FITNESS & HEALTH
Kram dan Kembung Tak Kunjung Hilang? Waspadai Gejala Kanker Usus pada Wanita Muda
A. Firdaus
Selasa 09 Juni 2026 / 15:12
- Gejala awal kanker usus besar pada wanita muda sering kali tidak disadari karena mirip dengan gangguan pencernaan biasa atau keluhan saat menstruasi.
- Sekitar tiga dari empat kasus kanker usus yang terdiagnosis pada usia muda baru diketahui saat sudah memasuki stadium lanjut.
- Risiko berbagai gangguan pencernaan, termasuk kanker usus, dapat meningkat jika tidak ditangani dengan baik.
Jakarta: Kanker usus besar atau kanker kolorektal kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Sejumlah penelitian menunjukkan kasus kanker usus semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk wanita berusia 20 hingga 30 tahun.
Ahli gastroenterologi dan hepatologi, dr. Saurabh Sethi, mengingatkan bahwa gejala awal kanker usus besar pada wanita muda sering kali tidak disadari karena mirip dengan gangguan pencernaan biasa atau keluhan saat menstruasi.
Dilansir dari Hindustan Times, gejala seperti kram perut, perut kembung, perubahan pola buang air besar, hingga kekurangan zat besi tanpa penyebab yang jelas perlu mendapat perhatian lebih.
"Kram, kembung, dan perubahan kebiasaan buang air besar pada wanita muda sering kali diabaikan selama bertahun-tahun. Sementara itu, kanker usus besar dapat berkembang secara diam-diam," kata Sethi.
Ia menambahkan, sekitar tiga dari empat kasus kanker usus yang terdiagnosis pada usia muda baru diketahui saat sudah memasuki stadium lanjut.
Menurut Sethi, meningkatnya konsumsi makanan ultra proses turut berkontribusi terhadap kenaikan kasus kanker usus pada kelompok usia muda.
Makanan ultra proses umumnya mengandung bahan tambahan, gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi, namun rendah serat dan nutrisi penting. Pola makan seperti ini dapat mengurangi keragaman mikrobioma usus serta memicu peradangan kronis pada saluran pencernaan.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan sel yang berujung pada kanker usus besar. Ia menyebut angka kanker kolorektal usia muda terus meningkat sekitar tiga persen sejak 2013.
Selain membatasi makanan ultra proses, Sethi juga menyoroti pentingnya konsumsi serat yang cukup setiap hari.
Serat berperan penting dalam menjaga keseimbangan bakteri baik di usus dan mendukung kesehatan sistem pencernaan secara keseluruhan.
"Rata-rata wanita hanya mengonsumsi sekitar 15 gram serat per hari, padahal kebutuhan hariannya mencapai sekitar 25 gram," jelasnya.
Asupan serat dapat diperoleh dari sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan makanan utuh lainnya.
Tak hanya pola makan, stres berkepanjangan juga disebut dapat memengaruhi kesehatan usus. Kondisi ini dapat memicu peradangan, mengganggu keseimbangan mikrobioma, dan mempercepat kerusakan sel pada lapisan usus besar.
Akibatnya, risiko berbagai gangguan pencernaan, termasuk kanker usus, dapat meningkat jika tidak ditangani dengan baik.
Meski skrining kanker usus umumnya direkomendasikan mulai usia 45 tahun, banyak pasien yang justru didiagnosis pada usia lebih muda. Sayangnya, gejala awal sering kali dianggap sebagai masalah pencernaan ringan sehingga pemeriksaan medis tertunda.
Karena itu, jika mengalami kram perut berulang, kembung yang tidak kunjung membaik, perubahan pola buang air besar, atau kekurangan zat besi tanpa penyebab yang jelas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Deteksi dini tetap menjadi salah satu kunci utama untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan kanker usus besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Ahli gastroenterologi dan hepatologi, dr. Saurabh Sethi, mengingatkan bahwa gejala awal kanker usus besar pada wanita muda sering kali tidak disadari karena mirip dengan gangguan pencernaan biasa atau keluhan saat menstruasi.
Dilansir dari Hindustan Times, gejala seperti kram perut, perut kembung, perubahan pola buang air besar, hingga kekurangan zat besi tanpa penyebab yang jelas perlu mendapat perhatian lebih.
"Kram, kembung, dan perubahan kebiasaan buang air besar pada wanita muda sering kali diabaikan selama bertahun-tahun. Sementara itu, kanker usus besar dapat berkembang secara diam-diam," kata Sethi.
Ia menambahkan, sekitar tiga dari empat kasus kanker usus yang terdiagnosis pada usia muda baru diketahui saat sudah memasuki stadium lanjut.
Pola makan jadi salah satu pemicu
Menurut Sethi, meningkatnya konsumsi makanan ultra proses turut berkontribusi terhadap kenaikan kasus kanker usus pada kelompok usia muda.
Makanan ultra proses umumnya mengandung bahan tambahan, gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi, namun rendah serat dan nutrisi penting. Pola makan seperti ini dapat mengurangi keragaman mikrobioma usus serta memicu peradangan kronis pada saluran pencernaan.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan sel yang berujung pada kanker usus besar. Ia menyebut angka kanker kolorektal usia muda terus meningkat sekitar tiga persen sejak 2013.
Kurang serat, risiko makin besar
Selain membatasi makanan ultra proses, Sethi juga menyoroti pentingnya konsumsi serat yang cukup setiap hari.
Serat berperan penting dalam menjaga keseimbangan bakteri baik di usus dan mendukung kesehatan sistem pencernaan secara keseluruhan.
"Rata-rata wanita hanya mengonsumsi sekitar 15 gram serat per hari, padahal kebutuhan hariannya mencapai sekitar 25 gram," jelasnya.
Asupan serat dapat diperoleh dari sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan makanan utuh lainnya.
Stres juga berpengaruh
Tak hanya pola makan, stres berkepanjangan juga disebut dapat memengaruhi kesehatan usus. Kondisi ini dapat memicu peradangan, mengganggu keseimbangan mikrobioma, dan mempercepat kerusakan sel pada lapisan usus besar.
Akibatnya, risiko berbagai gangguan pencernaan, termasuk kanker usus, dapat meningkat jika tidak ditangani dengan baik.
Meski skrining kanker usus umumnya direkomendasikan mulai usia 45 tahun, banyak pasien yang justru didiagnosis pada usia lebih muda. Sayangnya, gejala awal sering kali dianggap sebagai masalah pencernaan ringan sehingga pemeriksaan medis tertunda.
Karena itu, jika mengalami kram perut berulang, kembung yang tidak kunjung membaik, perubahan pola buang air besar, atau kekurangan zat besi tanpa penyebab yang jelas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Deteksi dini tetap menjadi salah satu kunci utama untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan kanker usus besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)