FITNESS & HEALTH
Dosa Sih tapi Lucu! Ini Alasan Kenapa Kita Suka Refleks Ngakak Pas Orang Kena Apes
Yatin Suleha
Minggu 02 Agustus 2026 / 10:45
- Pernah gak sih, kamu tanpa sengaja senyum atau bahkan ketawa pas lihat orang lain kena apes yang sebetulnya tidak serius?
- Misalnya, ada teman yang sok pede banget tapi malah salah masuk ruangan, rekan kerja yang salah kostum, sampai misalnya orang masuk got.
- Reaksi spontan begini kadang bikin kita merasa bersalah sendiri. Tapi tidak semua rasa senang itu berarti kita punya sifat jahat.
Jakarta: Pernah gak sih, kamu tanpa sengaja senyum atau bahkan ketawa pas lihat orang lain kena apes yang sebetulnya tidak serius?
Misalnya, ada teman yang sok pede banget tapi malah salah masuk ruangan, rekan kerja yang salah kostum, atau pengendara yang nekat melanggar aturan lalu langsung disemprot petugas, sampai misalnya orang masuk got.
Reaksi spontan begini kadang bikin kita merasa bersalah sendiri. Tapi tenang, secara psikologis, tidak semua rasa senang melihat kesialan orang lain itu berarti kita punya sifat jahat, kok.
Dalam situasi tertentu, perasaan itu masuk kategori schadenfreude ringan yang masih aman dan wajar, asalkan kita tidak punya niat jahat atau kepengin lihat orang itu benar-benar menderita atau rugi besar.
Schadenfreude yang tidak berbahaya memang terdengar kontradiktif. Padahal, banyak banget komedi dalam hidup sehari-hari yang justru bersumber dari momen-momen kecil begini—ketika seseorang bikin salah sepele yang bikin ngakak tanpa meninggalkan dampak fatal.
(Schadenfreude adalah rasa senang, gembira saat orang lain mengalami kemalangan).
Mengutip Psychology Today via Aaron Ben-Zeév, Ph.D., seorang profesor filsafat sekaligus mantan Presiden Universitas Haifa, ada beberapa poin pembeda antara schadenfreude versi ringan dan versi yang toksik:
.jpg)
(Schadenfreude ringan saat melihat orang apes adalah hal wajar menurut psikologi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kunci utama dari schadenfreude jenis ini adalah keyakinan bahwa seseorang memang sedang panen apa yang dia tabur alias menerima konsekuensi yang pas sama kelakuannya. Rasa puas ini biasanya nyambung banget sama emosi lain kayak rasa iri atau gemas.
Contohnya, pas kita lagi terjebak macet, terus tiba-tiba ada pengendara songong yang nyerobot pakai bahu jalan. Tidak lama kemudian, tuh pengendara langsung dicegat polisi.
Rasa puas yang muncul biasanya bukan karena kita senang dia menderita, tapi lebih ke rasa lega karena hukum alam atau keadilan akhirnya jalan.
Walaupun standar "pantas atau tidak" tiap orang bisa beda-beda, kebanyakan orang bakal sepakat kalau seseorang memang layak menanggung akibat dari kecerobohannya sendiri.
Schadenfreude yang tidak berbahaya cuma bakal muncul kalau musibahnya kecil banget dan jauh dari kata penderitaan serius.
Contohnya pas ada orang yang belagu terus mobil barunya tidak sengaja kegores dikit, salah ngomong sampai bikin salah tingkah, atau bikin blunder receh yang sukses bikin orang sekitarnya senyum-senyum sendiri.
Beda cerita kalau orang itu kena musibah berat, kayak sakit parah, kecelakaan serius, atau kehilangan orang tercinta. Rasa senangnya bakal otomatis hilang, langsung berubah jadi empati dan rasa iba.
Hal ini membuktikan kalau schadenfreude sangat tergantung sama seberapa parah kejadiannya. Selama apesnya cuma sebatas hal sepele dan tidak menyakiti fisik atau mental secara berlebihan, reaksi itu masih masuk kategori wajar dalam interaksi sosial.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Misalnya, ada teman yang sok pede banget tapi malah salah masuk ruangan, rekan kerja yang salah kostum, atau pengendara yang nekat melanggar aturan lalu langsung disemprot petugas, sampai misalnya orang masuk got.
Reaksi spontan begini kadang bikin kita merasa bersalah sendiri. Tapi tenang, secara psikologis, tidak semua rasa senang melihat kesialan orang lain itu berarti kita punya sifat jahat, kok.
Dalam situasi tertentu, perasaan itu masuk kategori schadenfreude ringan yang masih aman dan wajar, asalkan kita tidak punya niat jahat atau kepengin lihat orang itu benar-benar menderita atau rugi besar.
Schadenfreude yang tidak berbahaya memang terdengar kontradiktif. Padahal, banyak banget komedi dalam hidup sehari-hari yang justru bersumber dari momen-momen kecil begini—ketika seseorang bikin salah sepele yang bikin ngakak tanpa meninggalkan dampak fatal.
(Schadenfreude adalah rasa senang, gembira saat orang lain mengalami kemalangan).
Mengutip Psychology Today via Aaron Ben-Zeév, Ph.D., seorang profesor filsafat sekaligus mantan Presiden Universitas Haifa, ada beberapa poin pembeda antara schadenfreude versi ringan dan versi yang toksik:
1. Faktor kesesuaian
.jpg)
(Schadenfreude ringan saat melihat orang apes adalah hal wajar menurut psikologi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kunci utama dari schadenfreude jenis ini adalah keyakinan bahwa seseorang memang sedang panen apa yang dia tabur alias menerima konsekuensi yang pas sama kelakuannya. Rasa puas ini biasanya nyambung banget sama emosi lain kayak rasa iri atau gemas.
Contohnya, pas kita lagi terjebak macet, terus tiba-tiba ada pengendara songong yang nyerobot pakai bahu jalan. Tidak lama kemudian, tuh pengendara langsung dicegat polisi.
Rasa puas yang muncul biasanya bukan karena kita senang dia menderita, tapi lebih ke rasa lega karena hukum alam atau keadilan akhirnya jalan.
Walaupun standar "pantas atau tidak" tiap orang bisa beda-beda, kebanyakan orang bakal sepakat kalau seseorang memang layak menanggung akibat dari kecerobohannya sendiri.
2. Kemalangan yang ringan
Schadenfreude yang tidak berbahaya cuma bakal muncul kalau musibahnya kecil banget dan jauh dari kata penderitaan serius.
Contohnya pas ada orang yang belagu terus mobil barunya tidak sengaja kegores dikit, salah ngomong sampai bikin salah tingkah, atau bikin blunder receh yang sukses bikin orang sekitarnya senyum-senyum sendiri.
Beda cerita kalau orang itu kena musibah berat, kayak sakit parah, kecelakaan serius, atau kehilangan orang tercinta. Rasa senangnya bakal otomatis hilang, langsung berubah jadi empati dan rasa iba.
Hal ini membuktikan kalau schadenfreude sangat tergantung sama seberapa parah kejadiannya. Selama apesnya cuma sebatas hal sepele dan tidak menyakiti fisik atau mental secara berlebihan, reaksi itu masih masuk kategori wajar dalam interaksi sosial.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)