FITNESS & HEALTH

Kasus Yuvita dan Sisi Gelap Kontrol dalam Hubungan

Yatin Suleha
Rabu 24 Juni 2026 / 21:07
Ringkasnya gini..
  • Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat terhadap YTR atau Yuvita Tri Rezeki (29).
  • Aksi kejam ini diduga telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, sejak tahun 2023 hingga Juni 2026.
  • Memahami psikologi pelaku kekerasan domestik ekstrem untuk mencegah pola serupa terulang kembali.
Jakarta: Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat terhadap YTR atau Yuvita Tri Rezeki (29), seorang perempuan asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, dilakukan oleh kekasihnya yang bernama Taufik Hidayat (30). 

Aksi kejam ini diduga telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, sejak tahun 2023 hingga Juni 2026 di sebuah rumah kos di kawasan Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Penangkapan Taufik memunculkan banyak pertanyaan. Namun di balik perhatian publik terhadap proses hukum, ada hal lain yang tak kalah penting untuk dipahami, yakni bagaimana seseorang bisa melakukan kekerasan dan pengendalian ekstrem, terhadap pasangannya selama bertahun-tahun. 
 
Kasus yang menimpa Yuvita bukan sekadar persoalan amarah sesaat, melainkan gambaran pola kekerasan yang berlangsung secara sistematis. Dilansir dari instagram @delocomotief45 berikut adalah penjelasan bagaimana kontrol tersebut memengaruhi seseorang dalam hubungan.
 

Coercive Control, saat kekerasan menjadi sistem


Yang dilakukan Taufik terhadap Yuvita diduga bukan tindakan spontan. Sejak awal hubungan, berbagai bentuk kontrol dilakukan untuk membatasi kebebasan korban. 

Mulai dari memutus akses komunikasi, menjauhkan korban dari keluarga, hingga menghilangkan berbagai sarana, yang memungkinkan korban mencari pertolongan.

Psikolog Evan Stark menyebut pola seperti ini sebagai Coercive Control, yaitu strategi penguasaan pasangan melalui isolasi, pengawasan, dan penghancuran identitas secara bertahap. 

Dampaknya sering kali lebih dalam daripada kekerasan fisik, karena perlahan menghilangkan kemampuan korban untuk menentukan hidupnya sendiri.
 

Dark Triad dan pola kekerasan berulang



(Kasus Yuvita menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan, sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui kontrol, manipulasi, dan isolasi yang berlangsung lama. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Dalam psikologi kepribadian terdapat konsep Dark Triad, yakni kombinasi tiga sifat, yang kerap dikaitkan dengan perilaku manipulatif dan merugikan dalam hubungan.

1. Narsisme, ketika kebutuhan untuk mengendalikan orang lain menjadi sangat kuat.

2. Machiavellianisme, yaitu kecenderungan memanipulasi secara dingin dan terencana.

3. Psikopati, yang ditandai rendahnya empati terhadap penderitaan orang lain.

Studi ScienceDirect (2022) menunjukkan bahwa kombinasi ketiga sifat ini, berkaitan dengan kekerasan psikologis dan dehumanisasi pasangan.
 

Mengapa korban sulit keluar?


Salah satu pertanyaan yang sering muncul, yaitu mengapa korban tidak segera melarikan diri atau mencari bantuan.

Psikologi menjelaskan fenomena ini melalui konsep Trauma Bonding, yaitu ikatan emosional yang terbentuk akibat siklus kekerasan, yang diselingi momen-momen kebaikan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara kerja otak, dalam mengambil keputusan.

Selain itu, ada konsep Learned Helplessness dari Seligman, yaitu kondisi ketika seseorang berulang kali mengalami kegagalan, untuk keluar dari situasi buruk hingga akhirnya merasa perlawanan tidak lagi berguna. 

Dalam keadaan seperti itu, kemampuan korban untuk melihat jalan keluar menjadi semakin terbatas.
 

Bukan kasus yang berdiri sendiri


Fakta bahwa Taufik pernah menikah dan mantan istrinya disebut mengalami perlakuan serupa, menjadi perhatian penting dalam melihat pola perilaku pelaku. 

Penelitian dari Cambridge menunjukkan bahwa pelaku kekerasan berbasis kontrol, sering memperlihatkan pola yang konsisten pada lebih dari satu korban.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai perpetrator profile, yakni pola perilaku yang berasal dari karakter dan kebiasaan pelaku, bukan semata-mata dipicu oleh korban atau situasi tertentu.
   

Pelajaran yang perlu dipahami


Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender di Indonesia sepanjang 2025, meningkat 14 persen dan menjadi angka tertinggi dalam satu dekade. 

Kasus Yuvita menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan, sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui kontrol, manipulasi, dan isolasi yang berlangsung lama.

Menangkap Taufik merupakan langkah penting. Namun, memahami tanda-tanda awal perilaku kontrol, manipulasi, dan kekerasan juga menjadi bagian penting agar kasus serupa dapat dikenali lebih cepat. 


Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH