FITNESS & HEALTH

Darah Tinggi di Usia Dini? Emang Bisa? Yuk Cek Faktanya

Aulia Putriningtias
Minggu 10 Mei 2026 / 12:09
Ringkasnya gini..
  • Ternyata darah tinggi alias hipertensi enggak cuma menyerang orang dewasa, tapi anak-anak juga bisa kena.
  • Kok bisa sih, padahal masih kecil?
  • Nah, penting buat kita tahu kalau standar tensi normal anak itu beda-beda, tergantung umur, jenis kelamin, sampai tinggi badannya.
Jakarta: Sobat Medcom, jangan kaget, ya! Ternyata darah tinggi alias hipertensi enggak cuma menyerang orang dewasa, tapi anak-anak juga bisa kena. Kok bisa sih, padahal masih kecil?

Nah, penting buat kita tahu kalau standar tensi normal anak itu beda-beda, tergantung umur, jenis kelamin, sampai tinggi badannya. Biasanya rentangnya mulai dari 80/50 mmHg sampai 120/80 mmHg.

Menurut dr. Yovi Kurniawati, Sp. J.P, Subs. K.Ped.P.J.B (K), dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, penyebab darah tinggi pada anak ini ternyata punya "akar" yang beda banget kalau dibandingkan dengan kasus pada orang dewasa.
 
"Pada anak itu memang rata-rata tekanan darah tinggi itu penyebabnya seperti tadi, penyebabnya tidak diketahui dan hanya beberapa persen yang kita bisa cari," jelasnya dalam temu media bersama RSPI di Jakarta, Kamis lalu.

Tekanan darah tinggi pada anak ada yang berkaitan dengan kelainan struktur jantung. Ada juga kasus tekanan darah tinggi pada anak yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner, gangguan ginjal, dan Arteritis Takayasu, peradangan pembuluh darah.


(Dr. Yovi Kurniawati, Sp. J.P, Subs. K.Ped.P.J.B (K). Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)

Selain soal kelainan struktur jantung, gaya hidup yang tidak sehat juga dapat meningkatkan peluang anak mengalami tekanan darah tinggi pada si kecil.

"Kalau tidak tahu penyebabnya, ini yang rata-rata kami hanya bisa mengontrol ya, misalnya dengan obat, alat-alat, pola makan, gaya hidup, dan sebagainya," jelasnya.

Jika orang tua tidak menyadari hal ini, risiko anak mengalami penyakit jantung bawaan atau PJB bisa terjadi. Ada beberapa gejala yang perlu diperhatikan, antara lain:

- Batuk dan panas yang berulang
- Frekuensi napas dan detak jantung yang sangat kencang
- Pembengkakan pada bagian kaki, perut, atau sembab di sekitar mata
- Warna kebiruan pada bibir, bagian dalam mulut, dan ujung kuku (sianosis)
 

Mengenal metode Zero Fluoroscopy Procedure


Zero Fluoroscopy Procedure diperkenalkan oleh dr. Yovie, yakni kateterisasi ini dilakukan tanpa radiasi dengan bantuan echocardiography (TTE/TEE). Hal ini untuk menghindari efek buruk paparan radiasi berulang pada pasien dan dokter.

"Prosedur ini bisa dilakukan oleh semua umur, bahkan bayi. Kita perlu memeriksa terlebih dahulu apakah bisa dilakukan Zero Fluoroscopy atau tidak," tutur dr. Yovie.
 
Prosedur ini digunakan untuk penutupan kebocoran jantung bawaan seperti Atrial Septal Defect (ASD), Patent Foramen Ovale (PFO), dan ablasi jantung untuk aritmia. Teknik ini punya akurasi dan profil keamanan yang sebanding dengan metode konvensional fluoroskopi. 

Dr. Yovie menjelaskan saat ini untuk melakukan Zero Fluoroscopy Procedure, diperlukan pengecekan secara mendalam terlebih dahulu. Hal ini demi keberhasilan dalam prosedur untuk membuat sistem jantung lebih baik ke depannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH