FITNESS & HEALTH

Bolehkah Ibu Hamil Mengonsumsi Madu?

Anda Nurlaila
Rabu 12 Februari 2020 / 11:34

Jakarta: Sudah menjadi fakta bahwa memberi madu pada bayi di bawah usia satu dapat menyebabkannya terkena risiko bakteri botulisme. Lantas, apakah risiko tersebut juga berlaku untuk bayi yang masih di dalam perut? 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS merekomendasikan bahwa bayi di bawah usia satu tahun tidak boleh diberi madu mentah. Dikutip dari Verywell Family, pada usia satu tahun sistem pencernaan bayi tidak cukup berkembang untuk menangani semua bakteri dalam madu.

Mengapa madu berbahaya?

Risiko utama madu, menurut CDC karena madu adalah makanan mentah yang mengandung bakteri yang dapat menyebabkan botulisme. Botulisme adalah penyakit yang menyebabkan kelumpuhan dalam tubuh akibat neurotoksin oleh strain spora bakteri yang disebut clostridium botulinum.

Di dalam tubuh, bakteri menghasilkan bototoinum neurotoxin, yang berbahaya bagi manusia dan menyebabkan kelumpuhan. Meski bakteri ini ada di mana-mana, bayi lebih rentan penyakit tersebut setelah menelan spora botulisme. Madu diketahui mengandung beberapa spora clostridium yang berisiko bagi bayi karena akan membawanya langsung ke sistem pencernaan mereka.

Namun, kabar baiknya ternyata madu aman dikonsumsi selama masa kehamilan. American College of Obstetricians dan Gynecologists tidak mencantumkan madu dalam daftar makanan yang direkomendasikan untuk dihindari oleh wanita hamil.

Ada dua alasan utama mengapa wanita hamil aman mengonsumsi madu:

1. Sistem pencernaan wanita dapat menangani bakteri. Usus orang dewasa lebih mungkin mampu menangani menjaga kemungkinan kolonisasi spora Clostridium meningkat karena mikrobioma pencernaan telah terbentuk dengan baik pada masa dewasa. Flora dalam usus dewasa mencegah spora tumbuh dan mencegah botulisme berkembang. Botulisme tidak dapat tumbuh di saluran pencernaan yang sehat.

2. Sistem kekebalan tubuh wanita menurun selama kehamilan. Namun dalam kehamilan normal dan sehat, tidak ada perubahan pada flora pencernaan yang akan menyebabkan dengan risiko botulisme meningkat. Racun botulisme juga tidak mungkin menular ke bayi. Sebuah artikel yang diterbitkan di Canadian Family Physician pada 2010 menjelaskan bahwa karena berat molekulnya, toksin botulinum tidak mungkin melewati plasenta dan mencapai bayi. 

embed

(American College of Obstetricians dan Gynecologists tidak mencantumkan madu dalam daftar makanan yang direkomendasikan untuk dihindari oleh wanita hamil. Foto: Ilustrasi. Dok. Unsplash.com)

Meski konsumsi madu selama hamil aman, wanita dengan masalah pencernaan seperti penyakit radang usus (IBD) perlu berkonsultasi dengan dokter untuk pencegahan ekstra. Penting juga untuk diingat bahwa madu terutama terdiri dari gula. Jadi jika ingin menjaga berat badan selama hamil atau memiliki kondisi diabetes gestasional, kamu harus membatasi sumber gula dalam tubuh.

Manfaat madu bagi kesehatan 

Ada beberapa manfaat mengonsumsi madu. Meskipun secara umum, madu tidak dianggap sebagai sumber makanan yang kaya vitamin atau mineral, madu memiliki beberapa manfaat gizi.

Studi terbatas telah menemukan bahwa makan madu dapat membantu kondisi seperti asma, menyembuhkan luka, dan mengobati batuk atau sakit tenggorokan. Madu dapat digunakan sebagai pengganti gula sebagai bahan makanan penutup. Madu juga mempunyai rasa lezat dan berbagai rasa tergantung varietas lebah juga tanaman setempat.

Ibu hamil dapat minum madu yang dijadikan pemanis teh, masakan atau obat alami untuk menenangkan batuk dan tenggorokan. Agar lebih aman, gunakan madu yang dipasteurisasi dan bersertifikat untuk memastikan madu tersebut aman dari kontaminan lainnya.



Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(yyy)

MOST SEARCH