FAMILY

Langkah 'Cek Teman Sebelah' Jadi Kunci Biar Anak Makin Empati

Aulia Putriningtias
Selasa 19 Mei 2026 / 19:56
Ringkasnya gini..
  • Sosialisasi Cek Teman Sebelah 3.0 oleh Health Collaborative Center (HCC) mulai dilakukan di area sekolah Ciracas, Jakarta Timur.
  • Program ini untuk melihat potensi empati anak bisa meningkat.
  • Tim Medcom.id berkesempatan untuk melihat langsung bagaimana program Cek Teman Sebelah di SMK Bina Dharma pada Senin, 18 Mei 2026.
Jakarta: Sosialisasi Cek Teman Sebelah 3.0 oleh Health Collaborative Center (HCC) mulai dilakukan di area sekolah Ciracas, Jakarta Timur. Program ini untuk melihat potensi empati anak bisa meningkat.

Tim Medcom.id berkesempatan untuk melihat langsung bagaimana program Cek Teman Sebelah di SMK Bina Dharma pada Senin, 18 Mei 2026. Sekolah ini merupakan salah satu sampel dari 4 sekolah yang diambil.

Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa Cek Teman Sebelah singkatnya merupakan melaporkan kebaikan teman. 
 
Pada Cek Teman Sebelah 2.0 yang dilakukan pada 2025 lalu, tim HCC berhasil menemukan temuan seperti:

- 5 kali lipat lebih empati
- 5 kali lipat bersikap prososial
- 4 kali lipat memahami teman
- 11 kali lipat merasakan perubahan positif

Melaporkan kebaikan teman ini dilakukan di empat sekolah di Ciracas ini, yaitu SMKN 68, SMK Bina Dharma, MAN 15, dan MAN 24, akan dilakukan selama 10 hari ke depan. Setiap kelas, disediakan papan untuk pelaporan kebaikan teman.

Jika dilihat, tim HCC mengambil sampel anak-anak SMA/K. Hal ini dikarenakan menurut data yang disampaikan Dr. Ray, sebanyak 58 persen, mahasiswa baru mengalami kecemasan ketika masuk ke perguruan tinggi.


(Pada tahun ini, fokus HCC berada di Ciracas, Jakarta Timur. Hal ini karena sekolah-sekolah yang telah dipilih sudah terintegrasi dengan Puskesmas Ciracas yang memiliki psikolog klinis dan terhubung dengan sekolah. Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)

Sedangkan, siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya sekitar 20-30 persen. Sisa dari siswa yang tidak melanjutkan, kembali kepada lingkungan atau komunitas, yang belum terdeteksi seberapa banyak mengalami kecemasan.

"Salah satu bikin tootling (melaporkan kebaikan teman) ini juga membuat mereka supaya mereka (yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi) tidak akan mendapatkan beban komunitas, tapi justru mendapat bonus komunitas anak-anak yang fokus pada kebaikan teman," jelasnya saat ditemui langsung oleh tim Medcom.id.

Pada tahun ini, fokus HCC berada di Ciracas, Jakarta Timur. Hal ini karena sekolah-sekolah yang telah dipilih sudah terintegrasi dengan Puskesmas Ciracas yang memiliki psikolog klinis dan terhubung dengan sekolah.

"Jika kita mulai dari awal tidak ada psikolog klinis di puskesmas yang sudah ada rutin di sekolah, pasti akan patah di tengah jalan programnya," ucap Dr. Ray.

Eksperimen ini sudah dimulai dan akan berlangsung selama 10 hari. Setiap siswa melaporkan kebaikan teman setidaknya satu setiap harinya. Tidak ada kewajiban dalam mengisi, tetapi hal ini juga masuk ke dalam penilaian.

Bagi siswa yang memiliki catatan kebaikan unggul (jumlah kebaikan terbanyak), akan diberikan penghargaan khusus. Hal ini sebagai salah satu penyemangat dalam melakukan kebaikan.
 
Setelah eksperimen sosial ini selesai, data akan diolah dan hasilnya akan dibawa kepada level kementerian atau Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terlebih dahulu.

Harapannya, melalui eksperimen sosial ini, diharapkan dapat membawa tumbuhnya empati pada anak, terutama dalam mempersiapkan siswa ke usia lebih matang dan bertemu dengan kesempatan lebih banyak di kemudian hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH