FITNESS & HEALTH
Kolesterol Normal Bukan Berarti 'Kebal'! Cek Faktanya Sekarang
Yatin Suleha
Sabtu 27 Juni 2026 / 22:11
- Pernah terpikir kalau kolesterol normal belum tentu jaminan kita bebas dari risiko penyakit jantung atau stroke?
- Masalahnya, kadar LDL yang enggak terkontrol sering luput dari perhatian.
- Prof. Sidar mengatakan target penurunan LDL tidak bisa disamakan untuk semua orang.
Jakarta: Pernah terpikir kalau kolesterol normal belum tentu jaminan kita bebas dari risiko penyakit jantung atau stroke? Masalahnya, kadar LDL yang enggak terkontrol sering luput dari perhatian.
Kita harus paham kalau angka aman di hasil lab itu sifatnya personal, tergantung kondisi kesehatan masing-masing.
Nah, LDL sendiri sebenarnya protein yang punya peran penting membawa kolesterol dalam darah, karena kalau tanpa ikatan protein ini, kolesterol enggak bisa larut.
"LDL itu LDL kolesterol. Jadi bukan LDL-nya yang bikin penyakit jantung, kolesterolnya. Kolesterol diikat di dalam lipoprotein yang namanya Low-Density Lipoprotein," ujar Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD, K-EMD, FACE, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Endokrin Metabolic Diabetes dalam acara 2026 Crezet Symposium and ENVLO Grand di Hotel Aryaduta Bandung, Sabtu (27/06/26).
Ia menjelaskan bahwa kolesterol juga terdapat pada jenis lipoprotein lain, seperti VLDL, IDL, dan remnants.
Namun, berbagai penelitian mengenai pencegahan penyakit kardiovaskular menggunakan kadar LDL, sebagai indikator utama sehingga pemeriksaan LDL menjadi acuan dalam menentukan terapi.
Prof. Sidar mengatakan target penurunan LDL tidak bisa disamakan untuk semua orang. Penentuan target bergantung pada kondisi masing-masing pasien, dalam perjalanan Cardio-Kidney-Metabolic (CKM) Syndrome, mulai dari yang baru mengalami resistensi insulin, hingga yang sudah menderita diabetes, penyakit jantung koroner, atau stroke.
Pada penderita diabetes tanpa komplikasi, target LDL masih berada di angka 100 mg/dL. Jika disertai faktor risiko lain seperti tekanan darah tinggi, targetnya menjadi 70 mg/dL.
.jpg)
(Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD, K-EMD, FACE, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Endokrin Metabolic Diabetes menjelaskan bahwa pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap harus dijalankan, meski sudah mengonsumsi obat. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)
Sementara bagi pasien yang sudah pernah mengalami serangan jantung atau stroke, target LDL harus diturunkan hingga 55 mg/dL, bahkan bisa menjadi 40 mg/dL bila masih terjadi serangan berulang.
Menurut Prof. Sidar, terapi penurun kolesterol sebaiknya dimulai sedini mungkin, diturunkan sesuai target masing-masing pasien, dan dijalankan secara berkelanjutan.
Menghentikan obat tanpa arahan dokter dapat membuat kadar LDL kembali meningkat sehingga risiko komplikasi pun ikut bertambah.
Prof. Sidar menegaskan bahwa obat bukan menjadi langkah pertama, dalam mengendalikan kolesterol. Perubahan pola hidup tetap menjadi dasar utama sebelum terapi diberikan.
"Pertama kita harus mengatur makan, mengatur aktivitas fisik. Kalau belum berhasil baru pakai obat. Lalu tiga-tiganya dikerjakan, bukan diganti," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap harus dijalankan, meski sudah mengonsumsi obat.
Menurutnya, pengaturan makan dapat membantu menurunkan kadar kolesterol sekitar 20 persen, sehingga penggunaan obat bisa menjadi lebih optimal.
Menutup paparannya, Prof. Sidar mengingatkan, bahwa menjaga kesehatan tidak berarti harus berhenti menikmati makanan favorit. Yang paling penting adalah mengatur jumlah dan porsi makanan sesuai kebutuhan tubuh.
"Orang diabetes itu boleh makan apa saja. Cuma ada yang boleh makan banyak, ada yang boleh makan sedikit. Yang enggak boleh itu makan enak banyak," kata Prof. Sidar.
Ia menegaskan bahwa penderita diabetes tetap boleh mengonsumsi berbagai jenis makanan, termasuk makanan manis, selama porsinya disesuaikan.
Menurutnya, tujuan pengaturan makan bukan melarang seseorang menikmati makanan, melainkan membantu menjaga kadar gula darah dan mencegah komplikasi.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Kita harus paham kalau angka aman di hasil lab itu sifatnya personal, tergantung kondisi kesehatan masing-masing.
Nah, LDL sendiri sebenarnya protein yang punya peran penting membawa kolesterol dalam darah, karena kalau tanpa ikatan protein ini, kolesterol enggak bisa larut.
"LDL itu LDL kolesterol. Jadi bukan LDL-nya yang bikin penyakit jantung, kolesterolnya. Kolesterol diikat di dalam lipoprotein yang namanya Low-Density Lipoprotein," ujar Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD, K-EMD, FACE, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Endokrin Metabolic Diabetes dalam acara 2026 Crezet Symposium and ENVLO Grand di Hotel Aryaduta Bandung, Sabtu (27/06/26).
Ia menjelaskan bahwa kolesterol juga terdapat pada jenis lipoprotein lain, seperti VLDL, IDL, dan remnants.
Namun, berbagai penelitian mengenai pencegahan penyakit kardiovaskular menggunakan kadar LDL, sebagai indikator utama sehingga pemeriksaan LDL menjadi acuan dalam menentukan terapi.
Target LDL berbeda pada setiap orang
Prof. Sidar mengatakan target penurunan LDL tidak bisa disamakan untuk semua orang. Penentuan target bergantung pada kondisi masing-masing pasien, dalam perjalanan Cardio-Kidney-Metabolic (CKM) Syndrome, mulai dari yang baru mengalami resistensi insulin, hingga yang sudah menderita diabetes, penyakit jantung koroner, atau stroke.
Pada penderita diabetes tanpa komplikasi, target LDL masih berada di angka 100 mg/dL. Jika disertai faktor risiko lain seperti tekanan darah tinggi, targetnya menjadi 70 mg/dL.
.jpg)
(Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD, K-EMD, FACE, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Endokrin Metabolic Diabetes menjelaskan bahwa pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap harus dijalankan, meski sudah mengonsumsi obat. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)
Sementara bagi pasien yang sudah pernah mengalami serangan jantung atau stroke, target LDL harus diturunkan hingga 55 mg/dL, bahkan bisa menjadi 40 mg/dL bila masih terjadi serangan berulang.
Menurut Prof. Sidar, terapi penurun kolesterol sebaiknya dimulai sedini mungkin, diturunkan sesuai target masing-masing pasien, dan dijalankan secara berkelanjutan.
Menghentikan obat tanpa arahan dokter dapat membuat kadar LDL kembali meningkat sehingga risiko komplikasi pun ikut bertambah.
Obat harus diimbangi gaya hidup sehat
Prof. Sidar menegaskan bahwa obat bukan menjadi langkah pertama, dalam mengendalikan kolesterol. Perubahan pola hidup tetap menjadi dasar utama sebelum terapi diberikan.
"Pertama kita harus mengatur makan, mengatur aktivitas fisik. Kalau belum berhasil baru pakai obat. Lalu tiga-tiganya dikerjakan, bukan diganti," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap harus dijalankan, meski sudah mengonsumsi obat.
Menurutnya, pengaturan makan dapat membantu menurunkan kadar kolesterol sekitar 20 persen, sehingga penggunaan obat bisa menjadi lebih optimal.
Menutup paparannya, Prof. Sidar mengingatkan, bahwa menjaga kesehatan tidak berarti harus berhenti menikmati makanan favorit. Yang paling penting adalah mengatur jumlah dan porsi makanan sesuai kebutuhan tubuh.
"Orang diabetes itu boleh makan apa saja. Cuma ada yang boleh makan banyak, ada yang boleh makan sedikit. Yang enggak boleh itu makan enak banyak," kata Prof. Sidar.
Ia menegaskan bahwa penderita diabetes tetap boleh mengonsumsi berbagai jenis makanan, termasuk makanan manis, selama porsinya disesuaikan.
Menurutnya, tujuan pengaturan makan bukan melarang seseorang menikmati makanan, melainkan membantu menjaga kadar gula darah dan mencegah komplikasi.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)