FITNESS & HEALTH
Mood Swing + Haid Ngaco? Bisa Jadi Kamu Lagi di Fase Perimenopause
A. Firdaus
Kamis 02 April 2026 / 10:12
- Fase ini menandai bahwa tubuh sedang mendekati akhir masa reproduksi.
- Saat kadar estrogen menurun, tubuh perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
- Respons setiap orang bisa berbeda-beda.
Jakarta: Perimenopause adalah fase alami dalam kehidupan perempuan, ketika tubuh mulai beralih menuju menopause. Pada tahap ini, ovarium secara perlahan mengurangi produksi hormon, terutama estrogen, sehingga siklus menstruasi mulai berubah dan menjadi tidak teratur.
Dilansir dari Clevelandclinic.org, fase ini menandai bahwa tubuh sedang mendekati akhir masa reproduksi. Meskipun merupakan proses normal, perubahan yang terjadi sering kali disertai berbagai gejala fisik dan emosional, yang bisa terasa mengganggu.
Perimenopause bisa dimulai pada usia yang berbeda-beda. Ada yang mengalaminya sejak pertengahan usia 30-an, tetapi ada juga yang baru merasakannya di usia 50-an.
Durasinya pun tidak sama, sebagian orang hanya mengalaminya dalam waktu singkat. Sementara yang lain bisa merasakannya selama beberapa tahun.
Walaupun siklus haid mulai tidak teratur dan hormon mengalami penurunan, peluang untuk hamil sebenarnya masih ada selama fase ini berlangsung.
Fase perimenopause akan berakhir ketika seseorang memasuki menopause. Menopause sendiri ditandai dengan berhentinya menstruasi secara permanen. Jika tidak mengalami haid selama 12 bulan berturut-turut, maka kondisi tersebut sudah termasuk menopause.
Selama perimenopause, perubahan utama yang terjadi adalah penurunan kadar estrogen. Hormon ini memiliki peran penting dalam sistem reproduksi.
Ketika estrogen mulai menurun, keseimbangannya dengan progesteron ikut terganggu. Akibatnya, kadar hormon dalam tubuh menjadi tidak stabil dan sering naik turun, mirip seperti rollercoaster.
Ketika memasuki menopause, produksi estrogen akan sangat berkurang, hingga ovarium berhenti melepaskan sel telur (ovulasi). Pada tahap ini, menstruasi pun berhenti sepenuhnya dan kemampuan untuk hamil hilang.
Saat kadar estrogen menurun, tubuh perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Respons setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang hanya mengalami perubahan kecil, tetapi ada juga yang merasakan gejala cukup signifikan.
Dilansir dari Clevelandclinic.org, berikut adalah beberapa gejala yang umum terjadi:
1. Siklus menstruasi tidak teratur atau bahkan terlewat.
2. Volume darah haid berubah, bisa lebih banyak atau justru lebih sedikit.
3. Perubahan suasana hati seperti mudah marah atau merasa sedih.
4. Penurunan gairah seksual.
5. Hot flashes atau sensasi panas tiba-tiba.
6. Keringat berlebih di malam hari.
7. Kekeringan pada area vagina yang menyebabkan rasa tidak nyaman.
8. Lebih sering merasa ingin buang air kecil.
9. Gangguan tidur atau insomnia.
Karena beberapa gejala tersebut mirip dengan kondisi kesehatan lain, penting untuk memastikan penyebabnya melalui pemeriksaan medis agar tidak salah penanganan.
Menstruasi yang tidak teratur memang hal yang wajar selama perimenopause. Namun, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan, karena bisa menjadi tanda masalah lain pada tubuh.
Segera lakukan pemeriksaan jika mengalami beberapa gejala berikut:
1. Perdarahan menstruasi yang sangat banyak atau disertai gumpalan besar.
2. Harus mengganti pembalut atau tampon setiap satu hingga dua jam.
3. Durasi menstruasi lebih lama dari biasanya.
4. Muncul bercak atau perdarahan di luar jadwal haid.
5. Mengalami perdarahan setelah berhubungan intim.
6. Jarak antar menstruasi kurang dari 21 hari.
Kondisi tersebut bisa saja disebabkan oleh hal lain seperti infeksi, mioma, gangguan pembekuan darah, polip, hingga kemungkinan kanker. Oleh karena itu, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab pastinya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dilansir dari Clevelandclinic.org, fase ini menandai bahwa tubuh sedang mendekati akhir masa reproduksi. Meskipun merupakan proses normal, perubahan yang terjadi sering kali disertai berbagai gejala fisik dan emosional, yang bisa terasa mengganggu.
Perimenopause bisa dimulai pada usia yang berbeda-beda. Ada yang mengalaminya sejak pertengahan usia 30-an, tetapi ada juga yang baru merasakannya di usia 50-an.
Durasinya pun tidak sama, sebagian orang hanya mengalaminya dalam waktu singkat. Sementara yang lain bisa merasakannya selama beberapa tahun.
Walaupun siklus haid mulai tidak teratur dan hormon mengalami penurunan, peluang untuk hamil sebenarnya masih ada selama fase ini berlangsung.
Fase perimenopause akan berakhir ketika seseorang memasuki menopause. Menopause sendiri ditandai dengan berhentinya menstruasi secara permanen. Jika tidak mengalami haid selama 12 bulan berturut-turut, maka kondisi tersebut sudah termasuk menopause.
Perubahan hormon selama perimenopause
Selama perimenopause, perubahan utama yang terjadi adalah penurunan kadar estrogen. Hormon ini memiliki peran penting dalam sistem reproduksi.
Ketika estrogen mulai menurun, keseimbangannya dengan progesteron ikut terganggu. Akibatnya, kadar hormon dalam tubuh menjadi tidak stabil dan sering naik turun, mirip seperti rollercoaster.
Ketika memasuki menopause, produksi estrogen akan sangat berkurang, hingga ovarium berhenti melepaskan sel telur (ovulasi). Pada tahap ini, menstruasi pun berhenti sepenuhnya dan kemampuan untuk hamil hilang.
Gejala yang sering muncul
Saat kadar estrogen menurun, tubuh perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Respons setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang hanya mengalami perubahan kecil, tetapi ada juga yang merasakan gejala cukup signifikan.
Dilansir dari Clevelandclinic.org, berikut adalah beberapa gejala yang umum terjadi:
1. Siklus menstruasi tidak teratur atau bahkan terlewat.
2. Volume darah haid berubah, bisa lebih banyak atau justru lebih sedikit.
3. Perubahan suasana hati seperti mudah marah atau merasa sedih.
4. Penurunan gairah seksual.
5. Hot flashes atau sensasi panas tiba-tiba.
6. Keringat berlebih di malam hari.
7. Kekeringan pada area vagina yang menyebabkan rasa tidak nyaman.
8. Lebih sering merasa ingin buang air kecil.
9. Gangguan tidur atau insomnia.
Karena beberapa gejala tersebut mirip dengan kondisi kesehatan lain, penting untuk memastikan penyebabnya melalui pemeriksaan medis agar tidak salah penanganan.
Kapan perlu waspada?
Menstruasi yang tidak teratur memang hal yang wajar selama perimenopause. Namun, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan, karena bisa menjadi tanda masalah lain pada tubuh.
Segera lakukan pemeriksaan jika mengalami beberapa gejala berikut:
1. Perdarahan menstruasi yang sangat banyak atau disertai gumpalan besar.
2. Harus mengganti pembalut atau tampon setiap satu hingga dua jam.
3. Durasi menstruasi lebih lama dari biasanya.
4. Muncul bercak atau perdarahan di luar jadwal haid.
5. Mengalami perdarahan setelah berhubungan intim.
6. Jarak antar menstruasi kurang dari 21 hari.
Kondisi tersebut bisa saja disebabkan oleh hal lain seperti infeksi, mioma, gangguan pembekuan darah, polip, hingga kemungkinan kanker. Oleh karena itu, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab pastinya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)