FITNESS & HEALTH

Kemenkes Catat 62 Kasus Super Flu di 2026, Tetap Waspada dan Jaga Kesehatan

Mia Vale
Minggu 04 Januari 2026 / 18:57
Jakarta: Tahun 2026 baru dilalui beberapa hari. Ternyata faktanya, belum seminggu awal Januari, media sosial dan kanal berita telah diramaikan mengenai informasi super flu yang sudah masuk ke Indonesia. 

Dan dari berbagai informasi yang beredar, super flu dikatakan bisa lebih cepat menyebar dan lebih berat dibandingkan biasanya. Tapi, paakah benar lebih cepat menyebar dan gejalanya lebih berat? Yuk kita bahas!
 

Apa itu super flu?


Sebenarnya super flu merupakan bagian dari influenza yang memang ditemukan sehari-hari. Hanya saja disebut super flu karena penyebarannya cepat dan menyebabkan kenaikan jumlah kasus di beberapa negara. 

Super flu disebabkan oleh Virus Influenza A (H3N2) atau Subclade K. Pada dasarnya ada 4 Jenis Virus Influenza, antara lain:
 
- Tipe A, penyebab epidemi musiman, virus ini menjadi penyebab tersering epidemi pada manusia adalah virus influenza
- Tipe B, penyebab epidemi musiman
- Tipe C, sakit ringan, tidak epidemi
- Tipe D, pada hewan ternak
 

Apakah super flu penyakit atau virus baru?


Sebenarnya, super flu BUKAN virus baru. Seperti dijelaskan oleh dr. Adam Prabata melalui akun Instagram pribadinya, @adamprabata, virus ini merupakan varian baru dari virus Influenza A strain H3N2, yaitu subclade K. Mengutip laman CDC, super flu pertama kali ditemukan pada Juni 2025 dan mulai terdeteksi kenaikan kasusnya sejak Agustus 2025 di beberapa negara.

Istilah 'Super Flu' menggambarkan flu yang dirasakan lebih berat dari biasanya. Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kasus influenza dalam waktu singkat. Padahal, di Amerika Serikat sendiri, flu terjadi setiap tahun, umumnya sejak Oktober hingga Mei. 


(Di Indonesia sendiri, tercatat 62 kasus infeksi Influenza A subclade K 'Super Flu'u hingga akhir Desember 2025. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Namun, pada musim kali ini, penyebaran virus berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan kasus influenza ini seiring dengan musim dingin yang mana juga serupa dengan tahun atau musim sebelumnya.

Bahkan, Widyawati, juru bicara Kementerian Kesehatan pun menjelaskan terhadap isu kasus influenza subclade K yang sedang marak dibicarakan. Ia menjelaskan, mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan anak-anak, dengan gejala serupa flu musiman. 

Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, dilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan, dan menurut penilaian WHO dan situasi epidemiologi saat ini, subklit K tidak tunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan dengan clade atau subclade lainnya.
 

Super flu di Indonesia


Di Indonesia sendiri, tercatat 62 kasus infeksi Influenza A subclade K 'Super Flu'u hingga akhir Desember 2025. Dan, Widyawati dalam keterangan video, Rabu (31/12) menyampaikan temuan kasus berasal dari 88 laporan sentinel influenza like illness dan severe acute respiratory infections. 

Laporan itu tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. "Hingga akhir Desember 2025, tercatat total ada 62 kasus di 8 provinsi. Sementara provinsi terbanyaknya ada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan juga Jawa Barat," jelasnya.
   

Jaga kesehatan!


Perlu diingat, virus influenza termasuk virus yang mutasinya terjadi dengan cepat. Pada super flu, ditemukan mutasi pada struktur genetiknya yang berpotensi tidak dikenali oleh sistem imun dan vaksin yang saat ini tersedia. 

Untuk itu, masyarakat diharapkan tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari. Warga juga diminta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala demam, batuk, pilek, atau sesak napas.

Kemenkes menegaskan situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia masih dalam kondisi terkendali. 

Namun, bila seseorang sakit, tetap di rumah bila sakit, banyaklah istirahat, konsumsi obat antivirus, terapkan etika batuk, dan gunakan masker. Segeralah ke dokter atau faskes terdekat jika gejala memburuk lebih dari 3 hari.

Kebersihan diri tetap harus terjaga. Cuci tangan, istirahat cukup, dan juga makan bergisi, harus dilakukan. Jangan lupa lakukan vaksinasi influenza tahunan, terutama pada kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, dan komorbit. Vaksin influenza tetap efektif untuk mencegah sakit berat, rawat inap, dan juga kematian. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH