FITNESS & HEALTH
Kurus Bukan Berarti Bebas Kolesterol, Dokter Ungkap Empat Penyebabnya
A. Firdaus
Jumat 24 Juli 2026 / 10:21
- Salah satu penyebabnya adalah familial hypercholesterolemia (FH).
- Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.
- Pada populasi Asia, obesitas sentral ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria dan 80 sentimeter pada perempuan.
Jakarta: Banyak orang menganggap kolesterol tinggi hanya dialami oleh mereka yang memiliki berat badan berlebih. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Orang dengan tubuh kurus atau berat badan normal juga tetap berisiko mengalami kolesterol tinggi.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa kadar kolesterol tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh berat badan, tetapi juga berbagai faktor lain.
"Memang banyak faktor yang menyebabkan orang kurus mengalami kolesterol tinggi. Tidak hanya karena pola makan, tetapi juga dipengaruhi faktor keturunan maupun distribusi lemak di tubuh," ujar dr. Susetyo sesi edukasi media yang digelar Daewoong bersama PERKI di Jakarta.
Salah satu penyebabnya adalah familial hypercholesterolemia (FH), yaitu kelainan genetik yang membuat kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL) tetap tinggi meski seseorang memiliki berat badan ideal.
Menurut dr. Susetyo, kondisi ini merupakan penyakit bawaan yang membuat tubuh sulit mengontrol kadar kolesterol secara normal.
"Ini penyakit genetik. Jadi meskipun badannya kurus, kadar kolesterol LDL bisa tetap tinggi," katanya.
Selain faktor keturunan, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, seperti makanan yang digoreng, juga dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memicu terbentuknya plak pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Meski berat badan terlihat normal, tubuh yang jarang bergerak dapat mengalami gangguan metabolisme lemak sehingga kadar kolesterol LDL meningkat.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak viseral di rongga perut. Kondisi ini bisa terjadi pada orang dengan indeks massa tubuh normal sehingga sering kali tidak disadari.
"Jangan hanya melihat angka di timbangan. Bisa saja berat badannya normal, tetapi lemak di rongga perutnya banyak," jelas dr. Susetyo.
Pada populasi Asia, obesitas sentral ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria dan 80 sentimeter pada perempuan.
Karena itu, Susetyo mengingatkan masyarakat agar tidak hanya fokus menjaga berat badan. Pola makan seimbang, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala juga penting dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa kadar kolesterol tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh berat badan, tetapi juga berbagai faktor lain.
"Memang banyak faktor yang menyebabkan orang kurus mengalami kolesterol tinggi. Tidak hanya karena pola makan, tetapi juga dipengaruhi faktor keturunan maupun distribusi lemak di tubuh," ujar dr. Susetyo sesi edukasi media yang digelar Daewoong bersama PERKI di Jakarta.
Faktor genetik bisa meningkatkan kolesterol
Salah satu penyebabnya adalah familial hypercholesterolemia (FH), yaitu kelainan genetik yang membuat kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL) tetap tinggi meski seseorang memiliki berat badan ideal.
Menurut dr. Susetyo, kondisi ini merupakan penyakit bawaan yang membuat tubuh sulit mengontrol kadar kolesterol secara normal.
"Ini penyakit genetik. Jadi meskipun badannya kurus, kadar kolesterol LDL bisa tetap tinggi," katanya.
Pola makan dan kurang bergerak tetap berpengaruh
Selain faktor keturunan, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, seperti makanan yang digoreng, juga dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memicu terbentuknya plak pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Meski berat badan terlihat normal, tubuh yang jarang bergerak dapat mengalami gangguan metabolisme lemak sehingga kadar kolesterol LDL meningkat.
Waspadai obesitas sentral
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak viseral di rongga perut. Kondisi ini bisa terjadi pada orang dengan indeks massa tubuh normal sehingga sering kali tidak disadari.
"Jangan hanya melihat angka di timbangan. Bisa saja berat badannya normal, tetapi lemak di rongga perutnya banyak," jelas dr. Susetyo.
Pada populasi Asia, obesitas sentral ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria dan 80 sentimeter pada perempuan.
Karena itu, Susetyo mengingatkan masyarakat agar tidak hanya fokus menjaga berat badan. Pola makan seimbang, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala juga penting dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)