FITNESS & HEALTH

Apakah Tekanan Kerja Tinggi Bisa Memicu Stroke di Usia Muda?

Yatin Suleha
Minggu 09 Agustus 2026 / 23:30
Ringkasnya gini..
  • Selama ini stroke sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang lansia.
  • Namun, anggapan tersebut kini tidak lagi sepenuhnya benar.
  • Menurut Dr. Kuha Raj Arumugam dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak pasien berusia 30 hingga 40 tahun yang datang dengan kondisi stroke.
Jakarta: Selama ini stroke sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang lansia. Namun, anggapan tersebut kini tidak lagi sepenuhnya benar.

Menurut Dr. Kuha Raj Arumugam, Spesialis Bedah Saraf di Rumah Sakit KPJ Spesialis Ampang Puteri Malaysia, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak pasien berusia 30 hingga 40 tahun yang datang dengan kondisi stroke maupun gangguan neurologis serius akibat tekanan kerja yang tinggi.

Selain itu juga karena hipertensi yang tidak terkontrol, serta faktor risiko pembuluh darah yang diabaikan.

Dalam praktik sehari-harinya di Rumah Sakit KPJ Spesialis Ampang Puteri, Dr. Kuha Raj Arumugam kerap menangani pasien stroke berat yang mengalami pembengkakan otak maupun perdarahan intrakranial. 
 
Kondisi tersebut sering kali membutuhkan tindakan bedah saraf darurat untuk menyelamatkan nyawa pasien sekaligus mencegah kecacatan permanen.
 

Kasus stroke di Malaysia masih tinggi


Stroke masih menjadi penyebab kematian ketiga tertinggi di Malaysia dan menjadi salah satu penyebab utama kecacatan jangka panjang. 

Pada tahun 2019, Malaysia mencatat sekitar 47.911 kasus stroke baru, hampir 19.928 kematian, serta lebih dari 443.995 orang hidup dengan dampak kecacatan akibat stroke.

Data epidemiologi juga menunjukkan bahwa stroke semakin banyak menyerang kelompok usia produktif. 

Angka kejadian stroke pada usia 35—39 tahun meningkat sekitar 53,3% pada pria dan 50,4% pada wanita, menunjukkan bahwa gaya hidup modern dan faktor risiko kardiovaskular mulai berdampak pada usia yang lebih muda.

Menurut Dr. Kuha Raj Arumugam, banyak kasus yang ditangani melibatkan perdarahan otak, pembengkakan otak berat, hingga pecahnya aneurisma yang membutuhkan penanganan segera agar fungsi otak dapat diselamatkan.
 

Tekanan kerja dan gaya hidup menjadi pemicu


Dr. Kuha Raj Arumugam menjelaskan bahwa tekanan kerja yang berlangsung dalam waktu lama dapat meningkatkan tekanan darah secara terus-menerus, mengganggu kualitas tidur, serta memicu gangguan metabolisme tubuh. 

Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya stroke iskemik maupun stroke hemoragik. 


(Dr. Kuha Raj Arumugam menjelaskan menjelaskan kondisi serius seperti perdarahan atau pembengkakan otak ini memerlukan penanganan medis darurat agar nyawa pasien selamat dan terhindar dari kecacatan jangka panjang. Foto: Dok. Istimewa)

Menurutnya, banyak profesional muda menganggap gejala seperti sakit kepala, pusing, kelelahan berkepanjangan, atau sulit berkonsentrasi hanya sebagai dampak pekerjaan yang padat.

Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda awal gangguan pada otak yang memerlukan pemeriksaan medis sesegera mungkin.
 

Burnout tak hanya berdampak pada mental, tetapi juga otak


Fenomena burnout atau kelelahan akibat pekerjaan kini menjadi masalah kesehatan yang semakin banyak ditemukan di berbagai negara Asia Tenggara. 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tekanan psikologis berkepanjangan berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk stroke. 

Dr. Kuha Raj Arumugam mengungkapkan bahwa di Rumah Sakit Spesialis Ampang Puteri, tidak sedikit pasien yang datang terlambat karena menganggap sakit kepala hebat, pusing, atau gangguan keseimbangan hanya sebagai kelelahan biasa. 

Padahal, keterlambatan penanganan dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen. 

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko stroke yang paling sering ditemukan dan sebenarnya dapat dikendalikan. 

Tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah di otak sehingga meningkatkan risiko perdarahan otak maupun pecahnya aneurisma.

Selain hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, serta kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang meningkatkan risiko stroke pada usia produktif.
 

Kapan stroke perlu operasi bedah saraf?


Menurut Dr. Kuha Raj Arumugam, tidak semua pasien stroke membutuhkan tindakan operasi. Namun, operasi bedah saraf dapat menjadi penyelamatan nyawa apabila terjadi:

- Pembengkakan otak yang berat dan tidak dapat dikendalikan

- Perdarahan otak yang menimbulkan tekanan tinggi pada jaringan otak

- Pecahnya aneurisma atau aneurisma yang berisiko tinggi pecah

- Hidrosefalus atau penumpukan cairan di otak setelah stroke

la menegaskan bahwa pasien sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki layanan bedah saraf, salah satunya seperti Rumah Sakit Spesialis Ampang Puteri, agar mendapatkan penanganan yang tepat secepat mungkin.
 

Kenali gejala stroke sejak dini


Dr. Kuha Raj Arumugam mengingatkan agar masyarakat, terutama para profesional muda, tidak mengabaikan gejala neurologis yang muncul secara tiba-tiba, seperti:

1. Lemah atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh
2. Sulit berbicara atau memahami pembicaraan
3. Sakit kepala hebat yang muncul mendadak
4. Gangguan keseimbangan, pusing berat, atau penglihatan kabur

Menurutnya, penanganan yang cepat akan memberikan peluang lebih besar untuk menyelamatkan fungsi otak serta mengurangi risiko kecacatan permanen.
 

Cara melindungi kesehatan otak di tengah tekanan pekerjaan


Sebagai Spesialis Bedah Saraf di Rumah Sakit Spesialis Ampang Puteri, Dr. Kuha Raj Arumugam menekankan bahwa menjaga kesehatan otak harus dimulai sebelum penyakit muncul. 

Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:

- Memeriksa tekanan darah secara rutin
- Mengelola stres melalui olahraga, istirahat yang cukup, dan menjaga kesehatan mental
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
- Segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami sakit kepala berkepanjangan atau muncul gejala gangguan saraf.

"Banyak profesional muda berpikir bahwa stroke hanya terjadi pada orang lanjut usia. Namun dalam praktik kami di Rumah Sakit Spesialis Ampang Puteri, semakin banyak pasien usia produktif yang datang dengan kondisi neurologis yang mengancam jiwa."
 
"Kesadaran untuk mengenali faktor risiko, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, dan mendapatkan penanganan sejak dini dapat mencegah dampak yang jauh lebih serius," ujar Dr. Kuha Raj Arumugam.

Seiring meningkatnya tuntutan pekerjaan dan gaya hidup modern, Dr. Kuha Raj Arumugam mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan otak. 

Mengelola stres, mengontrol tekanan darah, serta mengenali tanda-tanda stroke sejak dini merupakan investasi penting untuk menjaga kualitas hidup di masa depan.



(Dr. Kuha Raj Arumugam mengingatkan agar masyarakat, terutama para profesional muda, tidak mengabaikan gejala neurologis yang muncul secara tiba-tiba. Video: Dok. Instagram Dr Kuha Raj Arumugam/@drkuharaj.neuro)


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH