Menembus Batas Praktik: Kisah dr. Ray Wagiu Basrowi Pilih Jalur Dokter yang Gak Biasa
- dr. Ray Wagiu Basrowi memilih jalur kedokteran komunitas setelah menyadari dirinya tidak ingin menjadi dokter klinis.
- Perjalanannya dari dunia media hingga riset kesehatan masyarakat membawanya menaruh perhatian pada isu laktasi, kesehatan mental, dan persoalan sosial masyarakat.
- Kini, dr. Ray ingin dikenal sebagai health advocate yang mengajak masyarakat ikut mengambil peran dalam menjaga kesehatan.
Jakarta: Sabtu siang (22 Agustus) lalu, bertempat di sebuah mal di Jakarta Selatan, Medcom berkesempatan mewawancarai seorang dokter muda yang wajah gantengnya wara-wiri di berbagai platform.
Berkemeja coklat tua, ia dan koleganya telah duduk menunggu tim Medcom. "Selamat siang, kita jumpa lagi ya.." buka dokter yang selalu ramah ini.
Sambil melempar senyum ia mempersilakan kami untuk memilih minuman serta makanan.
Suasana perbincangan siang jelang sore itu terasa begitu cair dan jauh dari kesan kaku, khas dokter yang terbiasa dekat dengan publik.
Dan ternyata gak semua dokter seperti kebanyakan yang ada di pikiran kita semua, yaitu mesti bertemu pasien dan memberikan resep obat.
Hal ini membuktikan kalau peran seorang dokter jauh lebih luas dari sekadar praktisi di ruang periksa.
Bagi Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, seorang Peneliti dan praktisi kedokteran komunitas dan kedokteran kerja, perjalanan itu justru membawanya ke berbagai ruang lain, dari kegiatan sosial dan dunia media hingga riset kesehatan masyarakat.
Jauh sebelum dikenal sebagai dokter dan peneliti, dr. Ray sudah aktif dalam berbagai kegiatan sejak masih duduk di bangku SMA.
Ia terlibat dalam kegiatan volunteering, termasuk HIV/AIDS Prevention Project di Manado.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya berinteraksi dengan lebih banyak orang melalui berbagai kegiatan publik hingga dunia media.
.jpeg)
(Dr. Ray juga merupakan praktisi industri yang aktif sebagai Medical and Scientific Affairs Director / Medical Science Director di Danone Specialized Nutrition Indonesia. Foto: Dok. Istimewa)
Saat masih menjadi mahasiswa kedokteran, dr. Ray terlibat di radio Smart FM Manado sebagai jurnalis kesehatan sekaligus pembawa acara program kesehatan.
Pengalamannya di media kemudian berlanjut ke TVRI Manado hingga TVRI Pusat sebagai news anchor.
Namun, ketika menjalani koas (co-assistant), dr. Ray justru menemukan arah yang berbeda.
“Pada saat itu saya tahu, oh saya gak akan tertarik dan enggak mau jadi klinisi,” kata dr. Ray.
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan dr. Ray di kedokteran komunitas dan riset.
Perhatiannya kemudian berkembang ke berbagai persoalan kesehatan masyarakat, mulai dari laktasi dan ibu bekerja hingga kesehatan mental.
Kini, ia ingin dikenal bukan hanya sebagai dokter atau peneliti, tetapi sebagai health advocate atau advokator kesehatan.
Dari volunteering hingga dunia media
Ketertarikan dr. Ray pada kegiatan yang membuatnya bertemu banyak orang sudah terbentuk sejak remaja.
Saat SMA, ia aktif dalam kegiatan volunteering di bidang kesehatan masyarakat. Salah satunya melalui HIV/AIDS Prevention Project di Manado.
Dari sana, aktivitasnya berkembang ke sejumlah kegiatan publik di Manado, termasuk pemilihan Abang None Manado, sebelum akhirnya terjun ke dunia model.
Dan dunia publik kemudian membawanya ke media.
Saat masih menjadi mahasiswa kedokteran, dr. Ray masuk ke radio Smart FM Manado. Ia menjadi jurnalis kesehatan sekaligus membawakan program kesehatan.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke TVRI Manado hingga TVRI Pusat sebagai news anchor.
Berbagai pengalaman itu membuat dr. Ray terbiasa berinteraksi dengan publik sekaligus menyampaikan informasi kepada banyak orang.
Kemampuan tersebut kelak menjadi bekal ketika ia memilih jalur kesehatan masyarakat.
Saat koas, dr. Ray tahu ia tak ingin jadi dokter klinis
(Dr Ray Wagiu Basrowi. Video: Dok. Instagram Dr Ray Wagiu Basrowi/@ray.w.basrowi)
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan dr. Ray di kedokteran komunitas dan riset. Perhatiannya kemudian berkembang ke berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
Pilihan tersebut sempat membuat keluarganya bertanya-tanya. Orang tua dr. Ray memiliki gambaran bahwa dokter seharusnya bekerja di rumah sakit.
Namun, seiring ia melanjutkan pendidikan dan semakin banyak mengerjakan penelitian, keluarganya perlahan memahami jalan yang dipilihnya.
Pilihan itu membuat dr. Ray melihat bahwa kontribusi seorang dokter tidak selalu harus dilakukan melalui praktik klinis.
Salah satu isu yang kemudian membuat dr. Ray semakin serius di dunia penelitian adalah laktasi.
Ia melihat persoalan perempuan yang harus kembali bekerja ketika anak masih sangat kecil, sementara kebutuhan menyusui tetap berjalan.
Persoalan tersebut kemudian ia bawa ke penelitian.
Dr. Ray meneliti laktasi pada perempuan pekerja dan mengembangkan kajian mengenai promosi laktasi di tempat kerja.
Dari penelitian tersebut, ia melihat bahwa persoalan menyusui tidak berdiri sendiri. Ada lingkungan kerja, dukungan keluarga, nutrisi, hingga kondisi mental ibu yang ikut memengaruhi.
“Ibu yang tidak berhasil memberikan ASI eksklusif dua kali lebih besar untuk stres postpartum dan baby blues,” terang dr. Ray.
Semakin mendalami isu tersebut, dr. Ray melihat bahwa persoalan kesehatan masyarakat sering kali saling terhubung.
Masalah yang terlihat sederhana di permukaan bisa memiliki akar yang jauh lebih kompleks.
Dari laktasi hingga ke kesehatan mental
Perjalanan penelitian tersebut kemudian berkembang hingga dr. Ray mendirikan Health Collaborative Center (HCC) pada 2019.
HCC menjadi ruang bagi dr. Ray untuk mengembangkan penelitian dan kolaborasi di bidang kesehatan masyarakat. Salah satu persoalan yang kemudian menarik perhatiannya adalah kesepian.
Yes, kamu gak salah denger Sobat Medcom. Penelitian tentang "Kesepian". Isu tersebut muncul dari penelitian mengenai perilaku masyarakat selama pandemi.
“Tahu nggak sih, kesepian itu sama seperti orang yang menghisap rokok 15 batang per hari?” ujarnya membuat kami semua terheran-heran.
Dalam penelitiannya, dr. Ray juga melihat tingginya angka kesepian pada masyarakat Jabodetabek. “Pada 2022 melakukan studi kesepian dengan 2.000-an kuesioner pada orang Jabodetabek, 6 dari 10 kesepian, 4-nya kesepian berat,” papar dr. Ray.
Dari sana, dr. Ray melihat bahwa kesepian bukan sekadar persoalan ketika seseorang sedang sendirian atau merasa tidak memiliki teman.
Ada aspek sosial dan kesehatan mental yang ikut terlibat. Temuan itu membuat perhatian dr. Ray terhadap kesehatan jiwa semakin kuat.
Ia melihat persoalan kesehatan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penyakit fisik, tetapi juga kondisi mental dan sosial masyarakat.
Bagi dr. Ray, menemukan masalah saja tidak cukup. Ada pertanyaan lain yang harus dijawab: mengapa masalah itu terjadi dan apa yang bisa dilakukan?
Ketika riset harus keluar dari ruang akademik
.jpeg)
(Dr. Ray juga menyandang gelar kehormatan FRSPH (Fellow of the Royal Society for Public Health) dari Royal Society for Public Health (RSPH), sebuah organisasi kesehatan masyarakat terkemuka dan tertua di dunia yang berbasis di Britania Raya (Inggris). Foto: Dok. Istimewa)
Bagi dr. Ray, menghasilkan penelitian bukan akhir dari pekerjaan. Tantangan berikutnya adalah membuat hasil penelitian bisa dipahami masyarakat.
Masyarakat kini hidup di tengah arus informasi kesehatan yang sangat deras. Informasi bisa datang dari dokter, media, internet, media sosial, influencer, hingga pengalaman pribadi orang lain.
Informasi ilmiah pun harus bersaing dengan berbagai informasi yang belum tentu memiliki dasar yang sama kuat.
Menurut dr. Ray, tantangan peneliti saat ini bukan hanya menemukan pengetahuan baru, tetapi juga membuat hasil penelitian dapat diterima masyarakat tanpa kalah oleh hoaks atau informasi yang keliru.
Pengalaman dr. Ray di dunia media kembali menemukan relevansinya.
Dulu, ia berada di sisi yang menyampaikan informasi kepada publik. Kini, ia berada di sisi yang menghasilkan pengetahuan kesehatan.
Dua pengalaman tersebut bertemu pada satu kebutuhan: membuat informasi yang benar bisa dipahami masyarakat.
“Sekarang itu tantangan terberat adalah bukan lagi menginformasikan atau mengedukasi ilmu kesehatan yang baru, tapi bagaimana bikin supaya ilmu kesehatan bisa langsung diterima tanpa dibanding-bandingkan dengan hoaks," katanya.
"Apalagi dengan sosial media semua orang udah punya preference yang didapat dari sosial media dan kita tahu ada penelitian lebih 80% informasi di sosial media itu salah dan hoaks," tukasnya.
Tantangan itu semakin terasa ketika masyarakat mudah melakukan swadiagnosis berdasarkan informasi yang ditemukan di internet dan media sosial.
Bagi dr. Ray, kemampuan menjelaskan informasi kesehatan dengan bahasa yang sederhana menjadi bagian penting dari upaya menjaga masyarakat mendapatkan informasi yang tepat.
Dr. Ray ingin dikenal sebagai Health Advocate
Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawa dr. Ray pada satu peran yang ingin ia jalani.
Ketika ditanya ingin dikenal sebagai sosok seperti apa, dr. Ray menyebut dirinya ingin menjadi health advocate atau advokator kesehatan.
Ia ingin menginspirasi lebih banyak orang bahwa kepedulian terhadap kesehatan bukan hanya tanggung jawab dokter atau tenaga kesehatan.
“Saya pengin jadi health advocate karena pengin menginspirasi banyak orang bahwa peduli kesehatan itu semua orang bisa punya peran untuk membuat masyarakat Indonesia lebih sehat.”
Bagi dr. Ray, peran tersebut bisa dimulai dari diri sendiri.
“Mulai dari diri sendiri, baru kita harus mengadvokasi.”
Advokasi kesehatan, menurutnya, juga tidak harus selalu berupa kampanye besar. Media sosial bisa menjadi ruang sederhana untuk mengajak orang lain.
“Advokasi kan sekarang sederhana, kita bisa posting kita lagi makan sehat. Saya pengin banget kita punya kebiasaan itu. Ketika lagi makan sehat kita posting, itu bisa menginspirasi orang.”
Jika ditarik ke belakang, perjalanan dr. Ray memang melewati banyak ruang: volunteering, dunia model, media, kedokteran komunitas, penelitian, hingga membangun HCC.
Namun, semua pengalaman itu akhirnya bertemu pada satu keyakinan: kesehatan bukan hanya urusan dokter.
Bagi dr. Ray, siapa pun bisa mengambil bagian. Bahkan, langkah kecil dari diri sendiri pun bisa menginspirasi orang lain.
Desi Indasari
(TIN)