FITNESS & HEALTH
Keputihan Pink saat Hamil, Normalkah atau Berbahaya?
A. Firdaus
Sabtu 26 September 2026 / 07:14
- Keputihan berwarna pink saat hamil bisa disebabkan campuran darah dengan cairan vagina.
- Warna pink sering muncul karena campuran darah dengan cairan vagina dan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor.
- Jika mengalami gejala atau tanda keguguran, termasuk bercak atau pendarahan vagina, aliran cairan tiba-tiba atau keluarnya jaringan dari vagina.
Jakarta: Penting untuk memahami bahwa keputihan adalah hal normal pada wanita hamil dan apa yang menjadi penyebab keputihan berwarna pink selama kehamilan, tapi perubahan warna seperti pink bisa menunjukkan sesuatu yang perlu diperhatikan.
Warna pink sering muncul karena campuran darah dengan cairan vagina dan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor.
Dilansir dari BabyCenter berikut adalah beberapa penyebab umum yang perlu diketahui agar bisa mengenali tanda-tanda dini dan segera berkonsultasi dengan dokter.
Keputihan berwarna pink, terutama jika disertai bau tidak sedap, dapat menjadi tanda infeksi vagina atau serviks, seperti trikomoniasis, klamidia, gonore, atau vaginosis bakterial (BV).
“Ketika jaringan mengalami peradangan dapat terjadi pendarahan, sehingga keputihan menjadi berwarna pink,” jelas Layan Alrahmani, M.D., seorang dokter kandungan dan spesialis kedokteran maternal-fetal yang bersertifikat, staf klinis dan asisten profesor di Loyola University di Chicago, serta anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
Penting untuk melakukan tes dan pengobatan infeksi karena memiliki infeksi menular seksual (IMS) atau infeksi lain selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti pecahnya membran prematur (PROM) dan kelahiran prematur.
Infeksi seperti ini bisa dideteksi melalui pemeriksaan rutin dan pengobatan dini membantu mencegah masalah lebih serius bagi ibu dan bayi.
“Pendarahan ringan pada awal kehamilan adalah hal yang umum dan tidak selalu berarti kamu akan mengalami keguguran,” kata American College of Obstetrics and Gynecology (ACOG).
Namun, bercak atau pendarahan juga merupakan tanda paling umum dari keguguran yang dapat terjadi hingga 20 minggu tetapi paling sering terjadi pada trimester pertama.
Menurut ACOG segera hubungi dokter kandungan jika mengalami gejala atau tanda keguguran, termasuk bercak atau pendarahan vagina, aliran cairan tiba-tiba atau keluarnya jaringan dari vagina.
Keguguran bisa disebabkan oleh masalah genetik atau kesehatan dan meskipun menyedihkan, banyak wanita pulih dengan baik setelahnya.
Kehamilan ektopik adalah kondisi di mana sel telur yang telah dibuahi menempel di tempat lain selain rahim. Mungkin mengalami pendarahan berwarna pink/merah atau coklat, disertai nyeri perut atau panggul dan nyeri bahu.
Kehamilan ektopik jarang terjadi, hanya terjadi pada 1 hingga 2 persen kehamilan. Namun, kondisi ini dapat berpotensi berbahaya, jadi penting untuk segera mencari bantuan medis. Kondisi ini memerlukan diagnosis cepat untuk menghindari komplikasi seperti pendarahan internal.
Kehamilan molar disebabkan oleh kelainan kromosom. Alih-alih embrio yang telah dibuahi dan plasenta berkembang secara normal, keduanya justru berkembang menjadi massa kantong-kantong kecil yang berisi cairan.
Kehamilan molar juga cukup jarang terjadi, terjadi pada sekitar 1 dari 1.000 kehamilan. Gejala-gejala seperti bercak atau pendarahan, mual dan muntah, keluarnya kista melalui vagina, kram perut, dan tekanan atau nyeri panggul dapat muncul sejak minggu ke-6 kehamilan.
Segera hubungi dokter atau bidan jika mengalami gejala kehamilan molar. Kondisi ini sering memerlukan pengangkatan jaringan abnormal dan pemantauan lanjutan.
(FIR)
Warna pink sering muncul karena campuran darah dengan cairan vagina dan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor.
Dilansir dari BabyCenter berikut adalah beberapa penyebab umum yang perlu diketahui agar bisa mengenali tanda-tanda dini dan segera berkonsultasi dengan dokter.
1. Infeksi
Keputihan berwarna pink, terutama jika disertai bau tidak sedap, dapat menjadi tanda infeksi vagina atau serviks, seperti trikomoniasis, klamidia, gonore, atau vaginosis bakterial (BV).
“Ketika jaringan mengalami peradangan dapat terjadi pendarahan, sehingga keputihan menjadi berwarna pink,” jelas Layan Alrahmani, M.D., seorang dokter kandungan dan spesialis kedokteran maternal-fetal yang bersertifikat, staf klinis dan asisten profesor di Loyola University di Chicago, serta anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
Penting untuk melakukan tes dan pengobatan infeksi karena memiliki infeksi menular seksual (IMS) atau infeksi lain selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti pecahnya membran prematur (PROM) dan kelahiran prematur.
Infeksi seperti ini bisa dideteksi melalui pemeriksaan rutin dan pengobatan dini membantu mencegah masalah lebih serius bagi ibu dan bayi.
2. Keguguran
“Pendarahan ringan pada awal kehamilan adalah hal yang umum dan tidak selalu berarti kamu akan mengalami keguguran,” kata American College of Obstetrics and Gynecology (ACOG).
Namun, bercak atau pendarahan juga merupakan tanda paling umum dari keguguran yang dapat terjadi hingga 20 minggu tetapi paling sering terjadi pada trimester pertama.
Menurut ACOG segera hubungi dokter kandungan jika mengalami gejala atau tanda keguguran, termasuk bercak atau pendarahan vagina, aliran cairan tiba-tiba atau keluarnya jaringan dari vagina.
Keguguran bisa disebabkan oleh masalah genetik atau kesehatan dan meskipun menyedihkan, banyak wanita pulih dengan baik setelahnya.
3. Kehamilan ektopik
Kehamilan ektopik adalah kondisi di mana sel telur yang telah dibuahi menempel di tempat lain selain rahim. Mungkin mengalami pendarahan berwarna pink/merah atau coklat, disertai nyeri perut atau panggul dan nyeri bahu.
Kehamilan ektopik jarang terjadi, hanya terjadi pada 1 hingga 2 persen kehamilan. Namun, kondisi ini dapat berpotensi berbahaya, jadi penting untuk segera mencari bantuan medis. Kondisi ini memerlukan diagnosis cepat untuk menghindari komplikasi seperti pendarahan internal.
4. Kehamilan molar
Kehamilan molar disebabkan oleh kelainan kromosom. Alih-alih embrio yang telah dibuahi dan plasenta berkembang secara normal, keduanya justru berkembang menjadi massa kantong-kantong kecil yang berisi cairan.
Kehamilan molar juga cukup jarang terjadi, terjadi pada sekitar 1 dari 1.000 kehamilan. Gejala-gejala seperti bercak atau pendarahan, mual dan muntah, keluarnya kista melalui vagina, kram perut, dan tekanan atau nyeri panggul dapat muncul sejak minggu ke-6 kehamilan.
Segera hubungi dokter atau bidan jika mengalami gejala kehamilan molar. Kondisi ini sering memerlukan pengangkatan jaringan abnormal dan pemantauan lanjutan.
(FIR)