam pemantauan medis super ketat.
Mengutip laporan NBC News, korban merupakan perempuan berusia 28 tahun yang bekerja di Anti-Plague Research Institute area Shelekhov, enggak jauh dari Irkutsk.
Insiden ini diduga terjadi akibat korban enggak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi bakteri pes (Yersinia pestis) pas lagi mengumpulkan sampel.
Dalam Euro News dibeberkan bahwa temuan kasus pes pneumonia di wilayah Rusia langsung mendapat penanganan ketat dari otoritas kesehatan setempat.
Langkah isolasi dan pelacakan kontak erat segera dijalankan di area terdampak buat memastikan bakteri enggak menyebar ke luar wilayah tersebut.
Dr Glenn Wortmann of MedStar Washington Hospital Center dalam sumber yang sama memaparkan meskipun pes pneumonia tergolong jenis yang paling berisiko karena menular lewat percikan udara, para ahli menilai risiko penularan secara global masih sangat rendah.
Kasus ini bersifat lokal dan sistem pengawasan medis yang sigap mampu menahan potensi penularan yang lebih luas.
Dr. Glenn Wortmann bilang kalau pes pneumonia itu enggak gampang menular dan dapat diobati pakai antibiotik.
Dia juga nyebutin kalau kemungkinan penyakit ini menyebar luas di Rusia atau sampai ke Amerika Serikat itu kecil banget.
Bakteri Yersinia pestis penyebab infeksi ini sebetulnya masih sangat mempan diobati pakai medis modern.
Pemberian antibiotik secara cepat pada fase awal terbukti ampuh menyembuhkan pasien dan memutus rantai infeksi dengan efektif.
Organisasi kesehatan mengimbau publik buat tidak panik berlebihan. Penanganan di lapangan sudah berjalan sesuai standar internasional, jadi potensi terjadinya wabah besar sangat kecil selama langkah pencegahan terus dikawal ketat.
(TIN)
Mengutip laporan NBC News, korban merupakan perempuan berusia 28 tahun yang bekerja di Anti-Plague Research Institute area Shelekhov, enggak jauh dari Irkutsk.
Insiden ini diduga terjadi akibat korban enggak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi bakteri pes (Yersinia pestis) pas lagi mengumpulkan sampel.
Laporan kasus dan respons cepat di lapangan
Dalam Euro News dibeberkan bahwa temuan kasus pes pneumonia di wilayah Rusia langsung mendapat penanganan ketat dari otoritas kesehatan setempat.
Langkah isolasi dan pelacakan kontak erat segera dijalankan di area terdampak buat memastikan bakteri enggak menyebar ke luar wilayah tersebut.
Dr Glenn Wortmann of MedStar Washington Hospital Center dalam sumber yang sama memaparkan meskipun pes pneumonia tergolong jenis yang paling berisiko karena menular lewat percikan udara, para ahli menilai risiko penularan secara global masih sangat rendah.
(Dalam Euro News dibeberkan bahwa temuan kasus pes pneumonia di wilayah Rusia langsung mendapat penanganan ketat dari otoritas kesehatan setempat. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kasus ini bersifat lokal dan sistem pengawasan medis yang sigap mampu menahan potensi penularan yang lebih luas.
Dia juga nyebutin kalau kemungkinan penyakit ini menyebar luas di Rusia atau sampai ke Amerika Serikat itu kecil banget.
Pengobatan dan penanganan medis
Bakteri Yersinia pestis penyebab infeksi ini sebetulnya masih sangat mempan diobati pakai medis modern.
Pemberian antibiotik secara cepat pada fase awal terbukti ampuh menyembuhkan pasien dan memutus rantai infeksi dengan efektif.
Masyarakat imbau tetap tenang
Organisasi kesehatan mengimbau publik buat tidak panik berlebihan. Penanganan di lapangan sudah berjalan sesuai standar internasional, jadi potensi terjadinya wabah besar sangat kecil selama langkah pencegahan terus dikawal ketat.
(TIN)