FITNESS & HEALTH

DBD Nggak Lagi Musiman, Edukasi & Akses Kesehatan Jadi Kunci

A. Firdaus
Rabu 06 Mei 2026 / 21:12
Ringkasnya gini..
  • Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan di Indonesia.
  • Takeda dan Halodoc menghadirkan berbagai inisiatif.
  • DBD juga berdampak besar pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif.
Jakarta: Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata kasus DBD dalam 20 tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat. Bahkan, siklus puncak kasus kini terjadi lebih cepat, dari sekitar 10 tahun menjadi tiga tahun atau kurang.

Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis untuk memperkuat upaya pencegahan DBD di Indonesia. Kolaborasi ini berfokus pada peningkatan edukasi serta akses layanan kesehatan bagi tenaga medis dan masyarakat luas.

Penyakit ini juga tidak lagi bersifat musiman. DBD dapat terjadi sepanjang tahun dan menyerang berbagai kelompok usia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Dampaknya pun meluas, tidak hanya pada kesehatan individu, tetapi juga produktivitas keluarga hingga ekonomi nasional. Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada 2024, dengan beban pembiayaan mencapai sekitar Rp3 triliun.
Melalui kemitraan ini, Takeda dan Halodoc menghadirkan berbagai inisiatif, mulai dari edukasi bagi tenaga kesehatan hingga kampanye publik melalui platform digital. Masyarakat juga dapat mengakses layanan konsultasi dokter untuk mendapatkan informasi akurat mengenai DBD dan langkah pencegahannya, termasuk vaksinasi.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menekankan bahwa dengue dapat berkembang menjadi kondisi serius dan berpotensi mengancam jiwa. Hingga saat ini, belum tersedia terapi spesifik untuk menyembuhkan penyakit ini, sehingga pencegahan menjadi langkah utama.

“Sebagai mitra Kementerian Kesehatan, kami berkomitmen mendukung target nol kematian akibat dengue pada 2030 melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Senada, CEO & Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, menyebut kemitraan ini bertujuan memperluas akses edukasi dan layanan kesehatan yang tepercaya. Ia juga mengungkapkan bahwa akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc meningkat hampir dua kali lipat pada kuartal I 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.
 

Pencegahan jadi kunci


Momentum Pekan Imunisasi Dunia menjadi pengingat pentingnya langkah pencegahan sebagai fondasi perlindungan kesehatan masyarakat. Dalam konteks DBD, upaya ini semakin relevan mengingat risiko penularan yang terjadi sepanjang tahun, diperparah oleh perubahan pola cuaca.

Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, menjelaskan bahwa DBD memiliki perjalanan penyakit yang sulit diprediksi, terutama pada anak-anak.

“Gejala awal seperti demam tinggi, nyeri otot, hingga mual bisa berkembang cepat menjadi kondisi serius seperti perdarahan dan syok. Karena itu, pencegahan harus dilakukan secara komprehensif,” jelasnya.

Ia menambahkan, langkah pencegahan dapat dimulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan seperti imunisasi, yang kini direkomendasikan untuk anak usia 4–18 tahun sesuai persetujuan terbaru dari BPOM.

Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto Koesnoe, menyoroti bahwa DBD juga berdampak besar pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif.

“Banyak pasien dewasa yang harus dirawat inap akibat dengue, yang akhirnya mengganggu aktivitas dan produktivitas. Risiko komplikasi juga meningkat pada mereka yang memiliki penyakit penyerta,” ujarnya.
 

Peran kolaborasi dan kesadaran


Perubahan iklim dengan suhu yang semakin tinggi turut meningkatkan risiko penyebaran DBD. Oleh karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kesadaran, hingga memanfaatkan inovasi layanan kesehatan.

Melalui kolaborasi ini, Takeda dan Halodoc berharap dapat mendorong partisipasi lebih luas dari berbagai pihak dalam memperkuat pencegahan DBD di Indonesia. Upaya berkelanjutan ini diharapkan mampu menekan angka kasus sekaligus melindungi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH