FITNESS & HEALTH
Kunci Mental Health Juara! Memupuk Sehat Jiwa Mulai dari Generasi Muda dan Masa Kecil
Yatin Suleha
Rabu 08 April 2026 / 11:59
- Kesehatan jiwa menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.
- Sering kali tidak dirasakan atau bahkan diabaikan karena tidak mendesak dan nyata.
- Kondisi sehat jiwa dapat dimaknai sebagai pra-kondisi yang dibutuhkan secara berulang di setiap tahapan kehidupan manusia.
Jakarta: Kesehatan jiwa menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia—yang sering kali tidak dirasakan atau bahkan diabaikan karena tidak mendesak dan nyata.
Merujuk pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan World Health Organization (WHO), kesehatan jiwa merupakan kondisi kesejahteraan di mana individu mampu mengatasi stres normal kehidupan, produktif secara sosial dan dapat berkontribusi dalam masyarakat.
Mencakup aspek kecerdasan emosional hingga kemampuan beradaptasi dengan tantangan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kondisi sehat jiwa dapat dimaknai sebagai pra-kondisi yang dibutuhkan secara berulang di setiap tahapan kehidupan manusia.
Dinamika kehidupan yang fluktuatif dan dipengaruhi berbagai faktor, membutuhkan katalisator di dalam diri seseorang yakni melalui jiwa yang sehat.
Keluaran utama dari kesehatan jiwa yang baik adalah menjadi “benteng” dan membantu mengembangkan resiliensi dalam menghadapi beragam situasi yang terjadi di dalam hidup.
Pada dasarnya, sehat jiwa perlu diusahakan, dilatih dan menjadi pola respons seseorang terhadap hal-hal yang terjadi pada dirinya.
Untuk melakukan serangkaian perilaku tersebut, perlu adanya informasi, pengetahuan dan literasi kesehatan jiwa yang baik serta diadaptasi dalam perilaku.
Latihan dan merawat kesehatan jiwa juga bukan hal yang instan, sehingga perlu dimulai pada generasi muda. Langkah ini menjadi mendesak dengan kondisi permasalahan kesehatan jiwa pada generasi muda.
Survei Kesehatan Jiwa Remaja Indonesia (2022) menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja (10-17 tahun) mengalami masalah kesehatan jiwa yang disebabkan oleh tekanan akademik, media sosial dan perubahan emosional.
Hal serupa juga terjadi pada remaja di seluruh dunia, di mana 1 dari 7 mengalami masalah kesehatan jiwa dan menjadi faktor penyebab 15% beban penyakit pada kelompok remaja.
Berdasarkan perspektif psikologis, pembentukan kebiasaan perlu berulang untuk menghasilkan perilaku yang secara otomatis dilakukan. Kunci utama membentuk kebiasaan adalah melatihnya dalam rutinitias sehingga menjadi bagian alami dari kehidupan.
.jpg)
(Bunga Pelangi, SKM, MKM memaparkan, kerja sama antara suami dan istri sebagai orang tua yang resilien pada 1000 HPK akan bermanifestasi pada perilaku dan indikator pemenuhan kesehatan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Setidaknya terdapat 3 komponen utama yang dapat memengaruhi pembentukan kebiasaan yakni kekuatan emosi dan motivasi, lingkungan/sistem yang mendukung serta norma sosial yang berlaku.
Setiap perilaku memiliki emosi yang menyertainya. Emosi yang positif akan dapat memperkuat pengulangan perilaku dan sebaliknya, emosi negatif akan dapat menghambat serta mengubah kemampuan seseorang untuk mempertahankan kebiasaan.
Perilaku yang didasari oleh dorongan/motivasi internal juga diyakini akan lebih bertahan lama karena memberikan efek kepuasan. Pada aspek lain, perilaku juga membutuhkan sokongan berupa lingkungan dan sistem yang mendukung.
Remaja membutuhkan informasi berkala terkait kesehatan jiwa agar dapat mengetahui cara yang tepat serta diberikan sarana untuk merawatnya, termasuk akses terhadap skrining, konseling dan layanan kesehatan jiwa.
Pada konteks sosial, nilai dan norma yang berlaku terkait kesehatan jiwa juga sangat memengaruhi dalam memulai dan mempertahankan kebiasaan.
Bagaimana persepsi sosial terhadap apa yang dianggap seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan menjadi acuan setiap individu berperilaku di masyarakat, termasuk berkaitan dengan kesehatan jiwanya.
Dukungan sosial menjadi parameter seseorang melakukan perilaku, sebagai penguatan dan pemodelan.
Pada generasi muda diperlukan pembiasaan perilaku merawat kesehatan jiwa, melalui 5 hal yakni:
1. Pemahaman literasi emosi (belajar mengenal dan mengelola emosi)
2. Membiasakan welas asih pada diri dan orang lain
3. Pembiasaan perilaku prososial
4. Pengembangan minat dan bakat serta
5. Meningkatkan perilaku pencarian pengobatan kesehatan jiwa
.jpg)
(Bunga Pelangi, SKM, MKM juga mengatakan, pada generasi muda diperlukan pembiasaan perilaku merawat kesehatan jiwa. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kelima hal tersebut akan dapat optimal jika disertai dengan upaya memperkuat hubungan dengan orang tua, lingkungan sekolah dan sebaya.
Penelitian membuktikan bahwa relasi dan perasaan keterhubungan dapat berperan sebagai faktor protektif pada risiko dan permasalahan kesehatan jiwa.
Rangkaian upaya tersebut menjadi proses memupuk sehat jiwa yang perlu untuk dirawat dan didukung secara kontinu.
Orientasi utama memupuk sehat jiwa orang muda adalah internalisasi regulasi emosi, membangun interaksi sosial positif serta pembiasaan gaya hidup sehat secara jiwa dan fisik. Hal ini dapat dilakukan berbasis keluarga, sekolah dan lingkungan sosial.
Penting untuk memastikan bahwa setiap upaya tersebut terdapat kolaborasi yang terkoneksi dengan baik antar pihak dan tidak terfragmentasi.
Mekanisme ini akan membantu dalam melihat perkembangan, meninjau apabila terjadi permasalahan dan melakukan upaya mitigasi maupun korektif.
Tidak hanya itu, pada generasi muda yang membutuhkan penanganan lebih lanjut juga harus dapat mengakses dan terhubung dengan layanan kesehatan jiwa. Penanganan tanda dan masalah kesehatan jiwa secara dini juga diproyeksikan dapat meningkatkan peluang pulih lebih baik.
Kesehatan jiwa yang baik di masa remaja dapat membantu mengembangkan resiliensi
Kesehatan jiwa yang baik pada masa remaja dapat membantu mengembangkan resiliensi untuk mengatasi hal yang terjadi dalam hidup dan tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat.
Proses yang dilalui sejak generasi muda akan dituai pada fase selanjutnya dengan sikap yang resilien dalam menghadapi situasi sulit dan kesulitan.
Ketahanan jiwa atau resiliensi merupakan proses panjang dan berkelanjutan dalam melatih kemampuan untuk dapat bangkit dari tekanan, kegagalan atau perubahan hidup.
Resiliensi menjadi kualifikasi dasar yang dapat memberdayakan setiap individu dalam menghadapi tantangan hidup melalui kekuatan, adaptabilitas dan pola pikir yang positif.
Membangun resiliensi menjadi modal yang akan digunakan seumur hidup dan membutuhkan latihan secara kontinu, memperbaiki diri dan berkomitmen untuk perkembangan diri.
Merujuk pada siklus hidup, remaja yang memasuki tahapan dewasa muda dan menjalin hubungan pernikahan akan berpeluang mengalami fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yakni proses kehamilan, melahirkan dan pengasuhan pada 2 tahun pertama.
Memupuk sehat jiwa pada masa remaja menjadi fondasi dan menentukan kualitas yang dituai pada periode 1000 HPK.
.jpg)
(Dalam penjelasan Bunga Pelangi, SKM, MKM memaparkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan pasangan menjadi faktor penentu kondisi psikologis ibu di 1000 HPK. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Badan Kesehatan Dunia (2022) menyebutkan bahwa 1 dari 5 perempuan akan mengalami kondisi kesehatan jiwa yang buruk selama kehamilan dan setahun setelah melahirkan.
Data Survei Kesehatan Jiwa Remaja Indonesia (2022) juga menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi dengan prevalensi depersi yang lebih besar dibandingkan pada remaja laki-laki.
Kedua data tersebut menunjukkan betapa pentingnya modalitas resiliensi yang lebih tinggi pada kelompok remaja perempuan. Kondisi tersebut juga perlu didukung dengan resiliensi pada kelompok laki-laki sebagai suami/bapak/pasangan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan pasangan menjadi faktor penentu kondisi psikologis ibu di 1000 HPK. Sejalan dengan hal tersebut, kondisi psikologis ibu akan memengaruhi kesehatan masa kehamilan dan kesehatan anak.
Keterhubungan antara dukungan pasangan, kondisi kesehatan jiwa ibu serta kesehatan anak memerlukan modal resiliensi. Pasangan/bapak yang tidak memiliki kemampuan resiliensi, maka tidak mampu mendukung proses yang dilakui istri/ibu melalui fase 1000 HPK.
Sedangkan ibu yang tidak memiliki kemampuan resiliensi akan berisiko menghadapi masalah kesehatan jiwa seperti depresi postpartum, gangguan kecemasan, baby blues dan lainnya; yang akan memengaruhi kesehatan anak.
Menuai resiliensi pada fase 1000 HPK akan bermanfaat bagi pasangan/bapak untuk menyangga dan memberikan dukungan emosional pada istri/ibu, mampu berbagi peran setara dengan istri/ibu serta terlibat aktif dalam pengasuhan.
Kondisi tersebut sangat diperlukan oleh istri/ibu untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan jiwa dan menumbuhkan pada fase 1000 HPK. Istri/ibu yang resilien akan terbiasa dan mampu dalam mengelola emosi, lebih mindful dan memiliki perilaku pencarian layanan kesehatan jiwa lebih baik.
Kerja sama antara suami dan istri sebagai orang tua yang resilien pada 1000 HPK akan bermanifestasi pada perilaku dan indicator pemenuhan kesehatan, di antaranya mendorong kunjungan pemeriksaan masa kehamilan (antenatal care).
Proses melahirkan yang aman, keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif dan MPASI, optimalisasi perkembangan kognitif dan psikomotor anak, hingga kaitannya dengan upaya pencegahan stunting. Terpenuhinya indikator kesehatan tersebut akan berdampak pada kondisi kesehatan serta kualitas anak.
Keterkaitan dan keterhubungan kondisi kesehatan jiwa dengan pendekatan siklus hidup memberikan gambaran pentingnya memupuk sehat jiwa di generasi muda sehingga dapat menuai resiliensi pada fase penentu generasi selanjutnya di periode 1000 HPK.
Hal ini mendorong untuk adanya penguatan dan intervensi berbasis keluarga, sekolah dan komunitas dalam meningkatkan literasi kesehatan jiwa, pembiasaan perilaku prososial, regulasi emosi dan pengembangan diri pada masa remaja.
Seluruh upaya ini memerlukan dukungan kebijakan dan program dalam membentuk sistem edukasi dan promosi kesehatan yang terstruktur, sehingga setiap orang dapat mengakses literasi kesehatan jiwa yang tepat pada seluruh tatanan.
Selanjutnya diperlukan juga pendekatan berbasis gender untuk meningkatkan relasi setara pada upaya membentuk dukungan sosial dari suami/bapak/pasangan untuk ibu di 1000 HPK.
Oleh: Bunga Pelangi, SKM, MKM
Executive Director of Health Collaborative Center
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Merujuk pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan World Health Organization (WHO), kesehatan jiwa merupakan kondisi kesejahteraan di mana individu mampu mengatasi stres normal kehidupan, produktif secara sosial dan dapat berkontribusi dalam masyarakat.
Mencakup aspek kecerdasan emosional hingga kemampuan beradaptasi dengan tantangan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kondisi sehat jiwa dapat dimaknai sebagai pra-kondisi yang dibutuhkan secara berulang di setiap tahapan kehidupan manusia.
Jiwa yang sehat
Dinamika kehidupan yang fluktuatif dan dipengaruhi berbagai faktor, membutuhkan katalisator di dalam diri seseorang yakni melalui jiwa yang sehat.
Keluaran utama dari kesehatan jiwa yang baik adalah menjadi “benteng” dan membantu mengembangkan resiliensi dalam menghadapi beragam situasi yang terjadi di dalam hidup.
Pada dasarnya, sehat jiwa perlu diusahakan, dilatih dan menjadi pola respons seseorang terhadap hal-hal yang terjadi pada dirinya.
Untuk melakukan serangkaian perilaku tersebut, perlu adanya informasi, pengetahuan dan literasi kesehatan jiwa yang baik serta diadaptasi dalam perilaku.
Latihan dan merawat kesehatan jiwa juga bukan hal yang instan, sehingga perlu dimulai pada generasi muda. Langkah ini menjadi mendesak dengan kondisi permasalahan kesehatan jiwa pada generasi muda.
Survei Kesehatan Jiwa Remaja Indonesia (2022) menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja (10-17 tahun) mengalami masalah kesehatan jiwa yang disebabkan oleh tekanan akademik, media sosial dan perubahan emosional.
Hal serupa juga terjadi pada remaja di seluruh dunia, di mana 1 dari 7 mengalami masalah kesehatan jiwa dan menjadi faktor penyebab 15% beban penyakit pada kelompok remaja.
Berdasarkan perspektif psikologis, pembentukan kebiasaan perlu berulang untuk menghasilkan perilaku yang secara otomatis dilakukan. Kunci utama membentuk kebiasaan adalah melatihnya dalam rutinitias sehingga menjadi bagian alami dari kehidupan.
3 komponen utama pembentuk kebiasaan
.jpg)
(Bunga Pelangi, SKM, MKM memaparkan, kerja sama antara suami dan istri sebagai orang tua yang resilien pada 1000 HPK akan bermanifestasi pada perilaku dan indikator pemenuhan kesehatan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Setidaknya terdapat 3 komponen utama yang dapat memengaruhi pembentukan kebiasaan yakni kekuatan emosi dan motivasi, lingkungan/sistem yang mendukung serta norma sosial yang berlaku.
Setiap perilaku memiliki emosi yang menyertainya. Emosi yang positif akan dapat memperkuat pengulangan perilaku dan sebaliknya, emosi negatif akan dapat menghambat serta mengubah kemampuan seseorang untuk mempertahankan kebiasaan.
Perilaku yang didasari oleh dorongan/motivasi internal juga diyakini akan lebih bertahan lama karena memberikan efek kepuasan. Pada aspek lain, perilaku juga membutuhkan sokongan berupa lingkungan dan sistem yang mendukung.
Remaja membutuhkan informasi berkala terkait kesehatan jiwa agar dapat mengetahui cara yang tepat serta diberikan sarana untuk merawatnya, termasuk akses terhadap skrining, konseling dan layanan kesehatan jiwa.
Pada konteks sosial, nilai dan norma yang berlaku terkait kesehatan jiwa juga sangat memengaruhi dalam memulai dan mempertahankan kebiasaan.
Bagaimana persepsi sosial terhadap apa yang dianggap seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan menjadi acuan setiap individu berperilaku di masyarakat, termasuk berkaitan dengan kesehatan jiwanya.
Dukungan sosial menjadi parameter seseorang melakukan perilaku, sebagai penguatan dan pemodelan.
Pada generasi muda diperlukan pembiasaan perilaku merawat kesehatan jiwa, melalui 5 hal yakni:
1. Pemahaman literasi emosi (belajar mengenal dan mengelola emosi)
2. Membiasakan welas asih pada diri dan orang lain
3. Pembiasaan perilaku prososial
4. Pengembangan minat dan bakat serta
5. Meningkatkan perilaku pencarian pengobatan kesehatan jiwa
.jpg)
(Bunga Pelangi, SKM, MKM juga mengatakan, pada generasi muda diperlukan pembiasaan perilaku merawat kesehatan jiwa. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kelima hal tersebut akan dapat optimal jika disertai dengan upaya memperkuat hubungan dengan orang tua, lingkungan sekolah dan sebaya.
Penelitian membuktikan bahwa relasi dan perasaan keterhubungan dapat berperan sebagai faktor protektif pada risiko dan permasalahan kesehatan jiwa.
Rangkaian upaya tersebut menjadi proses memupuk sehat jiwa yang perlu untuk dirawat dan didukung secara kontinu.
Orientasi utama memupuk sehat jiwa orang muda adalah internalisasi regulasi emosi, membangun interaksi sosial positif serta pembiasaan gaya hidup sehat secara jiwa dan fisik. Hal ini dapat dilakukan berbasis keluarga, sekolah dan lingkungan sosial.
Penting untuk memastikan bahwa setiap upaya tersebut terdapat kolaborasi yang terkoneksi dengan baik antar pihak dan tidak terfragmentasi.
Mekanisme ini akan membantu dalam melihat perkembangan, meninjau apabila terjadi permasalahan dan melakukan upaya mitigasi maupun korektif.
Tidak hanya itu, pada generasi muda yang membutuhkan penanganan lebih lanjut juga harus dapat mengakses dan terhubung dengan layanan kesehatan jiwa. Penanganan tanda dan masalah kesehatan jiwa secara dini juga diproyeksikan dapat meningkatkan peluang pulih lebih baik.
Kesehatan jiwa yang baik di masa remaja dapat membantu mengembangkan resiliensi
Kesehatan jiwa yang baik pada masa remaja dapat membantu mengembangkan resiliensi untuk mengatasi hal yang terjadi dalam hidup dan tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat.
Proses yang dilalui sejak generasi muda akan dituai pada fase selanjutnya dengan sikap yang resilien dalam menghadapi situasi sulit dan kesulitan.
Ketahanan jiwa atau resiliensi merupakan proses panjang dan berkelanjutan dalam melatih kemampuan untuk dapat bangkit dari tekanan, kegagalan atau perubahan hidup.
Resiliensi menjadi kualifikasi dasar yang dapat memberdayakan setiap individu dalam menghadapi tantangan hidup melalui kekuatan, adaptabilitas dan pola pikir yang positif.
Membangun resiliensi menjadi modal yang akan digunakan seumur hidup dan membutuhkan latihan secara kontinu, memperbaiki diri dan berkomitmen untuk perkembangan diri.
Merujuk pada siklus hidup, remaja yang memasuki tahapan dewasa muda dan menjalin hubungan pernikahan akan berpeluang mengalami fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yakni proses kehamilan, melahirkan dan pengasuhan pada 2 tahun pertama.
Memupuk sehat jiwa pada masa remaja menjadi fondasi dan menentukan kualitas yang dituai pada periode 1000 HPK.
Resiliensi pada fase 1000 HPK
.jpg)
(Dalam penjelasan Bunga Pelangi, SKM, MKM memaparkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan pasangan menjadi faktor penentu kondisi psikologis ibu di 1000 HPK. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Badan Kesehatan Dunia (2022) menyebutkan bahwa 1 dari 5 perempuan akan mengalami kondisi kesehatan jiwa yang buruk selama kehamilan dan setahun setelah melahirkan.
Data Survei Kesehatan Jiwa Remaja Indonesia (2022) juga menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi dengan prevalensi depersi yang lebih besar dibandingkan pada remaja laki-laki.
Kedua data tersebut menunjukkan betapa pentingnya modalitas resiliensi yang lebih tinggi pada kelompok remaja perempuan. Kondisi tersebut juga perlu didukung dengan resiliensi pada kelompok laki-laki sebagai suami/bapak/pasangan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan pasangan menjadi faktor penentu kondisi psikologis ibu di 1000 HPK. Sejalan dengan hal tersebut, kondisi psikologis ibu akan memengaruhi kesehatan masa kehamilan dan kesehatan anak.
Keterhubungan antara dukungan pasangan, kondisi kesehatan jiwa ibu serta kesehatan anak memerlukan modal resiliensi. Pasangan/bapak yang tidak memiliki kemampuan resiliensi, maka tidak mampu mendukung proses yang dilakui istri/ibu melalui fase 1000 HPK.
Sedangkan ibu yang tidak memiliki kemampuan resiliensi akan berisiko menghadapi masalah kesehatan jiwa seperti depresi postpartum, gangguan kecemasan, baby blues dan lainnya; yang akan memengaruhi kesehatan anak.
Menuai resiliensi pada fase 1000 HPK akan bermanfaat bagi pasangan/bapak untuk menyangga dan memberikan dukungan emosional pada istri/ibu, mampu berbagi peran setara dengan istri/ibu serta terlibat aktif dalam pengasuhan.
Kondisi tersebut sangat diperlukan oleh istri/ibu untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan jiwa dan menumbuhkan pada fase 1000 HPK. Istri/ibu yang resilien akan terbiasa dan mampu dalam mengelola emosi, lebih mindful dan memiliki perilaku pencarian layanan kesehatan jiwa lebih baik.
Kerja sama antara suami dan istri sebagai orang tua yang resilien pada 1000 HPK akan bermanifestasi pada perilaku dan indicator pemenuhan kesehatan, di antaranya mendorong kunjungan pemeriksaan masa kehamilan (antenatal care).
Proses melahirkan yang aman, keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif dan MPASI, optimalisasi perkembangan kognitif dan psikomotor anak, hingga kaitannya dengan upaya pencegahan stunting. Terpenuhinya indikator kesehatan tersebut akan berdampak pada kondisi kesehatan serta kualitas anak.
Keterkaitan dan keterhubungan kondisi kesehatan jiwa dengan pendekatan siklus hidup memberikan gambaran pentingnya memupuk sehat jiwa di generasi muda sehingga dapat menuai resiliensi pada fase penentu generasi selanjutnya di periode 1000 HPK.
Hal ini mendorong untuk adanya penguatan dan intervensi berbasis keluarga, sekolah dan komunitas dalam meningkatkan literasi kesehatan jiwa, pembiasaan perilaku prososial, regulasi emosi dan pengembangan diri pada masa remaja.
Seluruh upaya ini memerlukan dukungan kebijakan dan program dalam membentuk sistem edukasi dan promosi kesehatan yang terstruktur, sehingga setiap orang dapat mengakses literasi kesehatan jiwa yang tepat pada seluruh tatanan.
Selanjutnya diperlukan juga pendekatan berbasis gender untuk meningkatkan relasi setara pada upaya membentuk dukungan sosial dari suami/bapak/pasangan untuk ibu di 1000 HPK.
Oleh: Bunga Pelangi, SKM, MKM
Executive Director of Health Collaborative Center
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)