FITNESS & HEALTH

Ternyata Jam Makan Bisa Ngatur Mood, Berat Badan, sampai Kesehatan Usus

A. Firdaus
Selasa 26 Mei 2026 / 10:11
Ringkasnya gini..
  • Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa waktu makan yang selaras dengan jam biologis atau ritme sirkadian dapat membantu tubuh bekerja lebih optimal.
  • Sistem pencernaan merupakan salah satu sistem tubuh yang paling sensitif terhadap ritme waktu, termasuk bakteri baik di dalam usus.
  • Penelitian menunjukkan bahwa bakteri usus dan jam biologis tubuh terus saling berkomunikasi dan memengaruhi satu sama lain.
Jakarta: Kebiasaan makan ternyata tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kesehatan usus dan ritme alami tubuh. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa waktu makan yang selaras dengan jam biologis atau ritme sirkadian dapat membantu tubuh bekerja lebih optimal, mulai dari proses pencernaan hingga kualitas tidur.

Menariknya, pola hidup seperti ini sebenarnya sudah lama diterapkan dalam berbagai budaya Asia, di mana orang tua terbiasa mengajarkan pentingnya makan lebih awal dan menghindari makan malam berlebihan. Kini, kebiasaan tersebut kembali mendapat perhatian karena dinilai sejalan dengan cara kerja alami tubuh manusia.

Dr. Vipada Sae-Lao, Nutrition Education and Training Lead, Asia Pacific, Herbalife, mengatakan bahwa sistem pencernaan merupakan salah satu sistem tubuh yang paling sensitif terhadap ritme waktu, termasuk bakteri baik di dalam usus. 
 
Penelitian menunjukkan bahwa bakteri usus dan jam biologis tubuh terus saling berkomunikasi dan memengaruhi satu sama lain untuk menjaga metabolisme, berat badan, sensitivitas insulin, kesehatan kardiovaskular, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan secara keseluruhan tetap optimal.

"Tantangannya adalah gaya hidup modern secara perlahan mengganggu komunikasi alami tersebut. Begadang, jadwal makan yang tidak teratur, kerja shift, hingga kebiasaan menatap layar di malam hari dapat mengacaukan ritme jam biologis tubuh," kata Dr. Vipada.

"Ketika jam biologis tidak lagi sinkron, kondisi usus pun ikut terganggu, sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan, ketidakseimbangan gula darah, dan peradangan dalam jangka panjang," jelas Dr. Vipada.

Kabar baiknya, memulihkan keseimbangan ini sebenarnya lebih mudah dilakukan daripada yang dibayangkan. Dalam rangka memperingati World Digestive Health Day, Dr. Vipada membagikan beberapa kebiasaan sederhana namun konsisten yang dapat membantu menyelaraskan kembali jam biologis tubuh dan kesehatan usus. Berikut di antaranya:
 

Nutrisi Seimbang: Awali hari dengan tepat dan penuh energi


Sarapan pagi telah lama menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat Asia, dan ilmu mengenai pola makan berbasis ritme sirkadian kini menjelaskan alasannya. Setelah berpuasa semalaman, usus berada dalam kondisi optimal dengan enzim pencernaan yang aktif dan metabolisme yang siap menyerap nutrisi secara efisien.

Memulai hari dengan makanan bergizi seimbang serta mengatur jarak waktu makan secara teratur sepanjang hari dapat membantu menjaga energi tetap stabil, mendukung proses pencernaan yang efisien, dan mengoptimalkan fungsi metabolisme. Pastikan setiap waktu makan mengandung serat yang cukup, protein berkualitas tinggi, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks.

Tak kalah penting adalah menjaga konsistensi waktu makan, idealnya dalam rentang delapan hingga 12 jam setiap hari. Perubahan kecil namun penuh kesadaran terhadap apa dan kapan kita makan dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan pencernaan dan kesejahteraan tubuh secara keseluruhan.
 

Hidrasi: waktu sangat menentukan


Sama halnya dengan pola makan, hidrasi memberikan manfaat terbaik ketika dilakukan secara sadar dan teratur. Air berperan dalam setiap tahap proses pencernaan, mulai dari produksi air liur yang membantu memecah makanan, cairan lambung yang mempersiapkan penyerapan nutrisi, hingga membantu pergerakan sisa makanan dalam sistem pencernaan.

Segelas air sebelum makan pertama di pagi hari dapat membantu memulai proses pencernaan sekaligus mengaktifkan jam biologis tubuh. Menjaga asupan cairan secara konsisten sepanjang hari mendukung fungsi serat dalam melancarkan pencernaan, sementara mengurangi konsumsi cairan di malam hari memberi sinyal bagi tubuh untuk beristirahat dan melakukan pemulihan selama tidur.
 

Tidur adalah waktu pemulihan bagi usus


Pernahkah kamu merasa sudah melakukan semua hal yang tepat, kamar gelap, suasana tenang, tanpa layar, tidur selama delapan jam, namun tetap bangun dalam keadaan lelah? Tidur sebenarnya merupakan proses biologis yang kompleks. 

Jauh sebelum otak benar-benar beristirahat, sistem pencernaan terlebih dahulu mengirimkan sinyal kepada sistem saraf mengenai apakah tubuh perlu tetap waspada atau mulai beristirahat.

Hindari mengonsumsi makanan berat, kafein, makanan tinggi lemak, atau makanan manis menjelang waktu tidur karena sistem pencernaan juga membutuhkan waktu untuk melambat, sama seperti otak. Membaca ringan, peregangan lembut, atau mengonsumsi teh herbal sekitar 30 menit hingga satu jam sebelum tidur dapat menjadi sinyal bagi jam biologis dan usus bahwa hari telah berakhir.

Menjaga waktu tidur dan bangun yang konsisten membantu menciptakan kualitas tidur yang lebih baik sehingga bakteri usus dapat menyesuaikan ritmenya dengan optimal. Rutinitas tidur bersama di rumah juga dapat membantu membangun ritme ini sehingga tubuh lebih mudah rileks secara alami.
 

Hubungan antara usus, jam biologis, dan stres


Bahkan rutinitas tidur terbaik sekalipun dapat terganggu oleh satu hal yang hampir selalu kita bawa ke tempat tidur setiap malam, stres. Stres sering dibicarakan, namun jarang dipahami dari sisi fisiologisnya.

Penelitian menunjukkan bahwa triliunan bakteri di dalam usus tidak hanya membantu proses pencernaan, tetapi juga berperan dalam mengatur respons tubuh terhadap stres dengan bekerja selaras bersama ritme sirkadian. 

Kortisol, hormon utama pemicu stres dalam tubuh, dapat mengganggu pergerakan usus, merusak keseimbangan ritme sirkadian, dan dalam jangka panjang mengubah mikrobioma usus sehingga sistem pencernaan menjadi lebih sensitif dan kurang tangguh. Hubungan antara usus dan otak merupakan hal yang nyata, dan stres adalah salah satu faktor pengganggu terkuat dalam hubungan tersebut.

"Jauh sebelum sains mampu menjelaskannya, kebijaksanaan tradisional telah mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan ritme alami kehidupan. Menghadirkan kembali pola hidup tersebut ke dalam gaya hidup perkotaan tidak membutuhkan kesempurnaan, melainkan perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten," ucap Dr. Vipada. 

"Seiring waktu, tubuh akan menemukan kembali keseimbangannya, dan kesehatan yang baik menjadi bukan lagi soal usaha yang berat, melainkan soal keselarasan," tutup Dr. Vipada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH