FITNESS & HEALTH
Cek Sekarang! Risiko Osteoarthritis 4,6 Kali Lebih Tinggi Pada Obesitas
Aulia Putriningtias
Jumat 28 Agustus 2026 / 19:38
- Osteoarthtritis (OA) adalah salah satu masalah kesehatan yang ternyata banyak dialami oleh masyarakat Indonesia.
- Hal ini terutama pada pengidap obesitas.
- OA sendiri merupakan penyakit sendi degeneratif (pengapuran sendi) yang terjadi akibat kerusakan atau penipisan pada tulang rawan (kartilago).
Jakarta: Osteoarthtritis (OA) adalah salah satu masalah kesehatan yang ternyata banyak dialami oleh masyarakat Indonesia, terutama pada pengidap obesitas!
OA sendiri merupakan penyakit sendi degeneratif (pengapuran sendi) yang terjadi akibat kerusakan atau penipisan pada tulang rawan (kartilago). Bagian ini berfungsi sebagai bantalan pelindung ujung tulang.
Menurut Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi, dr. Ihsan Oesman, Sp.OT(K), orang dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 30 memiliki risiko OA lutut lebih tinggi dibandingkan orang dengan berat badan normal.
"Risikonya menjadi 4,6 kali,” kata dr. Ihsan pada acara diskusi media dengan Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Lebih lanjut, dr. Ihsan menyebut sekitar 16 persen populasi berusia di atas 15 tahun mengalami OA. Angka tahunnya terus meningkat pada kelompok usia yang lebih tua, sekitar 22,9 persen populasi di usia 40 tahun ke atas.
Menurut dr. Ihsan, ada alasan mengapa OA lutut lebih sering terjadi pada obesitas. Hal ini karena beban mekanis yang diterima kirim ketika tubuh harus menopang berat lebih besar.
Jadi, diperlukannya penerapan mengendalikan berat badan. Menurunkan berat badan dapat membantu mengurangi beban yang diterima lutut. Namun, perhatian terhadap berat badan tidak berarti hanya mengejar angka pada timbangan.
Hal ini dijelaskan oleh dr. Ryanny Widyastuti, Sp.GK, yang mengatakan bahwa obesitas tak selalu soal angka IMT atau BMI. IMT merupakan ukuran yang membandingkan berat badan dengan tinggi badan.
Menurut dr Andhika Raspati. SpKO., penilaian IMT untuk orang yang aktif menabung massa otot, akan dibedakan. Hal ini karena berat badan yang memiliki IMT sama dengan massa otot berbeda tentunya akan beda juga hasilnya.
"Orang yang berolahraga, kaya gym, itu tentunya beda dengan orang yang tidak aktif bergerak," papar dr. Andhika.
Bagi yang memiliki IMT menuju obesitas, tetapi sebenarnya aktif bergerak dan menabung massa otot melalui olahraga angkat beban, dr. Andhika menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter saja.
Hal ini dikarenakan pemeriksaannya akan berbeda dibandingkan orang yang tidak berolahraga sama sekali. Jadi, pemeriksaan dokter tentunya akan lebih jelas dan tentunya membantu kamu.
(TIN)
OA sendiri merupakan penyakit sendi degeneratif (pengapuran sendi) yang terjadi akibat kerusakan atau penipisan pada tulang rawan (kartilago). Bagian ini berfungsi sebagai bantalan pelindung ujung tulang.
Menurut Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi, dr. Ihsan Oesman, Sp.OT(K), orang dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 30 memiliki risiko OA lutut lebih tinggi dibandingkan orang dengan berat badan normal.
"Risikonya menjadi 4,6 kali,” kata dr. Ihsan pada acara diskusi media dengan Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Lebih lanjut, dr. Ihsan menyebut sekitar 16 persen populasi berusia di atas 15 tahun mengalami OA. Angka tahunnya terus meningkat pada kelompok usia yang lebih tua, sekitar 22,9 persen populasi di usia 40 tahun ke atas.
Hubungan obesitas dengan OA lutut
Menurut dr. Ihsan, ada alasan mengapa OA lutut lebih sering terjadi pada obesitas. Hal ini karena beban mekanis yang diterima kirim ketika tubuh harus menopang berat lebih besar.
Jadi, diperlukannya penerapan mengendalikan berat badan. Menurunkan berat badan dapat membantu mengurangi beban yang diterima lutut. Namun, perhatian terhadap berat badan tidak berarti hanya mengejar angka pada timbangan.
Hal ini dijelaskan oleh dr. Ryanny Widyastuti, Sp.GK, yang mengatakan bahwa obesitas tak selalu soal angka IMT atau BMI. IMT merupakan ukuran yang membandingkan berat badan dengan tinggi badan.
Menurut dr Andhika Raspati. SpKO., penilaian IMT untuk orang yang aktif menabung massa otot, akan dibedakan. Hal ini karena berat badan yang memiliki IMT sama dengan massa otot berbeda tentunya akan beda juga hasilnya.
"Orang yang berolahraga, kaya gym, itu tentunya beda dengan orang yang tidak aktif bergerak," papar dr. Andhika.
Bagi yang memiliki IMT menuju obesitas, tetapi sebenarnya aktif bergerak dan menabung massa otot melalui olahraga angkat beban, dr. Andhika menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter saja.
Hal ini dikarenakan pemeriksaannya akan berbeda dibandingkan orang yang tidak berolahraga sama sekali. Jadi, pemeriksaan dokter tentunya akan lebih jelas dan tentunya membantu kamu.
(TIN)