FITNESS & HEALTH
Kemenkes Kolab Bareng Jepang, Bikin Ekosistem Plasma Pertama di Asia Tenggara!
Yatin Suleha
Rabu 15 Juli 2026 / 07:05
- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI resmi menggandeng perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda.
- Bangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP) di Indonesia.
- Kemenkes gandeng Takeda bangun ekosistem plasma pertama di Asia Tenggara, mantap!
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI resmi menggandeng perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, buat membangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP) di Indonesia.
Kolaborasi ini ditandai dengan pemberian izin fraksionasi plasma, yang sekaligus jadi langkah awal pembangunan ekosistem plasma hulu-hilir pertama di Asia Tenggara.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan kalau kemitraan strategis ini adalah langkah nyata pemerintah untuk memastikan kemandirian dan kemudahan akses masyarakat dalam mendapatkan terapi kesehatan esensial.
"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun kapabilitas layanan kesehatan yang strategis. Melalui kerja sama yang erat dengan mitra global terpercaya seperti Takeda, Indonesia akan dapat mempercepat pengembangan sistem layanan kesehatan yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan," ujar Budi melalui siaran pers yang diberikan di Jakarta, 13 Juli 2026.
Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan dana hingga 30 juta dolar AS atau sekitar Rp539 miliar untuk tahap pengembangan awal selama 2 tahun.
Investasi ini dialokasikan untuk mendirikan beberapa bank plasma di Indonesia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda.
(1).jpg)
(Kemenkes dan Takeda bangun ekosistem plasma pertama di Asia Tenggara demi kemandirian kesehatan nasional Indonesia. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selama fasilitas manufaktur dalam negeri masih dalam proses penilaian kelayakan, plasma yang dikumpulkan di Indonesia akan difraksionasi melalui jaringan manufaktur global Takeda, dengan komitmen mengutamakan kebutuhan domestik.
Secara paralel, Takeda juga mengkaji pemenuhan regulasi untuk membangun pabrik terapi turunan plasma berteknologi mutakhir di dalam negeri.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya permintaan global terhadap PODP. Saat ini, Indonesia dan sebagian besar negara ASEAN masih menghadapi tantangan akses terapi akibat rendahnya angka diagnosis (underdiagnosis) serta terbatasnya kesadaran masyarakat akan kondisi medis yang membutuhkan PODP.
Kemitraan strategis lintas sektor ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menyatakan, kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang yang membawa peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan pekerjaan.
"Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan, tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.
Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad mengapresiasi perluasan kolaborasi ini.
Ia menyebut Takeda berkomitmen memanfaatkan keahlian globalnya dalam sains plasma untuk mendukung tujuan layanan kesehatan jangka panjang Indonesia, termasuk membuka lapangan kerja baru berketerampilan tinggi bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium lokal.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Kolaborasi ini ditandai dengan pemberian izin fraksionasi plasma, yang sekaligus jadi langkah awal pembangunan ekosistem plasma hulu-hilir pertama di Asia Tenggara.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan kalau kemitraan strategis ini adalah langkah nyata pemerintah untuk memastikan kemandirian dan kemudahan akses masyarakat dalam mendapatkan terapi kesehatan esensial.
"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun kapabilitas layanan kesehatan yang strategis. Melalui kerja sama yang erat dengan mitra global terpercaya seperti Takeda, Indonesia akan dapat mempercepat pengembangan sistem layanan kesehatan yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan," ujar Budi melalui siaran pers yang diberikan di Jakarta, 13 Juli 2026.
Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan dana hingga 30 juta dolar AS atau sekitar Rp539 miliar untuk tahap pengembangan awal selama 2 tahun.
Investasi ini dialokasikan untuk mendirikan beberapa bank plasma di Indonesia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda.
(1).jpg)
(Kemenkes dan Takeda bangun ekosistem plasma pertama di Asia Tenggara demi kemandirian kesehatan nasional Indonesia. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selama fasilitas manufaktur dalam negeri masih dalam proses penilaian kelayakan, plasma yang dikumpulkan di Indonesia akan difraksionasi melalui jaringan manufaktur global Takeda, dengan komitmen mengutamakan kebutuhan domestik.
Secara paralel, Takeda juga mengkaji pemenuhan regulasi untuk membangun pabrik terapi turunan plasma berteknologi mutakhir di dalam negeri.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya permintaan global terhadap PODP. Saat ini, Indonesia dan sebagian besar negara ASEAN masih menghadapi tantangan akses terapi akibat rendahnya angka diagnosis (underdiagnosis) serta terbatasnya kesadaran masyarakat akan kondisi medis yang membutuhkan PODP.
Kemitraan strategis lintas sektor ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menyatakan, kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang yang membawa peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan pekerjaan.
"Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan, tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.
Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad mengapresiasi perluasan kolaborasi ini.
Ia menyebut Takeda berkomitmen memanfaatkan keahlian globalnya dalam sains plasma untuk mendukung tujuan layanan kesehatan jangka panjang Indonesia, termasuk membuka lapangan kerja baru berketerampilan tinggi bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium lokal.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)