FITNESS & HEALTH
Kasus Dugaan Wabah Pes di Siberia, Pekerja Lab Meninggal & 200 Orang Dipantau
Yatin Suleha
Senin 05 Oktober 2026 / 20:09
- Kabar mengejutkan datang dari wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia.
- Seorang pekerja laboratorium dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan terinfeksi penyakit pes (pneumonic plague).
- Hingga membuat sekitar 200 orang harus menjalani pemantauan medis secara ketat.
Jakarta: Kabar mengejutkan datang dari wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia. Seorang pekerja laboratorium dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan terinfeksi penyakit pes (pneumonic plague), hingga membuat sekitar 200 orang harus menjalani pemantauan medis secara ketat.
Dilansir dari NBC News, korban merupakan pekerja wanita berusia 28 tahun di Anti-Plague Research Institute wilayah Shelekhov, dekat Irkutsk.
Ia diduga tak sengaja memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri pes (Yersinia pestis) saat sedang mengumpulkan sampel.
Setelah insiden tersebut, korban mengalami gejala pneumonia berat, dirawat menggunakan ventilator, hingga akhirnya meninggal dunia.
Otoritas setempat langsung mengarantina rumah sakit tempat korban dirawat dan melacak orang-orang yang sempat berkontak dengannya.
Sekitar 197 orang yang menjadi kontak erat ditempatkan di bawah pengawasan medis secara ketat, termasuk lebih dari 100 orang di antaranya diisolasi di bangsal rumah sakit.
Tindakan antisipasi darurat diluncurkan dengan cepat mengingat jenis pneumonic plague ini dapat menular antarmanusia melalui percikan droplet pernapasan.
"Banyak rincian yang belum dikonfirmasi," kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS seperti dikutip di ABC News.
"Kami mendorong pihak berwenang Rusia untuk membagikan informasi yang akurat secara cepat dan terbuka."
Juru bicara tersebut menyatakan bahwa terdapat "laporan mengenai kasus fatal yang diduga wabah pes paru-paru (pneumonic plague)" di Oblast Irkutsk.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan pada hari Senin bahwa meskipun "perjalanan antara AS dan Rusia sangat terbatas", jika "hal seperti itu sampai meloloskan diri, penyebarannya bisa terjadi dengan cepat."
Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat "mengawasi dan memantaunya secara ketat," tambahnya.
"Saya rasa ini bukan alasan untuk panik, tetapi ini menjadi alasan untuk fokus dan tetap mengawasinya."
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah mengetahui laporan mengenai seorang pekerja laboratorium yang meninggal akibat "pneumonia berat", tetapi "belum ada penyebab kematian yang dikonfirmasi secara resmi."
Dr. Ashish Jha, mantan koordinator penanganan Covid Gedung Putih, menyampaikan kepada NBC News bahwa "jauh lebih banyak" informasi dan transparansi yang dibutuhkan dari Moskow.
Ia mengatakan jika ini merupakan kasus terisolasi dari wabah pes paru-paru (pneumonic plague) dan tidak ada korban jiwa lainnya, "hal ini kemungkinan besar akan berakhir di situ saja."
Namun, "sebenarnya sangat sulit" bagi pes paru-paru untuk menular antarmanusia, kata Jha.
"Kita mungkin akan melihat beberapa orang lagi yang terinfeksi, tetapi peluang hal ini berkembang menjadi wabah yang lebih besar, apalagi pandemi global, sangatlah rendah," ujarnya.
Gubernur wilayah Irkutsk menyampaikan bahwa hasil tes laboratorium terhadap ratusan orang yang dipantau sejauh ini menunjukkan hasil negatif.
Seluruh kontak erat dilaporkan tak menunjukkan gejala sakit dan kondisi penanganan di lokasi masih terbilang stabil.
Pihak berwenang meminta masyarakat buat tetap tenang dan tak terpengaruh oleh rumor karena semua tindakan penanganan medis sudah berjalan sesuai prosedur.
Saat ditanya oleh NBC News di Moskow mengenai apakah Kremlin memantau perkembangan peristiwa ini, juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Rospotrebnadzor, badan pengawas perlindungan konsumen Rusia, sedang menangani penyelidikan tersebut.
"Pernyataan resmi merekalah yang harus dijadikan acuan—bukan malah memercayai berbagai rumor, spekulasi, dan sejenisnya," ujar Peskov.
"Rospotrebnadzor mempekerjakan para ahli yang sangat berkualifikasi di bidang ini, jadi mari kita simak pernyataan resmi dari mereka."
(TIN)
Dilansir dari NBC News, korban merupakan pekerja wanita berusia 28 tahun di Anti-Plague Research Institute wilayah Shelekhov, dekat Irkutsk.
Ia diduga tak sengaja memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri pes (Yersinia pestis) saat sedang mengumpulkan sampel.
Setelah insiden tersebut, korban mengalami gejala pneumonia berat, dirawat menggunakan ventilator, hingga akhirnya meninggal dunia.
Langkah penanganan dan isolasi darurat
Otoritas setempat langsung mengarantina rumah sakit tempat korban dirawat dan melacak orang-orang yang sempat berkontak dengannya.
Sekitar 197 orang yang menjadi kontak erat ditempatkan di bawah pengawasan medis secara ketat, termasuk lebih dari 100 orang di antaranya diisolasi di bangsal rumah sakit.
Tindakan antisipasi darurat diluncurkan dengan cepat mengingat jenis pneumonic plague ini dapat menular antarmanusia melalui percikan droplet pernapasan.
"Banyak rincian yang belum dikonfirmasi," kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS seperti dikutip di ABC News.
"Kami mendorong pihak berwenang Rusia untuk membagikan informasi yang akurat secara cepat dan terbuka."
Juru bicara tersebut menyatakan bahwa terdapat "laporan mengenai kasus fatal yang diduga wabah pes paru-paru (pneumonic plague)" di Oblast Irkutsk.
Apa kata WHO?
(Rospotrebnadzor, badan pengawas perlindungan konsumen Rusia, sedang menangani penyelidikan mengenai hal ini. Foto: Ilustrasi Pneumonia/Dok. Respiratorylondon)
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan pada hari Senin bahwa meskipun "perjalanan antara AS dan Rusia sangat terbatas", jika "hal seperti itu sampai meloloskan diri, penyebarannya bisa terjadi dengan cepat."
Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat "mengawasi dan memantaunya secara ketat," tambahnya.
"Saya rasa ini bukan alasan untuk panik, tetapi ini menjadi alasan untuk fokus dan tetap mengawasinya."
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah mengetahui laporan mengenai seorang pekerja laboratorium yang meninggal akibat "pneumonia berat", tetapi "belum ada penyebab kematian yang dikonfirmasi secara resmi."
Perlunya transparansi
Dr. Ashish Jha, mantan koordinator penanganan Covid Gedung Putih, menyampaikan kepada NBC News bahwa "jauh lebih banyak" informasi dan transparansi yang dibutuhkan dari Moskow.
Ia mengatakan jika ini merupakan kasus terisolasi dari wabah pes paru-paru (pneumonic plague) dan tidak ada korban jiwa lainnya, "hal ini kemungkinan besar akan berakhir di situ saja."
Namun, "sebenarnya sangat sulit" bagi pes paru-paru untuk menular antarmanusia, kata Jha.
"Kita mungkin akan melihat beberapa orang lagi yang terinfeksi, tetapi peluang hal ini berkembang menjadi wabah yang lebih besar, apalagi pandemi global, sangatlah rendah," ujarnya.
Kondisi terkini dan hasil pemeriksaan
Gubernur wilayah Irkutsk menyampaikan bahwa hasil tes laboratorium terhadap ratusan orang yang dipantau sejauh ini menunjukkan hasil negatif.
Seluruh kontak erat dilaporkan tak menunjukkan gejala sakit dan kondisi penanganan di lokasi masih terbilang stabil.
Pihak berwenang meminta masyarakat buat tetap tenang dan tak terpengaruh oleh rumor karena semua tindakan penanganan medis sudah berjalan sesuai prosedur.
Baca Juga :
Bahayanya Penyakit Pneumonia pada Anak-anak
Saat ditanya oleh NBC News di Moskow mengenai apakah Kremlin memantau perkembangan peristiwa ini, juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Rospotrebnadzor, badan pengawas perlindungan konsumen Rusia, sedang menangani penyelidikan tersebut.
"Pernyataan resmi merekalah yang harus dijadikan acuan—bukan malah memercayai berbagai rumor, spekulasi, dan sejenisnya," ujar Peskov.
"Rospotrebnadzor mempekerjakan para ahli yang sangat berkualifikasi di bidang ini, jadi mari kita simak pernyataan resmi dari mereka."
(TIN)