FITNESS & HEALTH
Terapi Baru GERD Fexuprazan Resmi Hadir di Indonesia
A. Firdaus
Sabtu 26 September 2026 / 12:11
- Fexuprazan, terapi P-CAB untuk GERD, resmi diluncurkan di Indonesia.
- Peluncuran fexuprazan di Indonesia menjadi momentum penting dalam perkembangan terapi GERD.
- fexuprazan menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu ke-8.
Jakarta: Pilihan terapi untuk pasien gastroesophageal reflux disease (GERD) di Indonesia bertambah. PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia resmi meluncurkan fexuprazan, terapi potassium-competitive acid blocker (P-CAB) yang dikembangkan Daewoong untuk pengobatan GERD.
Peluncuran dilakukan melalui simposium ilmiah dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026 di Shangri-La Jakarta pada 18 September 2026. Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 157 dokter spesialis gastroenterologi dan penyakit dalam dari berbagai wilayah Indonesia.
Dalam simposium tersebut, Daewoong memaparkan sejumlah temuan ilmiah mengenai penggunaan P-CAB pada pasien GERD. Diskusi juga membahas strategi pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien serta peluang penguatan kolaborasi akademik dengan tenaga kesehatan di Indonesia.
GERD menjadi salah satu masalah kesehatan yang berkaitan dengan perubahan pola makan dan gaya hidup. Berdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit GERD di Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum diperkirakan mencapai sekitar 9,35 persen.
Data IQVIA juga menunjukkan pasar obat antiulkus di Indonesia mencapai sekitar Rp2,5 triliun atau USD164,3 juta pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6 persen.
Sementara itu, data dari rumah sakit rujukan tingkat tersier menunjukkan sekitar 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diagnosis yang tepat sekaligus penanganan yang sesuai sejak awal.
Simposium IDDW 2026 turut membahas hasil uji klinis yang melibatkan 134 pasien di tiga rumah sakit besar di Jakarta. Data tersebut menjadi salah satu bahan diskusi mengenai penggunaan P-CAB dalam konteks pasien di Indonesia.
Sesi ilmiah dipimpin bersama oleh Prof. Ji Won Kim, M.D., President-Elect Korean Gastroenterology Association sekaligus Professor, Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Seoul National University College of Medicine, SMG-SNU Boramae Medical Center, dan Prof. Dr. dr. Hery Djagat Purnomo, Sp.PD, K-GEH dari RSUD Dr. Soetomo.
Dalam sambutannya mewakili Korean Gastroenterology Association, Prof. Ji Won Kim mengatakan peluncuran fexuprazan di Indonesia menjadi momentum penting dalam perkembangan terapi GERD.
“Peluncuran resmi fexuprazan di Indonesia merupakan momentum yang sangat berarti. Sebagai terapi P-CAB generasi baru, kami berharap fexuprazan dapat menjadi salah satu tonggak baru dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pasien GERD di Indonesia,” ujar Prof. Ji Won Kim.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD, K-GEH, FACG, FACP, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) sekaligus Profesor di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, menyoroti tingginya proporsi pasien GERD dengan esofagitis erosif di Indonesia.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan klinis terhadap terapi yang mampu memberikan supresi asam secara cepat dan kuat sejak awal pengobatan.
“Penyusunan panduan terapi berbasis bukti ilmiah yang sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia dan didukung data klinis dari pasien Indonesia memiliki nilai ilmiah yang sangat penting,” ujar Prof. Ari.
Pengalaman penggunaan P-CAB di Korea Selatan juga menjadi bagian dari pembahasan dalam simposium tersebut.
Prof. Ahn Ji Yong, Professor of Gastroenterology di Asan Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, menjelaskan bahwa penggunaan P-CAB di Korea Selatan berkembang sebagai salah satu pilihan untuk menjawab kebutuhan klinis yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh proton pump inhibitor (PPI).
“Di Korea Selatan, terapi P-CAB telah diperkenalkan secara bertahap sehingga pengalaman klinis penggunaannya terus bertambah,” jelas Prof. Ahn.
Ia juga memaparkan hasil studi fase 3 yang melibatkan 263 pasien Korea dengan esofagitis erosif. Dalam studi tersebut, fexuprazan menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu ke-8.
Menurut Prof. Ahn, hasil tersebut menunjukkan efektivitas klinis fexuprazan dalam pengobatan esofagitis erosif.
Kehadiran fexuprazan di Indonesia juga diharapkan tidak hanya menambah pilihan terapi, tetapi turut mendorong pertukaran pengetahuan mengenai penanganan GERD.
Brand and Marketing Manager PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan pihaknya akan melanjutkan kegiatan edukasi dan pertukaran ilmiah bersama tenaga kesehatan.
“Kami berharap kehadiran fexuprazan dapat menjadi katalis bagi perkembangan terapi GERD di Indonesia. Daewoong akan terus memperluas pertukaran ilmiah dan kegiatan edukasi bersama tenaga kesehatan guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan bagi pasien di Indonesia,” pungkas dr. Wicak.
Dengan semakin berkembangnya pilihan terapi, penanganan GERD tetap membutuhkan diagnosis yang tepat dan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Konsultasi dengan dokter menjadi bagian penting sebelum menentukan terapi yang sesuai.
(FIR)
Peluncuran dilakukan melalui simposium ilmiah dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026 di Shangri-La Jakarta pada 18 September 2026. Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 157 dokter spesialis gastroenterologi dan penyakit dalam dari berbagai wilayah Indonesia.
Dalam simposium tersebut, Daewoong memaparkan sejumlah temuan ilmiah mengenai penggunaan P-CAB pada pasien GERD. Diskusi juga membahas strategi pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien serta peluang penguatan kolaborasi akademik dengan tenaga kesehatan di Indonesia.
Beban GERD di Indonesia
GERD menjadi salah satu masalah kesehatan yang berkaitan dengan perubahan pola makan dan gaya hidup. Berdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit GERD di Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum diperkirakan mencapai sekitar 9,35 persen.
Data IQVIA juga menunjukkan pasar obat antiulkus di Indonesia mencapai sekitar Rp2,5 triliun atau USD164,3 juta pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6 persen.
Sementara itu, data dari rumah sakit rujukan tingkat tersier menunjukkan sekitar 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diagnosis yang tepat sekaligus penanganan yang sesuai sejak awal.
Simposium IDDW 2026 turut membahas hasil uji klinis yang melibatkan 134 pasien di tiga rumah sakit besar di Jakarta. Data tersebut menjadi salah satu bahan diskusi mengenai penggunaan P-CAB dalam konteks pasien di Indonesia.
Sesi ilmiah dipimpin bersama oleh Prof. Ji Won Kim, M.D., President-Elect Korean Gastroenterology Association sekaligus Professor, Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Seoul National University College of Medicine, SMG-SNU Boramae Medical Center, dan Prof. Dr. dr. Hery Djagat Purnomo, Sp.PD, K-GEH dari RSUD Dr. Soetomo.
P-CAB dan Pengobatan GERD
Dalam sambutannya mewakili Korean Gastroenterology Association, Prof. Ji Won Kim mengatakan peluncuran fexuprazan di Indonesia menjadi momentum penting dalam perkembangan terapi GERD.
“Peluncuran resmi fexuprazan di Indonesia merupakan momentum yang sangat berarti. Sebagai terapi P-CAB generasi baru, kami berharap fexuprazan dapat menjadi salah satu tonggak baru dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pasien GERD di Indonesia,” ujar Prof. Ji Won Kim.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD, K-GEH, FACG, FACP, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) sekaligus Profesor di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, menyoroti tingginya proporsi pasien GERD dengan esofagitis erosif di Indonesia.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan klinis terhadap terapi yang mampu memberikan supresi asam secara cepat dan kuat sejak awal pengobatan.
“Penyusunan panduan terapi berbasis bukti ilmiah yang sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia dan didukung data klinis dari pasien Indonesia memiliki nilai ilmiah yang sangat penting,” ujar Prof. Ari.
Pengalaman Penggunaan Fexuprazan di Korea Selatan
Pengalaman penggunaan P-CAB di Korea Selatan juga menjadi bagian dari pembahasan dalam simposium tersebut.
Prof. Ahn Ji Yong, Professor of Gastroenterology di Asan Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, menjelaskan bahwa penggunaan P-CAB di Korea Selatan berkembang sebagai salah satu pilihan untuk menjawab kebutuhan klinis yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh proton pump inhibitor (PPI).
“Di Korea Selatan, terapi P-CAB telah diperkenalkan secara bertahap sehingga pengalaman klinis penggunaannya terus bertambah,” jelas Prof. Ahn.
Ia juga memaparkan hasil studi fase 3 yang melibatkan 263 pasien Korea dengan esofagitis erosif. Dalam studi tersebut, fexuprazan menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu ke-8.
Menurut Prof. Ahn, hasil tersebut menunjukkan efektivitas klinis fexuprazan dalam pengobatan esofagitis erosif.
Dorong Edukasi dan Pertukaran Ilmiah
Kehadiran fexuprazan di Indonesia juga diharapkan tidak hanya menambah pilihan terapi, tetapi turut mendorong pertukaran pengetahuan mengenai penanganan GERD.
Brand and Marketing Manager PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan pihaknya akan melanjutkan kegiatan edukasi dan pertukaran ilmiah bersama tenaga kesehatan.
“Kami berharap kehadiran fexuprazan dapat menjadi katalis bagi perkembangan terapi GERD di Indonesia. Daewoong akan terus memperluas pertukaran ilmiah dan kegiatan edukasi bersama tenaga kesehatan guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan bagi pasien di Indonesia,” pungkas dr. Wicak.
Dengan semakin berkembangnya pilihan terapi, penanganan GERD tetap membutuhkan diagnosis yang tepat dan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Konsultasi dengan dokter menjadi bagian penting sebelum menentukan terapi yang sesuai.
(FIR)