FITNESS & HEALTH

Bukan Cuma Timbangan, Lingkar Pinggang Juga Bisa Ungkap Risiko Penyakit Jantung

A. Firdaus
Jumat 24 Juli 2026 / 13:15
Ringkasnya gini..
  • Seseorang dengan berat badan ideal juga bisa memiliki kadar kolesterol tinggi.
  • Berat badan bukan satu-satunya indikator kesehatan metabolik.
  • Kolesterol tinggi dapat memicu terbentuknya plak aterosklerosis.
Jakarta: Banyak orang masih menganggap kolesterol tinggi hanya dialami oleh mereka yang bertubuh gemuk. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Seseorang dengan berat badan ideal juga bisa memiliki kadar kolesterol tinggi, terutama jika memiliki penumpukan lemak di area perut, riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi, pola makan yang kurang sehat, atau jarang beraktivitas fisik.

Kondisi ini perlu diwaspadai karena kolesterol tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala. Jika tidak terdeteksi dan ditangani, kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga stroke.
 

Jangan hanya melihat angka di timbangan


Berat badan bukan satu-satunya indikator kesehatan metabolik. Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, lingkar pinggang juga perlu diperhatikan karena dapat menunjukkan adanya penumpukan lemak viseral atau lemak di rongga perut.

Pada populasi Asia, obesitas sentral ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria dan 80 sentimeter pada perempuan.
 

"Lemak perut, lemak viseral, lemak yang menyelimuti usus, pankreas, hati itu berlebih. Itu merupakan lemak yang paling jahat," ujar Dr. Susetyo dalam acara Daewoong Indonesia Heart Talk di Jakarta.

Ia menjelaskan, lemak viseral memiliki tingkat peradangan yang tinggi dan berkaitan erat dengan peningkatan kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL). Karena itu, tubuh yang terlihat langsing belum tentu mencerminkan kondisi metabolisme yang sehat.

Menurutnya, ada empat faktor utama yang dapat menyebabkan orang bertubuh kurus mengalami kolesterol tinggi, yaitu faktor genetik, pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, kurangnya aktivitas fisik, serta obesitas sentral yang hanya bisa diketahui melalui pengukuran lingkar pinggang.
 

Kolesterol tinggi memicu penyumbatan pembuluh darah


Dr. Susetyo menjelaskan bahwa kolesterol tinggi dapat memicu terbentuknya plak aterosklerosis, yakni penumpukan kolesterol jahat pada dinding bagian dalam pembuluh darah.

"Keberadaan kolesterol jahat di dalam darah dalam waktu lama akan memicu timbulnya plak aterosklerosis," jelasnya.

Plak tersebut membuat pembuluh darah semakin menyempit sehingga aliran darah ke organ-organ vital, seperti jantung, otak, dan ginjal, menjadi terganggu. Akibatnya, pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan organ tidak lagi optimal.

Pada pembuluh darah jantung, penyempitan umumnya mulai dianggap signifikan ketika telah mencapai lebih dari 70 persen. Jika penyumbatan terus berkembang hingga menutup seluruh aliran darah, organ yang terdampak dapat mengalami kerusakan permanen.

Menurut Dr. Susetyo, organ seperti jantung, otak, dan ginjal memiliki kemampuan regenerasi yang sangat terbatas. Karena itu, kerusakan akibat aliran darah yang terhenti terlalu lama sering kali sulit dipulihkan meski sumbatan berhasil dibuka.
 

Sering tidak bergejala


Salah satu kesalahpahaman yang masih banyak beredar di masyarakat adalah anggapan bahwa kolesterol tinggi selalu menyebabkan keluhan, seperti nyeri tengkuk atau sakit kepala.

Padahal, menurut Dr. Susetyo, sebagian besar penderita kolesterol tinggi tidak merasakan gejala apa pun. "Kolesterol tinggi faktanya mayoritas tidak ada keluhan atau belum ada keluhan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan pengalaman orang lain sebagai acuan kondisi kesehatan. Diagnosis kolesterol tinggi hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan darah.

Karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga atau faktor risiko lainnya. Dengan deteksi dini, kolesterol tinggi dapat dikendalikan sebelum menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang berujung pada penyakit kardiovaskular.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH