FITNESS & HEALTH
50+ Wajib Waspada! Cacar Api Bisa Ganggu Aktivitas Harian
A. Firdaus
Sabtu 25 April 2026 / 16:15
- Sebanyak 78% responden khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Sekitar 42% penderita cacar api mengalami nyeri hebat yang mengganggu aktivita.
- Pengeluaran untuk penanganan penyakit ini mencapai Rp27,1 miliar.
Jakarta: Kesadaran masyarakat terhadap Herpes Zoster atau cacar api masih tergolong rendah, meski risiko dan dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Hal ini terungkap dalam survei global terbaru yang dirilis oleh GSK dalam rangka kampanye Shingles Action Week sekaligus mendukung Hari Kesehatan Dunia.
Hasil survei menunjukkan, sebanyak 78% responden khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara 72% lainnya khawatir penyakit ini bisa berujung pada rawat inap jangka panjang. Namun ironisnya, lebih dari separuh responden (54%) mengaku belum pernah membicarakan penyakit ini dengan dokter.
Survei yang melibatkan lebih dari 6.000 orang dewasa usia 50 tahun ke atas di 10 negara ini juga menyoroti kelompok dengan penyakit kronis sebagai pihak yang paling berisiko. Mereka tidak hanya lebih rentan terinfeksi, tetapi juga berpotensi mengalami komplikasi yang lebih serius.
Data menunjukkan, sekitar 42% penderita cacar api mengalami nyeri hebat yang mengganggu aktivitas, dan 33% lainnya menyebut penyakit ini berdampak langsung pada produktivitas harian. Secara global, cacar api bahkan diperkirakan dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa sepanjang hidupnya.
Risiko ini semakin meningkat pada individu dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, diabetes, hingga penyakit paru seperti PPOK atau asma. Di Indonesia, faktor risiko tertinggi ditemukan pada pengidap HIV/AIDS, kanker, dan penyakit autoimun.
Dokter spesialis kulit, Nurwestu Rusetiyanti, menjelaskan bahwa kelompok dengan sistem imun lemah memang lebih rentan. “Risiko lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan kondisi immunokompromi, usia lanjut, serta mereka dengan riwayat penyakit tertentu,” ujarnya.
Dari sisi beban kesehatan, data menunjukkan bahwa dalam periode 2015–2022 terdapat sekitar 390.000 kasus cacar api di sepuluh provinsi besar di Indonesia. Biaya yang ditimbulkan pun tidak sedikit. Pada 2021, pengeluaran untuk penanganan penyakit ini mencapai Rp27,1 miliar, dengan biaya perawatan individu bisa mencapai Rp10 juta untuk rawat inap.
Director of Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia, Reswita Dery Gisriani, menekankan bahwa banyak orang belum menyadari kaitan antara penyakit kronis dan penurunan sistem imun. Padahal, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terkena cacar api.
“Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh memang menurun. Jika disertai penyakit kronis, risikonya bisa semakin besar. Padahal, ini adalah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” jelasnya.
Sayangnya, pemahaman masyarakat masih terbatas. Survei menemukan satu dari empat orang tidak percaya bahwa penyakit kronis memengaruhi sistem imun atau risiko cacar api. Bahkan hampir setengah responden tidak menyadari bahwa kondisi tersebut dapat memperparah gejala.
Melihat kondisi ini, edukasi kesehatan dinilai perlu diperkuat, khususnya bagi kelompok usia 50 tahun ke atas. Memahami faktor risiko dan berkonsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah penting agar cacar api dapat dicegah sejak dini.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan di usia matang bukan hanya soal mengelola penyakit kronis, tetapi juga mengantisipasi risiko lain yang bisa muncul, termasuk cacar api.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Hasil survei menunjukkan, sebanyak 78% responden khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara 72% lainnya khawatir penyakit ini bisa berujung pada rawat inap jangka panjang. Namun ironisnya, lebih dari separuh responden (54%) mengaku belum pernah membicarakan penyakit ini dengan dokter.
Survei yang melibatkan lebih dari 6.000 orang dewasa usia 50 tahun ke atas di 10 negara ini juga menyoroti kelompok dengan penyakit kronis sebagai pihak yang paling berisiko. Mereka tidak hanya lebih rentan terinfeksi, tetapi juga berpotensi mengalami komplikasi yang lebih serius.
Data menunjukkan, sekitar 42% penderita cacar api mengalami nyeri hebat yang mengganggu aktivitas, dan 33% lainnya menyebut penyakit ini berdampak langsung pada produktivitas harian. Secara global, cacar api bahkan diperkirakan dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa sepanjang hidupnya.
Risiko ini semakin meningkat pada individu dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, diabetes, hingga penyakit paru seperti PPOK atau asma. Di Indonesia, faktor risiko tertinggi ditemukan pada pengidap HIV/AIDS, kanker, dan penyakit autoimun.
Dokter spesialis kulit, Nurwestu Rusetiyanti, menjelaskan bahwa kelompok dengan sistem imun lemah memang lebih rentan. “Risiko lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan kondisi immunokompromi, usia lanjut, serta mereka dengan riwayat penyakit tertentu,” ujarnya.
Dari sisi beban kesehatan, data menunjukkan bahwa dalam periode 2015–2022 terdapat sekitar 390.000 kasus cacar api di sepuluh provinsi besar di Indonesia. Biaya yang ditimbulkan pun tidak sedikit. Pada 2021, pengeluaran untuk penanganan penyakit ini mencapai Rp27,1 miliar, dengan biaya perawatan individu bisa mencapai Rp10 juta untuk rawat inap.
Director of Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia, Reswita Dery Gisriani, menekankan bahwa banyak orang belum menyadari kaitan antara penyakit kronis dan penurunan sistem imun. Padahal, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terkena cacar api.
“Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh memang menurun. Jika disertai penyakit kronis, risikonya bisa semakin besar. Padahal, ini adalah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” jelasnya.
Sayangnya, pemahaman masyarakat masih terbatas. Survei menemukan satu dari empat orang tidak percaya bahwa penyakit kronis memengaruhi sistem imun atau risiko cacar api. Bahkan hampir setengah responden tidak menyadari bahwa kondisi tersebut dapat memperparah gejala.
Melihat kondisi ini, edukasi kesehatan dinilai perlu diperkuat, khususnya bagi kelompok usia 50 tahun ke atas. Memahami faktor risiko dan berkonsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah penting agar cacar api dapat dicegah sejak dini.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan di usia matang bukan hanya soal mengelola penyakit kronis, tetapi juga mengantisipasi risiko lain yang bisa muncul, termasuk cacar api.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)