FITNESS & HEALTH

Jangan Tunggu Sakit, Yuk Lebih Peduli pada Detak Jantung

A. Firdaus
Jumat 25 September 2026 / 11:11
Ringkasnya gini..
  • Hari Jantung Sedunia 2026 mengajak masyarakat lebih peduli pada kesehatan jantung lewat deteksi dini, skrining, aktivitas fisik, dan gaya hidup sehat.
  • Pesan mengenai kesehatan jantung juga dikemas melalui pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.
  • Jantung sehat dimulai dari mencegah dan deteksi dini
Jakarta: Pernah merasa jantung berdebar, tubuh cepat lelah, atau tekanan darah tiba-tiba naik? Tanda-tanda seperti ini mungkin terlihat sepele. Namun, tubuh sebenarnya sedang memberikan sinyal yang sebaiknya tidak diabaikan.

Pesan tersebut menjadi bagian dari kampanye Hari Jantung Sedunia 2026 yang diinisiasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).

Mengusung tema “Don't Miss A Beat”, kampanye ini mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh, peduli pada kesehatan jantung, serta mulai mengambil langkah nyata untuk menjalani hidup yang lebih sehat.

Rangkaian kampanye tersebut digelar menjelang puncak peringatan Hari Jantung Sedunia yang jatuh setiap 29 September.
 

Deteksi Dini Penyakit Jantung Rematik pada Anak


Salah satu fokus utama YJI tahun ini adalah skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR).

Penyakit tersebut menjadi perhatian karena dapat menyerang anak dan remaja. Melalui skrining, kondisi kesehatan jantung dapat diketahui lebih awal sehingga langkah penanganan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Ketua Umum YJI, Annisa Pohan Yudhoyono, mengatakan program skrining PJR telah dan akan dilakukan di empat lokasi, yakni Malang, Tulang Bawang di Lampung, Bekasi, dan Minahasa Utara.

“Skrining PJR adalah bentuk deteksi dini dan intervensi tepat sasaran. Kami ingin memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depannya karena penyakit jantung yang seharusnya bisa dicegah,” ujar Annisa.

Menurut Annisa, persoalan kesehatan jantung tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah, sektor swasta, akademisi, tenaga kesehatan, hingga masyarakat perlu terlibat dalam membangun lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat.

“Kampanye ini tidak boleh hanya seremonial, tetapi harus menjadi gerakan berkelanjutan yang mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia,” lanjutnya.
 

Fesyen Ikut Bicara soal Kesehatan Jantung


Pesan mengenai kesehatan jantung juga dikemas melalui pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Salah satunya melalui Fashion Nation 20th Edition yang akan berlangsung pada 25 September 2026 di Senayan City, Jakarta.

Acara tersebut merupakan charity fashion show yang menghadirkan sejumlah desainer, seperti Amot Syamsurimuda, Rinda Salmun, dan Glashka. Menariknya, para dokter spesialis jantung dan sejumlah figur publik juga akan tampil sebagai muse.

Sebagian hasil penjualan nantinya didonasikan untuk anak-anak dengan penyakit jantung bawaan dari keluarga prasejahtera.

Ketua Bidang Komunikasi YJI, Iwet Ramadhan, mengatakan kampanye Hari Jantung Sedunia 2026 menggunakan pendekatan 3E, yaitu Educate, Engage, dan Activate.

“Educate adalah memberikan informasi kesehatan yang kredibel dan mudah dicerna. Engage melibatkan publik figur, komunitas, dan media. Activate mendorong aksi nyata seperti olahraga dan pola hidup sehat,” jelas Iwet.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat pesan mengenai kesehatan jantung tidak berhenti sebagai informasi, tetapi mendorong masyarakat melakukan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
 

Jangan Lupa Periksa Detak Jantung


Puncak rangkaian Hari Jantung Sedunia 2026 akan berlangsung melalui World Heart Day Run 2026 pada 27 September 2026 di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Kegiatannya mencakup 5K Fun Run, Senam Jantung Sehat, serta pengumuman pemenang Body Transformation Competition (BTC).

BTC merupakan tantangan hidup sehat selama tiga bulan yang dimulai sejak Juni 2026. Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah parameter, termasuk perubahan komposisi tubuh, indeks massa tubuh (IMT), lingkar perut, tekanan darah, profil lipid, dan gula darah.

Selain aktivitas fisik, rangkaian kegiatan juga membawa pesan mengenai pentingnya mengenali gangguan irama jantung, khususnya Atrial Fibrillation (AF) atau fibrilasi atrium.

Salah satu edukasi yang dikenalkan adalah MENARI (Meraba Nadi Sendiri). Masyarakat diajak mengenali denyut nadi sendiri dan segera mencari pertolongan medis apabila menemukan irama yang tidak teratur, terutama jika disertai keluhan seperti jantung berdebar, lemas, atau sesak.

Edukasi Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar juga menjadi bagian dari kampanye. Masyarakat diajak mengetahui langkah dasar saat menghadapi kondisi henti jantung, mulai dari menghubungi layanan gawat darurat, melakukan resusitasi jantung paru (RJP/CPR), hingga menggunakan automated external defibrillator (AED) bila tersedia.

Ketua Panitia Hari Jantung Sedunia 2026, dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), mengatakan aktivitas fisik yang terukur dan skrining kesehatan secara rutin merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan kardiovaskular.
 

Pemantauan Kesehatan dari Rumah


Kampanye tahun ini juga mendapat dukungan dari sejumlah mitra, salah satunya OMRON Healthcare Indonesia.

Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, mengatakan dukungan tersebut sejalan dengan visi global perusahaan, “Going for Zero”, yang mendorong pencegahan untuk menekan risiko komplikasi stroke dan serangan jantung melalui deteksi dini serta pemantauan kesehatan secara berkala.

“Pencegahan penyakit kardiovaskular perlu dimulai dari kesadaran dan langkah nyata yang dapat dilakukan setiap hari,” ujar Tomoaki.

Sementara itu, Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia, Fanny Himawan, mengatakan pemantauan kesehatan dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

“Melalui semangat ‘Keep On, Life On’, kami ingin membantu masyarakat menjadikan pemantauan kesehatan sebagai bagian dari keseharian,” katanya.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah faktor risiko kardiovaskular, termasuk hipertensi dan gangguan irama jantung seperti AFib.
 

Jangan Menunggu Sakit untuk Peduli


Ketua Pengurus Pusat PERKI, dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD, mengatakan kolaborasi dalam kampanye Hari Jantung Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pencegahan penyakit kardiovaskular.

“Jantung sehat dimulai dari mencegah dan deteksi dini,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat menerapkan sejumlah kebiasaan yang dapat mendukung kesehatan jantung, seperti rutin beraktivitas fisik, mengendalikan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, berhenti merokok, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

“Jangan menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan jantung. Keren itu mencegah dan mendeteksi penyakit sejak dini,” tuturnya.

Pesan serupa disampaikan Icon Yayasan Jantung Indonesia, Ayu Dewi. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perubahan kecil yang dirasakan tubuh.

“Jangan abaikan tanda-tanda kecil dari tubuh. Mulai dari langkah kecil: periksa tekanan darah, rutin olahraga, kurangi gula dan garam,” pesannya.

Pada akhirnya, menjaga jantung tidak harus selalu dimulai dengan perubahan besar. Mengenali kondisi tubuh, bergerak lebih aktif, menjaga pola makan, dan melakukan pemeriksaan rutin bisa menjadi langkah awal.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH