FITNESS & HEALTH

ASEAN Kompak Lawan Dengue, Indonesia Jadi Tuan Rumah

A. Firdaus
Rabu 11 Februari 2026 / 21:13
Ringkasnya gini..
  • Secara global, dengue terus menunjukkan tren peningkatan.
  • Forum regional ini menekankan bahwa pencegahan dengue harus berbasis sains.
  • Pemerintah Indonesia saat ini tengah menyiapkan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029
Jakarta: Indonesia menjadi tuan rumah Forum Regional Pencegahan dan Pengendalian Dengue kawasan ASEAN/Asia Tenggara yang digelar pada 9–10 Februari 2026 di Jakarta. Forum ini mempertemukan sekitar 150 peserta dari pembuat kebijakan, otoritas kesehatan, komunitas ilmiah, organisasi regional, hingga mitra pembangunan dari hampir seluruh negara ASEAN.

Diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI bersama Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, forum ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas negara dan sektor dalam menghadapi dengue, penyakit yang masih menjadi ancaman serius kesehatan publik di kawasan.

Secara global, dengue terus menunjukkan tren peningkatan. WHO mencatat lebih dari 1,4 juta kasus dilaporkan pada awal 2025 di puluhan negara. Diperkirakan lebih dari 3,9 miliar orang di dunia berisiko terinfeksi, dengan sekitar 390 juta kasus terjadi setiap tahun.
Asia Pasifik, termasuk ASEAN, menjadi salah satu episentrum utama penyebaran dengue. Data regional menunjukkan ratusan ribu kasus terjadi sepanjang 2025, dengan Indonesia termasuk negara dengan beban kasus tertinggi.

Di Indonesia sendiri, pada 2024 tercatat lebih dari 257 ribu kasus dengue dengan lebih dari 1.400 kematian. Hingga akhir 2025, kasus masih terus ditemukan, menegaskan bahwa dengue bukan penyakit musiman, melainkan ancaman kesehatan sepanjang tahun.

Selain berdampak pada kesehatan, dengue juga membawa konsekuensi ekonomi besar. Klaim layanan kesehatan terkait dengue di Indonesia mendekati Rp3 triliun pada 2024, dengan estimasi kerugian ekonomi mencapai hampir Rp15 triliun per tahun.
 

Kolaborasi regional jadi kunci


Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Prof. Asnawi Abdullah, menegaskan bahwa dengue adalah masalah lintas batas yang membutuhkan kerja sama regional.

“Nyamuk tidak mengenal batas negara. Kita perlu strategi bersama untuk melindungi masyarakat, termasuk melalui inovasi seperti teknologi Wolbachia dan vaksinasi,” ujar Prof. Asnawi.

Menurutnya, penurunan angka kejadian dengue pada 2025 menjadi bukti bahwa pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis inovasi dapat memberikan dampak nyata.

Pemerintah Indonesia saat ini tengah menyiapkan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 yang lebih komprehensif, dengan fokus pada deteksi dini, penguatan layanan klinis, pengendalian vektor, pemanfaatan inovasi, serta sistem surveilans terintegrasi.

Ketua KOBAR Lawan Dengue, dr. H. Suir Syam, menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari tingkat rumah tangga hingga komunitas dengan dukungan lintas sektor.

“Pengendalian dengue tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kolaborasi menjadi fondasi perlindungan masyarakat,” katanya.

Dukungan juga datang dari DPR RI yang menilai dengue bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga persoalan ketahanan sosial dan ekonomi.

Forum ini turut menegaskan pentingnya pendekatan regional yang lebih terkoordinasi, mulai dari penguatan kebijakan, pertukaran pengetahuan, hingga riset bersama, untuk mencapai target Zero Dengue Deaths 2030.

Perwakilan Thailand, Dr. Montien Kanasawat, menyebut forum ini sebagai ruang strategis untuk memperkuat pembelajaran bersama dalam menghadapi ancaman dengue di Asia Tenggara.

Forum regional ini menekankan bahwa pencegahan dengue harus berbasis sains, inovasi, dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Upaya tersebut mencakup surveilans yang kuat, pengendalian vektor, edukasi masyarakat, kesiapsiagaan sistem kesehatan, serta pemanfaatan vaksinasi secara bertanggung jawab.

Melalui kolaborasi ini, Indonesia dan negara ASEAN menegaskan komitmen untuk bergerak dari respons reaktif menuju strategi yang lebih preventif dan terkoordinasi demi melindungi masyarakat dari ancaman dengue yang terus berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH