FEATURE

Kok Makin Berusaha Percaya Diri Malah Makin Capek? Ini Alasannya

A. Firdaus
Sabtu 26 September 2026 / 13:53
Ringkasnya gini..
  • Self-esteem bisa naik turun kalau rasa berharga diri terlalu bergantung pada pencapaian.
  • Terlalu mengejar validasi lewat prestasi bisa bikin kita makin keras sama diri sendiri saat gagal.
  • Mengenali diri tanpa terus menghakimi bisa membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

Jakarta: Pernah nggak sih ngerasa hidup kayak harus terus upgrade? Karier harus naik, kerjaan harus bagus, penampilan harus oke, harus produktif, dan pokoknya jangan sampai kelihatan gagal.

Begitu berhasil, rasanya, “Oke, gue keren juga.” Tapi giliran satu hal aja nggak sesuai rencana, mood bisa langsung jungkir balik. Mulai muncul pikiran, “Jangan-jangan gue emang nggak sebagus itu?”

Padahal, bisa jadi masalahnya bukan kamu kurang percaya diri. Kamu mungkin cuma terlalu sering menjadikan pencapaian sebagai bukti bahwa diri kamu berharga.

Dalam artikel Psychology Today berjudul “The Self-Esteem Trap: Why Chasing Confidence Fails”, psikolog Leslie Becker-Phelps, Ph.D., menjelaskan bahwa self-esteem yang terlalu bergantung pada pencapaian bisa bikin rasa berharga diri ikut naik turun. Artikel tersebut pertama kali terbit 15 Juli 2025 dan diperbarui 4 Juni 2026.


 

ChatGPT Image 26 Sep 2026, 13_46_20

(Mengenali diri tanpa terus menghakimi bisa membantu membangun self-esteem. Foto: AI Generated)

 

Saat hidup terasa kayak ajang pembuktian

Coba deh pikirin. Dapat nilai bagus, senang. Kerjaan selesai, lega. Dapat pujian, makin pede. Itu semua wajar.

Tapi kalau setiap keberhasilan harus jadi bukti bahwa kamu “cukup baik”, capeknya bisa beda cerita.

Hari ini berhasil, besok harus lebih berhasil. Sudah dapat pujian, pengin dapat pujian lagi. Begitu gagal sedikit, inner critic langsung muncul paling depan.

Menurut Becker-Phelps, ketika self-esteem terlalu bergantung pada pencapaian, kegagalan bisa terasa seperti serangan terhadap diri sendiri. Akhirnya, yang dikritik bukan cuma hasilnya, tapi malah diri kita secara keseluruhan.

 


 

Nggak harus selalu jadi versi terbaik

Di era yang isinya orang pamer pencapaian, upgrade diri, sampai “becoming the best version of myself”, rasanya gampang banget ikut kebawa.

Padahal, kamu nggak harus setiap hari jadi versi paling produktif, paling cantik, paling sukses, atau paling percaya diri.

Boleh kok ada hari ketika kerjaan berantakan. Boleh juga gagal mencapai target. Yang penting, jangan langsung menarik kesimpulan kalau satu kegagalan berarti kamu adalah orang yang gagal.

 

Coba kenal diri tanpa ngegas

Becker-Phelps membahas pendekatan compassionate self-awareness, yaitu mengenali diri sendiri, termasuk kesalahan dan kekurangan, tanpa langsung menghajar diri.

Jadi, daripada bilang, “Gue emang payah,” coba berhenti di, “Oke, bagian ini memang gue salah. Terus, sekarang gue bisa belajar apa?”

Bedanya memang kelihatan kecil, tapi cara ngomong ke diri sendiri bisa menentukan apakah sebuah kegagalan cuma jadi pengalaman atau malah berubah jadi bahan untuk terus menyalahkan diri.

Pada akhirnya, rasa berharga nggak harus nunggu pencapaian berikutnya. Kamu tetap punya nilai meski hari ini belum produktif, belum sukses, atau masih figuring things out.

Nggak semua hari harus jadi glow up. Kadang, cukup jadi manusia yang lagi berusaha aja udah oke.



Desi Indasari



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH