FITNESS & HEALTH

Gangguan Refraksi Bisa Akibatkan Daya Imajinasi Rendah, Caranya Bagaimana?

Aulia Putriningtias
Senin 19 Oktober 2026 / 15:00
Ringkasnya gini..
  • Gangguan refraksi atau penglihatan biasanya kita baru temukan sejak di bangku sekolah.
  • Kabar buruknya, gangguan ini mengalami peningkatan sejak era pandemi Covid-19.
  • Sebanyak 7 dari 10 siswa SD mengalami penurunan fungsi kognitif.

Jakarta: Gangguan refraksi atau penglihatan biasanya kita baru temukan sejak di bangku sekolah. Kabar buruknya, gangguan ini mengalami peningkatan sejak era pandemi Covid-19.
 

Menurut penelitian dari IHDC Strategic Research Series, Silent Cognitive Crisis tahun 2026, terjadi peningkatan 40 persen terhadap anak sekolah yang mengalami gangguan refraksi. Hal ini menyebabkan 1,68x risiko keterlambatan literasi pada anak.
 

Prof. Nila F. Moeloek, Pendiri dan Ketua Dewan Pembina IHDC menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia dimulai denhan memastikan anak memperoleh kondisi kesehatan yang mendukung proses belajar.

 

 

Namun, kabar tidak menyenangkan lainnha disampaikan oleh Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi selaku peneliti IHDC, Indonesia masuk ke dalam urutan ke-17 penurunan sains terbesar. Angkanya mencapai -32 poin per dekade.
 

Sebanyak 7 dari 10 siswa SD mengalami penurunan fungsi kognitif akibat gangguan refraksi ini. Di mana 68,5 persen terjadi penurunan kognitif, ditambah 49,3 persen terjadi imajinasi masa depan yang rendah.
 

Lantas, apa hubungannya gangguan refraksi dengan imajinasi masa depan yang rendah? Dr. Ray lebih lanjut menjelaskan bahwa pada dasarnya untuk melihat dan memikirkan gambaran masa depan, diperlukan pemikiran dasar kognitif yang diajarkan melalui sains.
 

"Daya imajinasi ini kan merupakan wujud cara menginpretasikan masa depan dia (anak)," kata dr. Ray dalam diskusi media di Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026.
 

Penglihatan merupakan sarana dan wadah awal ketika menyerap sebuah informasi. Jika sudah memiliki gangguan penglihatan, anak berisiko kesulitan untuk memformulasikan masa depan, bahkan tak menemukan model yang terbaik baginya.
 

Sudah ada media sosial, apakah daya imajinasi tetap terganggu?


Media sosial saat ini memberikan banyak sekali informasi, bahkan mengenai karir. Kamu mungkin dapat menemukan bagaimana caranya belajar dan mengeksplorasi mengenai pekerjaan di masa depan yang didambakan.
 

Namun, menurut dr. Ray, justru poin utamanya adalah di masa dini yang di mana otak tengah berkembang. Jika mengalami gangguan kognitif seperti penglihatan, kejiwaan, dan nutrisi, maka akan sulit juga seorang anak meregulasi daya pikirnya.
 

Jadi, meskipun sudah banyak sekali media sosial yang memaparkan bagaimana gambaran masa depan, anak tetap tidak akan menangkap modelnya seperti apa yang harus diterapkan jika mengalami gangguan-gangguan kognitif, salah satunya penglihatan.
 

Dr. Ray menambahkan bahwa keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan memiliki peran bersama dalam mendukung kemampuan belajar anak. 
 

"Setiap anak dalam studi ini mewakili anak yang berhak memperoleh kesempatan belajar sebaik mungkin. Membanth anak melihat lebih jelas dan mendapatkan pertolongan ketika cemas merupakan langkah konkret untuk mendukung kemampuan belajar serta keyakinan menghadapi masa depan," tutup dr. Ray.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH