FITNESS & HEALTH
Jempol Gatal Mau Posting saat Marah? Ingat ‘Pause Before Posting’
A. Firdaus
Sabtu 08 Agustus 2026 / 17:10
- Beberapa jam sebelum menekan tombol unggah bisa membantu seseorang berpikir lebih jernih.
- Bukan cuma marah, rasa lelah yang berlebihan juga bisa membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif.
- Unggahan di media sosial dapat mencerminkan karakter, nilai, dan integritas seseorang.
Jakarta: Pernah merasa kesal atau marah, lalu tangan langsung gatal ingin membuat story, mengunggah status, atau membalas komentar di media sosial? Kalau iya, mungkin sudah waktunya menerapkan prinsip pause before posting.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, menyarankan pengguna media sosial memberikan jeda sebelum mengunggah sesuatu ketika emosi sedang meningkat.
Menurut Ratih, menunggu beberapa menit atau bahkan beberapa jam sebelum menekan tombol unggah bisa membantu seseorang berpikir lebih jernih dan mencegah emosi sesaat berubah menjadi masalah baru.
"Biasakan memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu. Prinsip sederhana seperti 'pause before posting' sangat membantu. Jika sedang marah, sebaiknya jangan langsung menulis atau mengunggah apa pun," kata Ratih melansir Antara.
Saran tersebut disampaikan Ratih menyusul peristiwa di media sosial ketika seorang warganet yang kini telah meninggal dunia bercerita mengenai pengalamannya belum mendapatkan kamar rumah sakit setelah menunggu selama delapan jam. Unggahan tersebut kemudian mendapat sejumlah komentar bernada perundungan dari warganet yang diidentifikasi sebagai tenaga kesehatan.
Menurut Ratih, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengenali tanda-tanda ketika emosi mulai meningkat.
Misalnya, tubuh terasa lebih tegang, pikiran dipenuhi kemarahan, atau muncul dorongan kuat untuk segera membalas komentar. Saat tanda-tanda tersebut muncul, sebaiknya jangan buru-buru membuka kolom komentar atau menekan tombol post.
Coba tinggalkan ponsel sebentar. Tarik napas, lakukan aktivitas lain, atau beri waktu sampai emosi terasa lebih stabil.
"Media sosial itu memang sebuah ruang untuk berekspresi. Tapi, media sosial bukan ruang yang bebas dari tanggung jawab," ujar Ratih.
Bukan cuma marah, rasa lelah yang berlebihan juga bisa membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif.
Karena itu, Ratih menyarankan masyarakat menjaga kualitas tidur, mengelola beban kerja, serta mengurangi paparan media sosial ketika tubuh dan pikiran sedang sangat lelah.
Memiliki cara yang sehat untuk melepas stres juga penting. Bisa dengan berolahraga, melakukan hobi, mengobrol dengan orang terdekat, atau sekadar mengambil waktu untuk beristirahat tanpa membuka media sosial.
Dengan kondisi tubuh dan pikiran yang lebih tenang, seseorang biasanya bisa mempertimbangkan kembali apakah sesuatu memang perlu dibagikan ke publik atau sebenarnya cukup disimpan untuk diri sendiri.
Sebelum mengunggah sesuatu, tidak ada salahnya bertanya kepada diri sendiri: "Kalau emosi ini sudah reda, apakah aku masih ingin posting ini?"
Pertanyaan sederhana tersebut bisa menjadi rem sebelum jempol bergerak terlalu cepat.
Pasalnya, unggahan di media sosial dapat mencerminkan karakter, nilai, dan integritas seseorang. Apa yang ditulis saat sedang emosi juga berpotensi menimbulkan konsekuensi yang lebih panjang daripada rasa marah yang biasanya hanya berlangsung sementara.
Jadi, kalau sedang kesal, nggak ada salahnya pause dulu, posting belakangan. Memberi jeda bukan berarti menahan diri untuk berekspresi, tetapi memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk memastikan bahwa apa yang dibagikan memang sudah dipikirkan dengan matang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, menyarankan pengguna media sosial memberikan jeda sebelum mengunggah sesuatu ketika emosi sedang meningkat.
Menurut Ratih, menunggu beberapa menit atau bahkan beberapa jam sebelum menekan tombol unggah bisa membantu seseorang berpikir lebih jernih dan mencegah emosi sesaat berubah menjadi masalah baru.
"Biasakan memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu. Prinsip sederhana seperti 'pause before posting' sangat membantu. Jika sedang marah, sebaiknya jangan langsung menulis atau mengunggah apa pun," kata Ratih melansir Antara.
Saran tersebut disampaikan Ratih menyusul peristiwa di media sosial ketika seorang warganet yang kini telah meninggal dunia bercerita mengenai pengalamannya belum mendapatkan kamar rumah sakit setelah menunggu selama delapan jam. Unggahan tersebut kemudian mendapat sejumlah komentar bernada perundungan dari warganet yang diidentifikasi sebagai tenaga kesehatan.
Kenali saat emosi mulai naik
Menurut Ratih, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengenali tanda-tanda ketika emosi mulai meningkat.
Misalnya, tubuh terasa lebih tegang, pikiran dipenuhi kemarahan, atau muncul dorongan kuat untuk segera membalas komentar. Saat tanda-tanda tersebut muncul, sebaiknya jangan buru-buru membuka kolom komentar atau menekan tombol post.
Coba tinggalkan ponsel sebentar. Tarik napas, lakukan aktivitas lain, atau beri waktu sampai emosi terasa lebih stabil.
"Media sosial itu memang sebuah ruang untuk berekspresi. Tapi, media sosial bukan ruang yang bebas dari tanggung jawab," ujar Ratih.
Jangan posting saat lagi capek banget
Bukan cuma marah, rasa lelah yang berlebihan juga bisa membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif.
Karena itu, Ratih menyarankan masyarakat menjaga kualitas tidur, mengelola beban kerja, serta mengurangi paparan media sosial ketika tubuh dan pikiran sedang sangat lelah.
Memiliki cara yang sehat untuk melepas stres juga penting. Bisa dengan berolahraga, melakukan hobi, mengobrol dengan orang terdekat, atau sekadar mengambil waktu untuk beristirahat tanpa membuka media sosial.
Dengan kondisi tubuh dan pikiran yang lebih tenang, seseorang biasanya bisa mempertimbangkan kembali apakah sesuatu memang perlu dibagikan ke publik atau sebenarnya cukup disimpan untuk diri sendiri.
Ingat, Jejak Digital Nggak Gampang Hilang
Sebelum mengunggah sesuatu, tidak ada salahnya bertanya kepada diri sendiri: "Kalau emosi ini sudah reda, apakah aku masih ingin posting ini?"
Pertanyaan sederhana tersebut bisa menjadi rem sebelum jempol bergerak terlalu cepat.
Pasalnya, unggahan di media sosial dapat mencerminkan karakter, nilai, dan integritas seseorang. Apa yang ditulis saat sedang emosi juga berpotensi menimbulkan konsekuensi yang lebih panjang daripada rasa marah yang biasanya hanya berlangsung sementara.
Jadi, kalau sedang kesal, nggak ada salahnya pause dulu, posting belakangan. Memberi jeda bukan berarti menahan diri untuk berekspresi, tetapi memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk memastikan bahwa apa yang dibagikan memang sudah dipikirkan dengan matang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)