BEAUTY

Evolusi Sunscreen dari Masa ke Masa: Dulu Pakai 'Lumpur', Sekarang Tinggal Semprot!

Yatin Suleha
Rabu 21 Oktober 2026 / 18:00
Ringkasnya gini..
  • Yuk, kita ngobrol soal sejarah panjang sunscreen.
  • Gimana orang zaman baheula melindungi kulit mereka sebelum ada botol-botol sunscreen kekinian yang lightweight dan anti white cast?
  • Yuk, time travel sebentar buat melihat perjalanan panjang sunscreen dari masa ke masa!
Jakarta: Zaman sekarang, siapa sih yang berani keluar rumah tanpa re-apply sunscreen? Skincare item satu ini sudah fix jadi holy grail wajib biar kulit gak kena burnout alias gosong gara-gara paparan sinar UV. 

Tapi, pernah penasaran gak sih, gimana orang zaman baheula melindungi kulit mereka sebelum ada botol-botol sunscreen kekinian yang lightweight dan anti white cast?

Yuk, time travel sebentar buat melihat perjalanan panjang sunscreen dari masa ke masa!
   

1. Zaman Purba: Racikan alami orang kuno



 
Masyarakat Mesir Kuno
(Masyarakat Mesir Kuno sudah pakai racikan bahan alami buat lindungi kulit dari sinar matahari. Sumber: Reddit)
 
Gak cuma Gen Z yang peduli skin barrier, ternyata orang Mesir Kuno, Yunani, dan Tiongkok ribuan tahun lalu udah aware banget sama bahaya paparan matahari. 

Waktu itu belum ada laboratorium canggih, jadi mereka memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar mereka:

- Mesir Kuno: Mengoleskan campuran dedaunan padi (rice bran), ekstrak melati, dan lupin untuk mencegah kulit makin gelap.

- Yunani Kuno: Para atlet Olimpiade memakai minyak zaitun saat berlatih di bawah terik matahari.

- Orang Tiongkok & Suku Asli: Memakai bubuk mutiara, lumpur, sampai minyak tumbuh-tumbuhan sebagai tameng UV alami.
 

2. Tahun 1930-an: Lahirnya sunscreen modern pertama


Memasuki abad ke-20, para ilmuwan mulai tergerak buat menciptakan racikan khusus pelindung matahari secara kimiawi:

- 1931: Kimiawan asal Australia, Milton Blake, berhasil meracik krim pelindung matahari pertama di dapurnya.

- 1936: Pendiri L’Oréal, Eugène Schueller, meluncurkan produk minyak pelindung matahari komersial pertama bernama Ambre Solaire.

- 1944: Saat Perang Dunia II, seorang apoteker bernama Benjamin Green membuat cairan berwarna merah tebal (Red Veterinary Petrolatum) buat para prajurit AS yang bertempur di bawah terik terik matahari Pasifik. 

Meski lengket dan gak nyaman, racikan inilah yang nantinya berkembang jadi cikal bakal merek legendaris Coppertone!
 

3. Tahun 1960–1970-an: Munculnya istilah "SPF"


awal mula SPF
(Perkembangan sunscreen makin pesat dengan diperkenalkannya sistem nilai SPF. Sumber: Vacation Inc)

Sebelum tahun 60-an, orang-orang asal pakai lotion tanpa tahu seberapa ampuh ketahanannya. Baru pada tahun 1962, seorang ilmuwan asal Austria bernama Franz Greiter memperkenalkan sistem pengukur kekuatan sunscreen yang kita kenal sampai sekarang sebagai SPF (Sun Protection Factor). 

Uniknya, sunscreen ciptaannya saat itu baru punya rating SPF 2! 

Dalam Coppertone disebutkan SPF (Sun Protection Factor) adalah ukuran yang menunjukkan seberapa baik suatu produk tabir surya melindungi kulit dari sinar UVB, yaitu sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kulit terbakar (sunburn) dan risiko kanker kulit.

Dan berkembang terus, The AAD (American Academy of Dermatology) merekomendasikan penggunaan sunscreen dengan setidaknya SPF 30.
   

4. Era 1990-an sampai sekarang: Inovasi formula makin slay!


Dulu, sunscreen identik sama tekstur yang pekat, bau bahan kimia menyengat, bikin muka dempul, dan ninggalin white cast parah. Tapi berkat perkembangan teknologi dermatologi, industri skincare makin inovatif:

- Pengenalan Broad Spectrum: Formula baru yang gak cuma nahan UVA (penyebab penuaan/flek) tapi juga UVB (penyebab kulit terbakar).

- Tekstur Ringan & Multi-fungsi: Sekarang kita dimanjakan sama berbagai bentuk sunscreen—mulai dari gel, moisturizer hybrid, stick, sampai spray yang serba praktis.

- Aman untuk Kulit Sensitif & Ramah Lingkungan: Banyak merek modern yang meluncurkan physical/mineral sunscreen tanpa zat kimia berbahaya bagi terumbu karang (reef-safe).

Nah, terbukti kan kalau sunscreen itu bukan sekadar tren sesaat, melainkan bentuk investasi jangka panjang buat kesehatan kulit dari masa ke masa. Jadi, hari ini kamu udah re-apply sunscreen belum, Bestie?

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH