FITNESS & HEALTH

Mata Auto 5 Watt Habis Makan? Ternyata Gak Cuma Gara-gara Kenyang

Yatin Suleha
Rabu 16 September 2026 / 15:57
Ringkasnya gini..
  • Ngantuk setelah makan dikenal sebagai postprandial somnolence dan cukup umum terjadi.
  • Rasa kantuk dipengaruhi kombinasi proses setelah makan, ritme sirkadian, ukuran porsi, dan kondisi tidur.
  • Kurang tidur bisa bikin rasa ngantuk setelah makan terasa makin parah.
 
 

Jakarta: Habis makan bukannya makin fresh, malah mata berat, badan lemes, dan bawaannya pengin rebahan? Baru balik ke depan laptop beberapa menit, fokus udah ke mana-mana.

Apalagi kalau habis makan siang, rasa ngantuknya kadang datang kayak nggak kenal waktu. Ternyata, kejadian ini bukan cuma karena kamu makan sampai kenyang.

Rasa kantuk setelah makan punya istilah postprandial somnolence. Menurut Sleep Foundation, organisasi yang menyediakan edukasi dan informasi berbasis ilmiah soal tidur, kondisi ini cukup umum dan bisa dipengaruhi beberapa hal, mulai dari porsi dan komposisi makanan, waktu makan, sampai ritme sirkadian tubuh.


 




kenyang tidur
(Rasa ngantuk setelah makan atau biasa disebut food coma adalah hal yang normal terjadi karena proses alami tubuh saat mencerna makanan. Foto: Dok. Ilustrasi/AI Generated)
 

Jam tubuh memang lagi “turun”


Kalau kamu sering ngantuk setelah makan siang, bisa jadi makanannya bukan satu-satunya tersangka. Tubuh memang punya ritme sirkadian yang mengatur kapan kita lebih waspada dan kapan rasa kantuk mulai muncul.

Sleep Foundation menjelaskan bahwa tingkat kewaspadaan secara alami dapat menurun pada awal hingga pertengahan sore. Periode ini sering disebut afternoon slump atau post-lunch dip.

Jadi, pas perut baru selesai diisi dan jam biologis tubuh juga lagi mengalami penurunan kewaspadaan, kombinasi keduanya bisa bikin mata auto berat. Gak heran kalau jam setelah makan siang sering jadi waktu paling susah buat tetap fokus.
 

Makan banyak, “food coma” datang

 
 
 
 
 
 

Pernah makan sampai kenyang banget terus rasanya cuma pengin selonjoran? Nah, porsi makanan juga bisa berpengaruh.

Menurut Cleveland Clinic, pusat medis akademik yang berafiliasi dengan Case Western Reserve University, rasa kantuk setelah makan cenderung lebih terasa setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah besar atau tinggi energi.

Setelah makan, tubuh mengalami berbagai perubahan metabolisme. Glukosa, asam amino, dan sinyal dari sistem pencernaan bisa ikut memengaruhi jalur di otak yang berkaitan dengan kewaspadaan.

Makanya muncul istilah food coma untuk menggambarkan kondisi ketika badan terasa lemas dan ngantuk setelah makan banyak. Tapi, bukan berarti setiap kali makan nasi atau makanan berlemak kamu pasti langsung ngantuk. Respons tubuh tiap orang tetap bisa beda.

 

Bukan karena darah “lari” ke perut

 
 
 
 
 

Ini nih mitos yang sering banget beredar. Katanya, setelah makan darah bakal lebih banyak dialihkan ke sistem pencernaan sehingga otak kekurangan darah dan bikin kita ngantuk.

Faktanya, nggak sesederhana itu. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Physiology dan terindeks di PubMed, database literatur ilmiah yang dikelola National Library of Medicine (NLM), menunjukkan peningkatan aliran darah ke saluran pencernaan setelah makan tidak membuat aliran darah ke otak berkurang.

Peneliti justru membahas kemungkinan peran sinyal dari sistem pencernaan dan sistem saraf dalam munculnya rasa kantuk setelah makan.


 


 

Kurang tidur bikin makin tumbang

 
 
 

Kalau semalam tidur kurang, jangan heran kalau habis makan siang rasanya makin susah diajak kerja. Sleep Foundation menjelaskan bahwa kurang tidur meningkatkan dorongan tubuh untuk tidur, sehingga rasa kantuk setelah makan bisa terasa lebih kuat.

Jadi, kalau habis makan mata mulai lima watt, penyebabnya belum tentu makanan doang. Bisa jadi tubuh sedang menggabungkan efek setelah makan, afternoon slump, plus utang tidur dari malam sebelumnya.

Kalau rasa ngantuknya sampai berlebihan, sering banget terjadi, atau mengganggu aktivitas, jangan cuma dianggap sebagai food coma. Lebih baik konsultasikan ke tenaga kesehatan supaya penyebabnya bisa diketahui dengan tepat.


Desi Indasari


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH