FITNESS & HEALTH
Studi Ungkap Perubahan Lemak Hati pada Orang dengan Obesitas
Elang Riki Yanuar
Kamis 22 Oktober 2026 / 08:06
- Sebanyak 23 dari 26 peserta obesitas mengalami penurunan lemak hati di bawah 5 persen setelah 72 minggu menggunakan semaglutide, tetapi belum terbukti menyembuhkan penyakit hati.
- Semaglutide menunjukkan potensi menurunkan lemak hati dari rata-rata 8,8 persen menjadi 3,1 persen pada peserta obesitas dalam analisis studi STEP UP.
- Lemak hati yang turun belum tentu menandakan penyakit hati sembuh karena peradangan dan fibrosis tetap perlu diperiksa melalui penelitian lebih lanjut.
Jakarta: Kadar lemak hati yang turun hingga di bawah 5 persen belum tentu menandakan penyakit hati berlemak telah sembuh. Perbaikan tersebut perlu dinilai bersama indikator lain, seperti peradangan dan kerusakan jaringan hati, untuk mengetahui kondisi organ secara menyeluruh.
Dalam sebuah analisis penelitian, 23 dari 26 peserta dengan obesitas dan kadar lemak hati berlebih mengalami penurunan kadar lemak hati hingga di bawah 5 persen setelah 72 minggu. Meski hasilnya menjanjikan, temuan tersebut belum membuktikan bahwa penyakit hati berlemak dapat diatasi sepenuhnya.
Hasil ini berasal dari analisis lanjutan studi STEP UP yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan European Association for the Study of Diabetes (EASD) 2026 di Milan, Italia. Penelitian tersebut mengevaluasi perubahan kadar lemak hati pada orang dewasa dengan obesitas tanpa diabetes.
Analisis yang dilaporkan Medical Daily pada 3 Oktober 2026 itu menggunakan data peserta yang menjalani pengobatan dengan semaglutide, zat aktif dalam sejumlah obat, termasuk Wegovy yang dipasarkan oleh Novo Nordisk untuk pengelolaan berat badan.
Dari 55 peserta yang menjalani pemeriksaan MRI dalam salah satu kelompok studi, sebanyak 26 orang diketahui memiliki kadar lemak hati lebih dari 5 persen pada awal penelitian. Setelah 72 minggu, 23 orang atau sekitar 88,5 persen dari kelompok tersebut memiliki kadar lemak hati di bawah ambang tersebut.
Rata-rata kadar lemak hati pada kelompok yang dianalisis juga turun dari 8,8 persen menjadi 3,1 persen. Pengukuran dilakukan menggunakan magnetic resonance imaging-proton density fat fraction (MRI-PDFF), metode pencitraan yang dapat memperkirakan kandungan lemak hati tanpa prosedur biopsi.
Dr. Eric Lawitz dari Texas Liver Institute dan University of Texas Health San Antonio mengatakan, hasil tersebut memperlihatkan penurunan lemak hati pada orang dewasa dengan obesitas yang menggunakan semaglutide.
“Analisis ini menunjukkan bahwa semaglutide menurunkan lemak hati dan berkaitan dengan kesehatan hati secara keseluruhan yang lebih baik pada orang dewasa dengan obesitas,” ujar Lawitz, seperti dikutip dari Medical Daily.
Meski demikian, angka 88,5 persen hanya menggambarkan 26 peserta yang sejak awal memiliki kadar lemak hati di atas 5 persen. Angka tersebut tidak mewakili seluruh peserta studi STEP UP ataupun seluruh pengguna Wegovy.
Penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolik dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD). Kondisi ini dapat berkembang menjadi metabolic dysfunction-associated steatohepatitis (MASH), yaitu penyakit yang ditandai penumpukan lemak disertai peradangan dan kerusakan sel hati.
Pada sebagian pasien, kerusakan yang berlanjut dapat memicu fibrosis atau pembentukan jaringan parut pada hati. Jika semakin parah, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi sirosis dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Karena itu, penurunan kadar lemak hati tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda bahwa peradangan telah mereda atau jaringan hati mengalami pemulihan. Pemeriksaan kadar lemak saja belum cukup untuk memastikan apakah fibrosis berkurang atau risiko komplikasi jangka panjang menurun.
Temuan studi STEP UP juga masih memiliki sejumlah keterbatasan. Data tersebut berasal dari analisis post hoc atau analisis lanjutan terhadap data penelitian yang telah tersedia. Sifatnya eksploratif dan bukan bagian dari tujuan utama maupun tujuan sekunder yang ditetapkan sejak awal penelitian.
Selain melibatkan jumlah peserta yang kecil, laporan yang dirujuk Medical Daily belum menyajikan hasil pemeriksaan MRI lemak hati yang sebanding dari kelompok plasebo. Dengan demikian, besarnya perubahan yang secara khusus disebabkan oleh semaglutide belum dapat dipastikan.
Analisis tersebut juga menggabungkan peserta yang menggunakan semaglutide dosis 7,2 miligram dan 2,4 miligram. Hasil penurunan lemak hati tidak dirinci berdasarkan masing-masing dosis sehingga belum dapat digunakan untuk membandingkan efektivitas keduanya.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah penurunan lemak hati berkaitan dengan perbaikan peradangan, berkurangnya fibrosis, dan penurunan risiko komplikasi dalam jangka panjang. Bukti tersebut penting untuk menilai manfaat pengobatan terhadap kondisi hati secara menyeluruh.
Orang dengan obesitas atau diabetes tipe 2 dapat berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai risiko penyakit hati berlemak dan kebutuhan pemeriksaan. Temuan ini belum menjadi dasar untuk mulai menggunakan Wegovy, menghentikan pengobatan, atau mengubah dosis obat tanpa arahan dokter.
(ELG)
Dalam sebuah analisis penelitian, 23 dari 26 peserta dengan obesitas dan kadar lemak hati berlebih mengalami penurunan kadar lemak hati hingga di bawah 5 persen setelah 72 minggu. Meski hasilnya menjanjikan, temuan tersebut belum membuktikan bahwa penyakit hati berlemak dapat diatasi sepenuhnya.
Hasil ini berasal dari analisis lanjutan studi STEP UP yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan European Association for the Study of Diabetes (EASD) 2026 di Milan, Italia. Penelitian tersebut mengevaluasi perubahan kadar lemak hati pada orang dewasa dengan obesitas tanpa diabetes.
Analisis yang dilaporkan Medical Daily pada 3 Oktober 2026 itu menggunakan data peserta yang menjalani pengobatan dengan semaglutide, zat aktif dalam sejumlah obat, termasuk Wegovy yang dipasarkan oleh Novo Nordisk untuk pengelolaan berat badan.
Dari 55 peserta yang menjalani pemeriksaan MRI dalam salah satu kelompok studi, sebanyak 26 orang diketahui memiliki kadar lemak hati lebih dari 5 persen pada awal penelitian. Setelah 72 minggu, 23 orang atau sekitar 88,5 persen dari kelompok tersebut memiliki kadar lemak hati di bawah ambang tersebut.
Rata-rata kadar lemak hati pada kelompok yang dianalisis juga turun dari 8,8 persen menjadi 3,1 persen. Pengukuran dilakukan menggunakan magnetic resonance imaging-proton density fat fraction (MRI-PDFF), metode pencitraan yang dapat memperkirakan kandungan lemak hati tanpa prosedur biopsi.
Dr. Eric Lawitz dari Texas Liver Institute dan University of Texas Health San Antonio mengatakan, hasil tersebut memperlihatkan penurunan lemak hati pada orang dewasa dengan obesitas yang menggunakan semaglutide.
“Analisis ini menunjukkan bahwa semaglutide menurunkan lemak hati dan berkaitan dengan kesehatan hati secara keseluruhan yang lebih baik pada orang dewasa dengan obesitas,” ujar Lawitz, seperti dikutip dari Medical Daily.
Meski demikian, angka 88,5 persen hanya menggambarkan 26 peserta yang sejak awal memiliki kadar lemak hati di atas 5 persen. Angka tersebut tidak mewakili seluruh peserta studi STEP UP ataupun seluruh pengguna Wegovy.
Penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolik dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD). Kondisi ini dapat berkembang menjadi metabolic dysfunction-associated steatohepatitis (MASH), yaitu penyakit yang ditandai penumpukan lemak disertai peradangan dan kerusakan sel hati.
Pada sebagian pasien, kerusakan yang berlanjut dapat memicu fibrosis atau pembentukan jaringan parut pada hati. Jika semakin parah, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi sirosis dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Karena itu, penurunan kadar lemak hati tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda bahwa peradangan telah mereda atau jaringan hati mengalami pemulihan. Pemeriksaan kadar lemak saja belum cukup untuk memastikan apakah fibrosis berkurang atau risiko komplikasi jangka panjang menurun.
Temuan studi STEP UP juga masih memiliki sejumlah keterbatasan. Data tersebut berasal dari analisis post hoc atau analisis lanjutan terhadap data penelitian yang telah tersedia. Sifatnya eksploratif dan bukan bagian dari tujuan utama maupun tujuan sekunder yang ditetapkan sejak awal penelitian.
Selain melibatkan jumlah peserta yang kecil, laporan yang dirujuk Medical Daily belum menyajikan hasil pemeriksaan MRI lemak hati yang sebanding dari kelompok plasebo. Dengan demikian, besarnya perubahan yang secara khusus disebabkan oleh semaglutide belum dapat dipastikan.
Analisis tersebut juga menggabungkan peserta yang menggunakan semaglutide dosis 7,2 miligram dan 2,4 miligram. Hasil penurunan lemak hati tidak dirinci berdasarkan masing-masing dosis sehingga belum dapat digunakan untuk membandingkan efektivitas keduanya.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah penurunan lemak hati berkaitan dengan perbaikan peradangan, berkurangnya fibrosis, dan penurunan risiko komplikasi dalam jangka panjang. Bukti tersebut penting untuk menilai manfaat pengobatan terhadap kondisi hati secara menyeluruh.
Orang dengan obesitas atau diabetes tipe 2 dapat berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai risiko penyakit hati berlemak dan kebutuhan pemeriksaan. Temuan ini belum menjadi dasar untuk mulai menggunakan Wegovy, menghentikan pengobatan, atau mengubah dosis obat tanpa arahan dokter.
(ELG)