FITNESS & HEALTH
Obesitas dan Kesehatan Jantung Saling Berkaitan, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai
Elang Riki Yanuar
Senin 28 September 2026 / 18:33
- Obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner dan gangguan irama jantung.
- Studi di Indonesia menunjukkan orang dengan obesitas memiliki risiko kardiovaskular lebih tinggi dalam 10 tahun ke depan.
- Pengelolaan obesitas jangka panjang perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pola hidup sehat dan dukungan medis sesuai kondisi.
Jakarta: Menjaga kesehatan jantung ternyata tidak cukup hanya dengan memperhatikan tekanan darah atau kadar kolesterol. Berat badan dan obesitas juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan karena kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kardiovaskular.
Hubungan obesitas dan kesehatan jantung menjadi salah satu pembahasan dalam momentum World Heart Day 2026 yang mengusung tema “Don’t Miss a Beat”. Novo Indonesia menggelar diskusi media bertajuk “World Heart Day: Beyond the Scale, Toward Better Heart Health” untuk membahas lebih jauh kaitan keduanya.
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di dunia dan menyumbang hampir satu dari tiga kematian. Secara global, sekitar 17 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular dikaitkan dengan obesitas.
Kaitan tersebut menunjukkan bahwa obesitas tidak hanya berkaitan dengan ukuran tubuh. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh dan meningkatkan sejumlah faktor risiko yang berhubungan dengan kesehatan jantung.
Di Indonesia, sebuah studi menemukan bahwa responden dengan obesitas memiliki probabilitas 85 persen lebih tinggi untuk memiliki risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan. Karena itu, pengenalan dan penanganan obesitas sejak dini menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.
dr. Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, mengatakan pemahaman terhadap obesitas perlu diperluas agar tidak hanya melihat persoalan tersebut dari angka pada timbangan.
“World Heart Day menjadi momentum bagi kita untuk melihat kesehatan jantung secara lebih menyeluruh, termasuk memahami bagaimana obesitas dapat meningkatkan risiko kardiovaskular. Obesitas perlu dipahami bukan sekadar persoalan berat badan atau pilihan pribadi, melainkan penyakit kronis yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis hingga lingkungan," katanya.
Dari sisi kesehatan jantung, obesitas dapat berkaitan dengan proses inflamasi kronis yang berkontribusi terhadap gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Kondisi tersebut juga dapat berperan dalam proses aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.
“Obesitas tidak lagi sekadar persoalan kelebihan berat badan. Pemahaman medis mengenai obesitas telah berkembang, dari sekadar faktor risiko menjadi penyakit kronis yang dapat berkontribusi terhadap gangguan pada jantung dan pembuluh darah,” ujar dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi.
Menurut dr. Bobby, ketika penumpukan plak terjadi pada pembuluh darah koroner, aliran darah menuju otot jantung dapat berkurang. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
“Karena itu, penanganan obesitas sejak dini menjadi bagian penting dalam pengelolaan risiko penyakit kardiovaskular,” tambah dr. Bobby.
Risiko yang berkaitan dengan obesitas juga dapat menyentuh sistem kelistrikan jantung. Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah fibrilasi atrium, yaitu gangguan irama jantung yang dapat dipengaruhi oleh perubahan struktural dan metabolik, proses inflamasi, serta faktor yang berkaitan dengan tidur.
“Obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium melalui berbagai mekanisme. Penurunan berat badan yang dicapai dan dipertahankan secara berkelanjutan dapat membantu mengurangi frekuensi dan/atau durasi episode fibrilasi atrium, sekaligus memperbaiki faktor risiko kardiovaskular lainnya,” jelas dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia serta perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).
Namun, menjaga berat badan dalam jangka panjang bukan perkara mudah. Studi ACTION APAC di Indonesia menunjukkan sebanyak 68 persen orang dengan obesitas mengalami kenaikan berat badan kembali setelah berhasil mempertahankannya selama enam bulan atau lebih.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat mengalami kekambuhan. Karena itu, pengelolaannya tidak selalu cukup hanya mengandalkan perubahan gaya hidup tanpa dukungan lain yang sesuai dengan kondisi setiap individu.
dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, FINEM, dokter spesialis gizi klinik sekaligus Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia cabang Banten, mengatakan tantangan dalam pengelolaan obesitas juga dapat berasal dari faktor biologis dan perilaku.
“Studi juga menunjukkan bahwa 68% tenaga kesehatan masih cenderung hanya merekomendasikan perubahan gaya hidup, sementara pasien sendiri menghadapi berbagai hambatan biologis dan perilaku, seperti kesulitan mengendalikan rasa lapar hingga 76%," katanya.
"Karena itu, manajemen obesitas jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar kemauan keras (willpower). Pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama, namun bagi sebagian orang diperlukan dukungan terstruktur dan opsi terapi tambahan yang efektif. Salah satu pilihannya adalah terapi berbasis GLP-1 RA, apabila terdapat indikasi medis dan dijalankan di bawah pengawasan dokter untuk membantu mencapai manajemen berat badan yang berkelanjutan," tambahnya.
Dari perspektif kesehatan jantung, penanganan obesitas juga mulai melihat dampak terhadap risiko komplikasi kardiovaskular, bukan semata perubahan angka berat badan. Hal tersebut antara lain dibahas melalui temuan studi SELECT.
“Pentingnya penanganan obesitas bagi kesehatan jantung juga didukung oleh temuan studi SELECT, yang melibatkan lebih dari 17.000 orang dengan berat badan berlebih atau obesitas, memiliki penyakit kardiovaskular, dan tanpa diabetes. Pada populasi tersebut, ditemukan bahwa terapi berbasis GLP-1 RA menurunkan risiko relatif kejadian kardiovaskular mayor (MACE) sebesar 20% dibandingkan dengan plasebo. MACE dalam studi ini mencakup kematian akibat penyakit kardiovaskular, serangan jantung nonfatal, atau stroke nonfatal. Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan manajemen obesitas yang komprehensif dan sesuai indikasi medis sebagai bagian dari upaya mengelola risiko kardiovaskular,” papar dr. Bobby.
Melalui diskusi tersebut, masyarakat diingatkan bahwa kesehatan jantung dan pengelolaan obesitas merupakan dua hal yang dapat saling berkaitan. Upaya menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, melakukan aktivitas fisik, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi bagian dari pengelolaan risiko sesuai kondisi masing-masing.
“Selama lebih dari 20 tahun di Indonesia, kami terus mendukung akses terhadap informasi tepercaya dan mendorong masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna mendapatkan penanganan yang aman dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Salah satu upaya tersebut kami hadirkan melalui situs NovoCare.id, yang menyediakan informasi terpercaya mengenai obesitas, fitur untuk menghitung BMI, dan mencari bantuan dokter,” tambah dr. Riyanny.
(ELG)
Hubungan obesitas dan kesehatan jantung menjadi salah satu pembahasan dalam momentum World Heart Day 2026 yang mengusung tema “Don’t Miss a Beat”. Novo Indonesia menggelar diskusi media bertajuk “World Heart Day: Beyond the Scale, Toward Better Heart Health” untuk membahas lebih jauh kaitan keduanya.
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di dunia dan menyumbang hampir satu dari tiga kematian. Secara global, sekitar 17 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular dikaitkan dengan obesitas.
Kaitan tersebut menunjukkan bahwa obesitas tidak hanya berkaitan dengan ukuran tubuh. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh dan meningkatkan sejumlah faktor risiko yang berhubungan dengan kesehatan jantung.
Di Indonesia, sebuah studi menemukan bahwa responden dengan obesitas memiliki probabilitas 85 persen lebih tinggi untuk memiliki risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan. Karena itu, pengenalan dan penanganan obesitas sejak dini menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.
dr. Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, mengatakan pemahaman terhadap obesitas perlu diperluas agar tidak hanya melihat persoalan tersebut dari angka pada timbangan.
“World Heart Day menjadi momentum bagi kita untuk melihat kesehatan jantung secara lebih menyeluruh, termasuk memahami bagaimana obesitas dapat meningkatkan risiko kardiovaskular. Obesitas perlu dipahami bukan sekadar persoalan berat badan atau pilihan pribadi, melainkan penyakit kronis yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis hingga lingkungan," katanya.
Dari sisi kesehatan jantung, obesitas dapat berkaitan dengan proses inflamasi kronis yang berkontribusi terhadap gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Kondisi tersebut juga dapat berperan dalam proses aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.

“Obesitas tidak lagi sekadar persoalan kelebihan berat badan. Pemahaman medis mengenai obesitas telah berkembang, dari sekadar faktor risiko menjadi penyakit kronis yang dapat berkontribusi terhadap gangguan pada jantung dan pembuluh darah,” ujar dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi.
Menurut dr. Bobby, ketika penumpukan plak terjadi pada pembuluh darah koroner, aliran darah menuju otot jantung dapat berkurang. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
“Karena itu, penanganan obesitas sejak dini menjadi bagian penting dalam pengelolaan risiko penyakit kardiovaskular,” tambah dr. Bobby.
Risiko yang berkaitan dengan obesitas juga dapat menyentuh sistem kelistrikan jantung. Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah fibrilasi atrium, yaitu gangguan irama jantung yang dapat dipengaruhi oleh perubahan struktural dan metabolik, proses inflamasi, serta faktor yang berkaitan dengan tidur.
“Obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium melalui berbagai mekanisme. Penurunan berat badan yang dicapai dan dipertahankan secara berkelanjutan dapat membantu mengurangi frekuensi dan/atau durasi episode fibrilasi atrium, sekaligus memperbaiki faktor risiko kardiovaskular lainnya,” jelas dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia serta perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).
Namun, menjaga berat badan dalam jangka panjang bukan perkara mudah. Studi ACTION APAC di Indonesia menunjukkan sebanyak 68 persen orang dengan obesitas mengalami kenaikan berat badan kembali setelah berhasil mempertahankannya selama enam bulan atau lebih.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat mengalami kekambuhan. Karena itu, pengelolaannya tidak selalu cukup hanya mengandalkan perubahan gaya hidup tanpa dukungan lain yang sesuai dengan kondisi setiap individu.
dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, FINEM, dokter spesialis gizi klinik sekaligus Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia cabang Banten, mengatakan tantangan dalam pengelolaan obesitas juga dapat berasal dari faktor biologis dan perilaku.
“Studi juga menunjukkan bahwa 68% tenaga kesehatan masih cenderung hanya merekomendasikan perubahan gaya hidup, sementara pasien sendiri menghadapi berbagai hambatan biologis dan perilaku, seperti kesulitan mengendalikan rasa lapar hingga 76%," katanya.
"Karena itu, manajemen obesitas jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar kemauan keras (willpower). Pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama, namun bagi sebagian orang diperlukan dukungan terstruktur dan opsi terapi tambahan yang efektif. Salah satu pilihannya adalah terapi berbasis GLP-1 RA, apabila terdapat indikasi medis dan dijalankan di bawah pengawasan dokter untuk membantu mencapai manajemen berat badan yang berkelanjutan," tambahnya.
Dari perspektif kesehatan jantung, penanganan obesitas juga mulai melihat dampak terhadap risiko komplikasi kardiovaskular, bukan semata perubahan angka berat badan. Hal tersebut antara lain dibahas melalui temuan studi SELECT.
“Pentingnya penanganan obesitas bagi kesehatan jantung juga didukung oleh temuan studi SELECT, yang melibatkan lebih dari 17.000 orang dengan berat badan berlebih atau obesitas, memiliki penyakit kardiovaskular, dan tanpa diabetes. Pada populasi tersebut, ditemukan bahwa terapi berbasis GLP-1 RA menurunkan risiko relatif kejadian kardiovaskular mayor (MACE) sebesar 20% dibandingkan dengan plasebo. MACE dalam studi ini mencakup kematian akibat penyakit kardiovaskular, serangan jantung nonfatal, atau stroke nonfatal. Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan manajemen obesitas yang komprehensif dan sesuai indikasi medis sebagai bagian dari upaya mengelola risiko kardiovaskular,” papar dr. Bobby.
Melalui diskusi tersebut, masyarakat diingatkan bahwa kesehatan jantung dan pengelolaan obesitas merupakan dua hal yang dapat saling berkaitan. Upaya menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, melakukan aktivitas fisik, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi bagian dari pengelolaan risiko sesuai kondisi masing-masing.
“Selama lebih dari 20 tahun di Indonesia, kami terus mendukung akses terhadap informasi tepercaya dan mendorong masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna mendapatkan penanganan yang aman dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Salah satu upaya tersebut kami hadirkan melalui situs NovoCare.id, yang menyediakan informasi terpercaya mengenai obesitas, fitur untuk menghitung BMI, dan mencari bantuan dokter,” tambah dr. Riyanny.
(ELG)