FITNESS & HEALTH

Plot Twist! Kolesterol Tinggi Belum Tentu Harus Langsung Diobati

A. Firdaus
Jumat 24 Juli 2026 / 14:18
Ringkasnya gini..
  • Pada kelompok dengan risiko tinggi, pengobatan tidak boleh ditunda.
  • Semua faktor tersebut akan dihitung bersama kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat.
  • Pasien umumnya diberi kesempatan menjalani lifestyle modification atau perubahan gaya hidup terlebih dahulu.
Jakarta: Banyak orang mengira setiap hasil kolesterol tinggi, harus langsung diatasi dengan obat penurun kolesterol. Padahal, keputusan terapi tidak bisa disamaratakan. 

Dokter perlu menilai tingkat risiko penyakit jantung dan stroke secara menyeluruh, sebelum menentukan langkah pengobatan. Pada sebagian orang, perubahan gaya hidup masih menjadi pilihan utama. 

Namun, pada kelompok dengan risiko tinggi, pengobatan tidak boleh ditunda karena setiap waktu yang berlalu, dapat meningkatkan peluang terjadinya komplikasi serius.
 

Penanganan kolesterol tinggi selalu diawali dengan proses yang disebut stratifikasi risiko. Melalui penilaian ini, dokter dapat menentukan apakah seseorang cukup menjalani perubahan gaya hidup, atau membutuhkan obat penurun kolesterol sesegera mungkin.
 

Stratifikasi Risiko Jadi Langkah Pertama


Dokter tidak hanya melihat angka kolesterol saat menangani pasien. Berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular, juga dikumpulkan melalui wawancara medis atau anamnesis.

"Ketika seorang dokter menghadapi pasien dengan kadar kolesterol yang tinggi, yang pertama dilakukan adalah melakukan stratifikasi risiko," ujar Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI dalam acara Daewoong Indonesia Heart Talk di Revenue Tower, SCBD, Jakarta, Kamis (23/07/26).

Dalam proses tersebut, dokter akan mengevaluasi apakah seseorang memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, maupun riwayat penyakit jantung atau stroke dalam keluarga.

Semua faktor tersebut akan dihitung bersama kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat, untuk memperkirakan risiko serangan jantung maupun stroke di masa depan.

Selain faktor risiko, kadar LDL yang sangat tinggi juga menjadi perhatian khusus. Menurut Dr. Susetyo, kadar LDL di atas 190 mg/dL menunjukkan peningkatan risiko kardiovaskular, yang jauh lebih besar sehingga membutuhkan penanganan lebih cepat.

"Kalau hasil stratifikasi risikonya tinggi, maka dokter akan menyarankan sesegera mungkin mengonsumsi obat penurun kolesterol jahat," jelasnya.
 

Perubahan gaya hidup masih punya peran besar


Meski demikian, tidak semua orang dengan kolesterol tinggi langsung membutuhkan obat. Jika hasil stratifikasi menunjukkan risiko masih rendah, dokter biasanya akan mencari penyebab utama naiknya kolesterol sebelum menentukan terapi.

Beberapa hal yang menjadi perhatian meliputi pola makan, cara mengolah makanan, aktivitas fisik, hingga kemungkinan adanya familial hypercholesterolemia atau kolesterol tinggi, akibat faktor keturunan.

Pada kondisi seperti ini, pasien umumnya diberi kesempatan menjalani lifestyle modification atau perubahan gaya hidup terlebih dahulu. 

Langkah tersebut mencakup memperbanyak aktivitas fisik, memperbaiki pola makan, mengurangi makanan yang digoreng, serta meningkatkan konsumsi sayur, buah, dan ikan.

Dr. Susetyo menjelaskan, bahwa Omega-3 sebenarnya merupakan bagian dari pola makan sehat untuk jantung. Nutrisi tersebut banyak ditemukan secara alami pada ikan, sehingga konsumsi suplemen Omega-3 bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh manfaatnya.

"Sebenarnya Omega-3 itu bagian dari lifestyle modification yang dijual dalam bentuk produk," katanya.

Ia menambahkan bahwa pola makan yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan jantung, mengacu pada prinsip diet Mediterania, yakni tinggi serat serta menjadikan ikan sebagai sumber protein utama.
 

Risiko tinggi tidak boleh menunggu


Berbeda dengan kelompok berisiko rendah, pasien yang memiliki risiko tinggi tidak disarankan hanya mengandalkan perubahan gaya hidup.

Dr. Susetyo menekankan bahwa waktu menjadi faktor yang sangat penting, karena risiko penyakit tetap berjalan selama kadar kolesterol belum terkendali.

"The sooner the better. Bagi kami ahli jantung, lebih cepat lebih baik," pungkasnya. 

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH