FITNESS & HEALTH
Trauma Masa Kecil Bisa Memicu Siklus Kekerasan, Benarkah?
A. Firdaus
Kamis 25 Juni 2026 / 09:30
- Konsep ini menjelaskan bagaimana pengalaman kekerasan yang dialami seseorang pada masa kecil dapat memengaruhi cara berpikir dan berperilaku saat dewasa.
- Selain keluarga dan pengalaman masa kecil, lingkungan sosial turut memengaruhi pembentukan perilaku seseorang.
- Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan dapat terjadi secara bertahap dan sering kali sulit dikenali sejak awal.
Jakarta: Kasus kekerasan dalam hubungan masih menjadi persoalan yang kerap terjadi di masyarakat. Di balik tindakan tersebut, para ahli menilai ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi seseorang hingga melakukan kekerasan, mulai dari pola asuh, pengalaman masa kecil, hingga lingkungan sosial tempat ia tumbuh.
Psikolog Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, Psikolog mengatakan bahwa dalam psikologi terdapat konsep yang dikenal sebagai siklus kekerasan (cycle of violence). Konsep ini menjelaskan bagaimana pengalaman kekerasan yang dialami seseorang pada masa kecil dapat memengaruhi cara berpikir dan berperilaku saat dewasa.
"Jika sejak kecil seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap pukulan, makian, dan kurungan adalah cara menyelesaikan masalah atau bentuk disiplin, otak mereka akan mencatat bahwa kekerasan itu wajar dilakukan ketika sedang marah atau ingin mengatur orang," ujar Samanta melansir Antara.
Menurut Samanta, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan, baik sebagai korban maupun saksi, berisiko mengalami gangguan perkembangan emosional apabila tidak mendapatkan dukungan dan penanganan yang memadai.
Pengalaman traumatis yang berlangsung dalam waktu lama dapat membentuk cara seseorang merespons konflik, mengelola emosi, hingga membangun relasi dengan orang lain saat dewasa.
Dalam beberapa kasus, individu yang pernah menjadi korban kekerasan berpotensi mengulangi pola yang sama ketika dewasa jika trauma yang dialami tidak pernah diproses atau dipulihkan.
"Ketika dewasa, beberapa orang yang tidak mendapatkan pemulihan trauma akan mengubah peran mereka, dari yang dulunya korban menjadi pelaku agar mereka tidak merasa lemah lagi," jelasnya.
Meski demikian, Samanta menegaskan bahwa pengalaman buruk di masa kecil tidak otomatis membuat seseorang menjadi pelaku kekerasan.
Menurutnya, banyak orang yang berhasil keluar dari pola tersebut berkat dukungan keluarga, lingkungan yang sehat, pendidikan, serta bantuan profesional seperti psikolog atau konselor.
Dengan kata lain, masa lalu memang dapat memengaruhi seseorang, tetapi tidak sepenuhnya menentukan masa depannya.
"Pengalaman masa kecil yang buruk bukan berarti seseorang pasti akan menjadi pelaku kekerasan. Banyak individu yang berhasil memutus siklus tersebut melalui dukungan sosial, edukasi, dan bantuan profesional," katanya.
Selain keluarga dan pengalaman masa kecil, lingkungan sosial turut memengaruhi pembentukan perilaku seseorang. Lingkungan yang minim edukasi emosi atau bahkan menoleransi perilaku agresif dapat memperbesar risiko munculnya tindakan kekerasan.
"Lingkungan sosial yang toksik, minim edukasi emosi, atau bahkan menoleransi perilaku agresif juga menyuburkan bakat kekerasan dalam diri seseorang," ujar Samanta.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kekerasan bukan hanya persoalan individu, tetapi juga berkaitan dengan faktor keluarga, sosial, dan psikologis yang kompleks.
Pernyataan Samanta muncul di tengah sorotan publik terhadap kasus seorang perempuan berusia 29 tahun asal Kabupaten Bandung yang diduga menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya selama tiga tahun.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan dapat terjadi secara bertahap dan sering kali sulit dikenali sejak awal. Karena itu, para ahli mengingatkan pentingnya membangun hubungan yang sehat, mengenali tanda-tanda perilaku posesif atau manipulatif, serta tidak ragu mencari bantuan jika mengalami atau menyaksikan kekerasan.
Bagi korban, dukungan dari keluarga, teman, dan tenaga profesional memiliki peran penting dalam proses pemulihan. Sementara bagi masyarakat, meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental dan pengelolaan emosi dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu memutus siklus kekerasan yang terus berulang dari generasi ke generasi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Psikolog Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, Psikolog mengatakan bahwa dalam psikologi terdapat konsep yang dikenal sebagai siklus kekerasan (cycle of violence). Konsep ini menjelaskan bagaimana pengalaman kekerasan yang dialami seseorang pada masa kecil dapat memengaruhi cara berpikir dan berperilaku saat dewasa.
"Jika sejak kecil seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap pukulan, makian, dan kurungan adalah cara menyelesaikan masalah atau bentuk disiplin, otak mereka akan mencatat bahwa kekerasan itu wajar dilakukan ketika sedang marah atau ingin mengatur orang," ujar Samanta melansir Antara.
Pengalaman masa kecil dapat memengaruhi perkembangan emosi
Menurut Samanta, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan, baik sebagai korban maupun saksi, berisiko mengalami gangguan perkembangan emosional apabila tidak mendapatkan dukungan dan penanganan yang memadai.
Pengalaman traumatis yang berlangsung dalam waktu lama dapat membentuk cara seseorang merespons konflik, mengelola emosi, hingga membangun relasi dengan orang lain saat dewasa.
Dalam beberapa kasus, individu yang pernah menjadi korban kekerasan berpotensi mengulangi pola yang sama ketika dewasa jika trauma yang dialami tidak pernah diproses atau dipulihkan.
"Ketika dewasa, beberapa orang yang tidak mendapatkan pemulihan trauma akan mengubah peran mereka, dari yang dulunya korban menjadi pelaku agar mereka tidak merasa lemah lagi," jelasnya.
Meski demikian, Samanta menegaskan bahwa pengalaman buruk di masa kecil tidak otomatis membuat seseorang menjadi pelaku kekerasan.
Siklus kekerasan bisa diputus
Menurutnya, banyak orang yang berhasil keluar dari pola tersebut berkat dukungan keluarga, lingkungan yang sehat, pendidikan, serta bantuan profesional seperti psikolog atau konselor.
Dengan kata lain, masa lalu memang dapat memengaruhi seseorang, tetapi tidak sepenuhnya menentukan masa depannya.
"Pengalaman masa kecil yang buruk bukan berarti seseorang pasti akan menjadi pelaku kekerasan. Banyak individu yang berhasil memutus siklus tersebut melalui dukungan sosial, edukasi, dan bantuan profesional," katanya.
Lingkungan sosial juga berperan
Selain keluarga dan pengalaman masa kecil, lingkungan sosial turut memengaruhi pembentukan perilaku seseorang. Lingkungan yang minim edukasi emosi atau bahkan menoleransi perilaku agresif dapat memperbesar risiko munculnya tindakan kekerasan.
"Lingkungan sosial yang toksik, minim edukasi emosi, atau bahkan menoleransi perilaku agresif juga menyuburkan bakat kekerasan dalam diri seseorang," ujar Samanta.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kekerasan bukan hanya persoalan individu, tetapi juga berkaitan dengan faktor keluarga, sosial, dan psikologis yang kompleks.
Pentingnya mengenali tanda hubungan tidak sehat
Pernyataan Samanta muncul di tengah sorotan publik terhadap kasus seorang perempuan berusia 29 tahun asal Kabupaten Bandung yang diduga menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya selama tiga tahun.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan dapat terjadi secara bertahap dan sering kali sulit dikenali sejak awal. Karena itu, para ahli mengingatkan pentingnya membangun hubungan yang sehat, mengenali tanda-tanda perilaku posesif atau manipulatif, serta tidak ragu mencari bantuan jika mengalami atau menyaksikan kekerasan.
Bagi korban, dukungan dari keluarga, teman, dan tenaga profesional memiliki peran penting dalam proses pemulihan. Sementara bagi masyarakat, meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental dan pengelolaan emosi dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu memutus siklus kekerasan yang terus berulang dari generasi ke generasi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)