FITNESS & HEALTH

Dr. Ray Wagiu Ingatkan biar Gak Skip CKG walau Lagi Downgrade Gaya Hidup

Yatin Suleha
Rabu 07 Oktober 2026 / 10:05
Ringkasnya gini..
  • Fenomena downgrade gaya hidup punya dampak yang wajib banget diwaspadai.
  • Yaitu munculnya kebiasaan nunda medical check-up dan skrining kesehatan gara-gara dianggap belum kepepet.
  • Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH ngingetin kalau niat hemat dengan nunda pemeriksaan kesehatan justru berbahaya.
Jakarta: Fenomena downgrade gaya hidup punya dampak yang wajib banget diwaspadai, yaitu munculnya kebiasaan nunda medical check-up dan skrining kesehatan gara-gara dianggap belum kepepet.

Dokter sekaligus pendiri Healthy Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH ngingetin kalau niat hemat dengan nunda pemeriksaan kesehatan justru berbahaya. 

Soalnya, faktor risiko sama penyakit baru malah baru ketahuan pas kondisinya udah keburu parah.
 
“Yang saya khawatirkan dari fenomena downgrade gaya hidup adalah masyarakat tidak hanya mengurangi belanja tersier, tetapi juga mulai menunda medical check-up dan skrining kesehatan. Padahal, banyak penyakit berkembang diam-diam tanpa gejala dan bisa di deteksi dini lewat skrining rutin,” ujar dr. Ray yang sering menyampaikan konten kesehatan lewat akun instagram @ray.w.basrowi ini.

Menurut Dr. Ray, pas kondisi ekonomi lagi nuntut masyarakat buat atur ulang pengeluaran, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini wajib banget dimaksimalkan.

Program ini bisa jadi gerbang utama buat deteksi dini, sekaligus ngebantu kamu tetep dapat akses pemeriksaan kesehatan dasar tanpa perlu mikirin tambahan biaya.

“Kalau biaya menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan, manfaatkan CKG. Sudah gratis, sayang sekali jika tidak digunakan. Datanglah sebelum sakit, bukan setelah penyakit menimbulkan komplikasi,” tegas dr. Ray yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC) ini.

 
dr_ ray (2)
(Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. Foto: Dok. Istimewa)

Kata Dr. Ray, penyakit kayak darah tinggi, diabetes, anemia, gangguan fungsi organ, sampai berbagai penyakit tidak menular lainnya tuh sering banget muncul tanpa gejala yang jelas.

Kamu bisa aja merasa sehat-sehat aja, tetap produktif kerja, dan jalanin aktivitas sehari-hari kayak biasa, padahal di balik itu faktor risikonya lagi diam-diam berkembang.

“Pemeriksaan kesehatan bukan hanya untuk orang yang sedang sakit. Justru ketika merasa sehat, skrining diperlukan untuk mengetahui apakah ada risiko yang sedang tumbuh tanpa disadari,” jelasnya.

Menurut dr. Ray, penghematan yang mengorbankan deteksi dini justru berpotensi menimbulkan biaya yang jauh lebih besar. 

Penyakit yang terlambat diketahui dapat membutuhkan terapi lebih panjang, pengobatan lebih kompleks, mengurangi produktivitas, bahkan membuat keluarga kehilangan pendapatan akibat anggota keluarganya tidak dapat bekerja.

“Menunda membeli barang konsumtif mungkin merupakan penghematan. Namun, menunda skrining kesehatan belum tentu menghemat. Bisa jadi kita hanya memindahkan biaya kecil hari ini menjadi biaya pengobatan yang jauh lebih besar pada kemudian hari,” katanya.

Makanya, fenomena downgrade gaya hidup ini wajib banget diimbangi sama pemahaman kesehatan yang oke. 
 
Kamu harus pinter-pinter bedain mana pengeluaran yang emang bisa dipangkas, sama mana kebutuhan dasar yang tetep harus dipertahanin.

“Silakan downgrade gengsi, hiburan, atau barang yang tidak mendesak. Tetapi jangan ikut menurunkan perlindungan terhadap kesehatan. Manfaatkan CKG, kenali risiko sejak dini, dan jangan menunggu tubuh mengirimkan tagihan dalam bentuk penyakit,” pungkas dr. Ray.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH