FITNESS & HEALTH
Studi Ungkap 2 dari 5 Pasien Penyakit Jantung Alami Inflamasi Kardiovaskular
Fatha Annisa
Senin 29 Juni 2026 / 14:04
- Studi menemukan tingginya prevalensi inflamasi kardiovaskular pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.
- Studi ini melibatkan 18.904 pasien di 18 negara.
- Temuan tersebut menegaskan pentingnya penanganan inflamasi sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Jakarta: Novo Nordisk mengungkap hasil studi POSEIDON yang menunjukkan tingginya prevalensi inflamasi kardiovaskular pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. Studi ini melibatkan 18.904 pasien di 18 negara.
Melalui studi tersebut, terkuak bahwa dua dari lima penyandang penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA) yang juga mengalami penyakit ginjal kronis (CKD) maupun gagal jantung, memiliki inflamasi kardiovaskular.
Inflamasi kardiovaskular sendiri merupakan kondisi ketika terjadi peradangan pada pembuluh darah. Berbeda dengan peradangan yang muncul saat tubuh mengalami infeksi, kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala, tapi dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Dalam studi ini, inflamasi kardiovaskular diukur berdasarkan kadar high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) ≥2 mg/L, yaitu pemeriksaan darah yang umum digunakan untuk mengukur inflamasi.
Temuan tersebut juga menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam tata laksana penyakit kardiovaskular. Pasien tetap memiliki risiko kardiovaskular akibat inflamasi meski telah menjalani terapi standar untuk mengendalikan kolesterol, tekanan darah, dan gula darah.
"Studi POSEIDON menyajikan bukti penting bahwa inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko yang signifikan dan tetap berlanjut pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis atau gagal jantung, meskipun telah menerima terapi sesuai standar perawatan saat ini," ujar Filip Knop, Senior Vice President dan Chief Medical Officer Novo Nordisk.
Menurut Filip, memahami cakupan risiko inflamasi kardiovaskular sangat penting untuk mendukung pengembangan terapi inovatif. Riset yang dilakukan Novo Nordisk diharapkan dapat menghadirkan terapi pertama yang mampu menjawab kebutuhan medis yang hingga kini masih belum terpenuhi.
Sementara itu, Profesor Carolyn S.P. Lam mengatakan studi POSEIDON membuktikan bahwa inflamasi bukan sekadar isu sekunder, melainkan faktor utama yang meningkatkan risiko komplikasi pada jutaan pasien penyakit kardiovaskular di seluruh dunia.
Ia juga menilai konsistensi temuan pada berbagai kelompok pasien membuka peluang pendekatan baru dalam mengidentifikasi pasien yang paling berpotensi memperoleh manfaat dari terapi antiinflamasi. Temuan ini sekaligus mengubah cara pandang terhadap risiko kardiovaskular residual.
Di Indonesia, penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung iskemik masih menjadi penyebab utama kematian. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan penyakit kardiovaskular menyumbang sekitar 30 persen dari total kematian di Indonesia. Kondisi ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan dan pengelolaan penyakit kardiovaskular yang lebih komprehensif.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)
Melalui studi tersebut, terkuak bahwa dua dari lima penyandang penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA) yang juga mengalami penyakit ginjal kronis (CKD) maupun gagal jantung, memiliki inflamasi kardiovaskular.
Inflamasi kardiovaskular sendiri merupakan kondisi ketika terjadi peradangan pada pembuluh darah. Berbeda dengan peradangan yang muncul saat tubuh mengalami infeksi, kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala, tapi dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Dalam studi ini, inflamasi kardiovaskular diukur berdasarkan kadar high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) ≥2 mg/L, yaitu pemeriksaan darah yang umum digunakan untuk mengukur inflamasi.
| Baca juga: Angin Duduk Itu Isyarat Jantung Lagi 'Teriak', Bukan Minta Dikerokin! |
Temuan tersebut juga menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam tata laksana penyakit kardiovaskular. Pasien tetap memiliki risiko kardiovaskular akibat inflamasi meski telah menjalani terapi standar untuk mengendalikan kolesterol, tekanan darah, dan gula darah.
"Studi POSEIDON menyajikan bukti penting bahwa inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko yang signifikan dan tetap berlanjut pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis atau gagal jantung, meskipun telah menerima terapi sesuai standar perawatan saat ini," ujar Filip Knop, Senior Vice President dan Chief Medical Officer Novo Nordisk.
Menurut Filip, memahami cakupan risiko inflamasi kardiovaskular sangat penting untuk mendukung pengembangan terapi inovatif. Riset yang dilakukan Novo Nordisk diharapkan dapat menghadirkan terapi pertama yang mampu menjawab kebutuhan medis yang hingga kini masih belum terpenuhi.
| Baca juga: Biar Jantung Gak Gampang 'Shock', Lakuin 3 Hal Ini Sebelum Jam 9 Pagi! |
Sementara itu, Profesor Carolyn S.P. Lam mengatakan studi POSEIDON membuktikan bahwa inflamasi bukan sekadar isu sekunder, melainkan faktor utama yang meningkatkan risiko komplikasi pada jutaan pasien penyakit kardiovaskular di seluruh dunia.
Ia juga menilai konsistensi temuan pada berbagai kelompok pasien membuka peluang pendekatan baru dalam mengidentifikasi pasien yang paling berpotensi memperoleh manfaat dari terapi antiinflamasi. Temuan ini sekaligus mengubah cara pandang terhadap risiko kardiovaskular residual.
Di Indonesia, penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung iskemik masih menjadi penyebab utama kematian. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan penyakit kardiovaskular menyumbang sekitar 30 persen dari total kematian di Indonesia. Kondisi ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan dan pengelolaan penyakit kardiovaskular yang lebih komprehensif.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)