FITNESS & HEALTH
Kasus Hipertensi Meningkat, Kemenkes Gencarkan Program Deteksi Dini
Elang Riki Yanuar
Senin 18 Mei 2026 / 10:00
- Kasus hipertensi di Indonesia melonjak hingga 30 persen, Kemenkes gencarkan deteksi dini lewat cek kesehatan gratis.
- Hipertensi kini menyerang remaja SMA, Kemenkes soroti rendahnya kesadaran masyarakat cek tekanan darah.
- Kemenkes sebut hipertensi sebagai silent killer yang picu stroke, gagal ginjal, dan gangguan jantung di Indonesia.
Jakarta: Kasus hipertensi di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam lebih dari satu dekade terakhir. Kondisi ini membuat Kementerian Kesehatan RI semakin gencar memperkuat program deteksi dini untuk menekan risiko komplikasi serius yang mengintai masyarakat.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengungkapkan bahwa hipertensi masih menjadi salah satu penyakit dengan beban tertinggi di Indonesia berdasarkan data International Health Metrics.
“Dari tahun 2009 sampai 2023, tren hipertensi terus meningkat. Tahun 2009 angkanya sekitar 18 persen, sekarang sudah mencapai sekitar 30 persen. Artinya, sekitar 50 hingga 60 juta penduduk Indonesia menderita tekanan darah tinggi," kata Nadia dalam kampanye nasional Controlling Hypertension Together di Jakarta.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia terbaru, prevalensi hipertensi di Tanah Air kini telah menyentuh angka 31 persen. Artinya, puluhan juta masyarakat Indonesia hidup dengan tekanan darah tinggi.
Lonjakan kasus hipertensi disebut turut memicu peningkatan penyakit lain seperti stroke, gagal ginjal, hingga gangguan jantung. Beban pembiayaan kesehatan nasional pun ikut melonjak akibat komplikasi yang ditimbulkan penyakit tersebut.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah sejak 10 Februari 2025 telah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis atau CKG. Program ini mencakup 18 jenis pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi penyakit tidak menular sejak dini, termasuk hipertensi dan diabetes melitus.
Menurut Nadia, hipertensi sering dijuluki silent killer karena banyak penderita tidak merasakan gejala apa pun hingga kondisi sudah memasuki tahap berbahaya. Dari hasil program CKG yang menjangkau sekitar 70 juta masyarakat Indonesia tahun lalu, ditemukan sekitar 15 juta orang mengalami hipertensi. Temuan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah meningkatnya tekanan darah tinggi pada kelompok usia remaja.
“Kami juga menemukan peningkatan tekanan darah pada anak usia SMA. Ini masih kami evaluasi penyebabnya,” ungkapnya.
Kementerian Kesehatan menilai rendahnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan besar dalam pengendalian hipertensi. Banyak orang memilih tidak memeriksakan diri karena takut mengetahui kondisi kesehatannya sendiri.
“Banyak masyarakat tidak mau datang cek kesehatan karena berpikir daripada ketahuan darah tinggi, lebih baik tidak tahu,” kata Nadia.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N., menegaskan bahwa penanganan hipertensi tidak bisa hanya dibebankan kepada dokter dan rumah sakit saja. Ia menilai pengendalian hipertensi membutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, organisasi profesi, hingga edukasi publik secara masif agar masyarakat lebih sadar pentingnya menjaga tekanan darah.
“Bukan lagi hanya prevensi primer atau prevensi sekunder, tapi sudah ke prevensi primordial. Kami menyadari hipertensi tidak bisa diselesaikan hanya di ruang dokter. Banyak faktor di luar sana yang memengaruhi,” ujarnya.
Sementara itu, Managing Director Beurer Indonesia, Aria Verdin, mengatakan Hari Hipertensi Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya tekanan darah tinggi yang sering diabaikan.
Menurutnya, kebiasaan melakukan pengecekan tekanan darah secara rutin menjadi langkah sederhana namun sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat di kemudian hari.
“Banyak orang tidak menyadari dirinya mengalami hipertensi hingga akhirnya muncul komplikasi serius. Jadi jangan tunggu sampai ada keluhan. Cara paling pasti untuk mengetahui kondisi tubuh adalah dengan cek rutin,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengungkapkan bahwa hipertensi masih menjadi salah satu penyakit dengan beban tertinggi di Indonesia berdasarkan data International Health Metrics.
“Dari tahun 2009 sampai 2023, tren hipertensi terus meningkat. Tahun 2009 angkanya sekitar 18 persen, sekarang sudah mencapai sekitar 30 persen. Artinya, sekitar 50 hingga 60 juta penduduk Indonesia menderita tekanan darah tinggi," kata Nadia dalam kampanye nasional Controlling Hypertension Together di Jakarta.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia terbaru, prevalensi hipertensi di Tanah Air kini telah menyentuh angka 31 persen. Artinya, puluhan juta masyarakat Indonesia hidup dengan tekanan darah tinggi.
Lonjakan kasus hipertensi disebut turut memicu peningkatan penyakit lain seperti stroke, gagal ginjal, hingga gangguan jantung. Beban pembiayaan kesehatan nasional pun ikut melonjak akibat komplikasi yang ditimbulkan penyakit tersebut.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah sejak 10 Februari 2025 telah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis atau CKG. Program ini mencakup 18 jenis pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi penyakit tidak menular sejak dini, termasuk hipertensi dan diabetes melitus.
Menurut Nadia, hipertensi sering dijuluki silent killer karena banyak penderita tidak merasakan gejala apa pun hingga kondisi sudah memasuki tahap berbahaya. Dari hasil program CKG yang menjangkau sekitar 70 juta masyarakat Indonesia tahun lalu, ditemukan sekitar 15 juta orang mengalami hipertensi. Temuan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah meningkatnya tekanan darah tinggi pada kelompok usia remaja.
“Kami juga menemukan peningkatan tekanan darah pada anak usia SMA. Ini masih kami evaluasi penyebabnya,” ungkapnya.
Kementerian Kesehatan menilai rendahnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan besar dalam pengendalian hipertensi. Banyak orang memilih tidak memeriksakan diri karena takut mengetahui kondisi kesehatannya sendiri.
“Banyak masyarakat tidak mau datang cek kesehatan karena berpikir daripada ketahuan darah tinggi, lebih baik tidak tahu,” kata Nadia.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N., menegaskan bahwa penanganan hipertensi tidak bisa hanya dibebankan kepada dokter dan rumah sakit saja. Ia menilai pengendalian hipertensi membutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, organisasi profesi, hingga edukasi publik secara masif agar masyarakat lebih sadar pentingnya menjaga tekanan darah.
“Bukan lagi hanya prevensi primer atau prevensi sekunder, tapi sudah ke prevensi primordial. Kami menyadari hipertensi tidak bisa diselesaikan hanya di ruang dokter. Banyak faktor di luar sana yang memengaruhi,” ujarnya.
Sementara itu, Managing Director Beurer Indonesia, Aria Verdin, mengatakan Hari Hipertensi Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya tekanan darah tinggi yang sering diabaikan.
Menurutnya, kebiasaan melakukan pengecekan tekanan darah secara rutin menjadi langkah sederhana namun sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat di kemudian hari.
“Banyak orang tidak menyadari dirinya mengalami hipertensi hingga akhirnya muncul komplikasi serius. Jadi jangan tunggu sampai ada keluhan. Cara paling pasti untuk mengetahui kondisi tubuh adalah dengan cek rutin,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)