FITNESS & HEALTH
Peran Farmasi Makin Krusial dalam Deteksi Neuropati dan Pentingnya Intervensi Dini
A. Firdaus
Jumat 17 April 2026 / 12:11
- Transformasi farmasi, dari balik layar ke garda depan.
- Kontribusi nyata farmasi dalam penanganan neuropati.
- Pentingnya mengenali pasien sejak awal.
Jakarta: Kasus gangguan neuropati kini semakin banyak ditemukan di berbagai wilayah, termasuk di kawasan Asia Pasifik. Kondisi ini mendorong perubahan besar dalam pendekatan layanan kesehatan, terutama dalam memperkuat peran farmasi di tengah masyarakat.
Farmasi kini tidak lagi sekadar menjadi tempat mendapatkan obat, tetapi juga berperan penting dalam deteksi dini, edukasi, hingga intervensi awal bagi pasien neuropati.
Neuropati adalah kondisi medis akibat kerusakan atau gangguan fungsi pada saraf tepi, yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh. Neuropati bukan lagi kondisi, yang jarang terjadi dan perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
“Peraturan neuropatik tidak hanya biasa, tetapi juga sering diperhatikan di region kita,” ujar Dr. Lusy Noviani, Head of Pharmacist Professional Study Program, UNIKA Atma Jaya, Jakarta dalam acara P&G Health Asia Pacific Virtual Media Roundtable 2026 via daring, Kamis (16/04/26).
Meningkatnya kasus ini membuat sistem kesehatan, perlu beradaptasi dengan memperluas peran tenaga kesehatan, termasuk farmasi, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Perubahan signifikan terlihat dari posisi farmasi dalam sistem pelayanan kesehatan. Jika sebelumnya lebih banyak berperan di belakang, kini farmasi mulai berada di garis depan pelayanan.
“Farmasi bergerak dari belakang kontor hingga menjadi bagian dari jaringan depan penyelamatan,” jelas Dr. Lusy
Di berbagai negara seperti Australia, Singapura, dan Malaysia, farmasi bahkan sudah dikenal sebagai bagian dari layanan utama, yang tidak hanya menyediakan obat, tetapi juga melakukan edukasi serta intervensi awal.
“Ini berarti peran kita menjadi lebih proaktif, terutama di komunitas farmasi,” tambahnya.
Di Indonesia, peran farmasi menjadi semakin penting, karena akses terhadap dokter masih belum merata di semua wilayah. Sementara itu, farmasi justru lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
“Di komunitas, farmasi sangat mudah diakses. Oleh karena itu, farmasi dapat membantu mengenali simptom awal dan memberikan edukasi inisial,” ungkap Dr. Lusy.
Dengan kedekatan ini, farmasi dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi kesehatan, yang tepat sebelum melanjutkan ke pemeriksaan lanjutan.
Dr. Lusy menjelaskan bahwa ada beberapa kebutuhan, dalam penanganan neuropati yang dapat dibantu oleh farmasi.
Pertama, dalam praktik medis, fokus sering tertuju pada penyakit utama seperti diabetes, sehingga gejala awal neuropati bisa terlewat. “Dalam situasi ini, farmasi dapat membantu dengan mengenali simptom awal dan bertanya pertanyaan sederhana.”
Kedua, keterbatasan waktu konsultasi di fasilitas kesehatan dapat membuat penilaian tidak maksimal. “Farmasi dapat mendukung pesakit melalui penyelidikan awal, dan pengendalian inisial untuk menurunkan simptom.”
Ketiga, masih banyak pasien, yang mengabaikan gejala awal atau menganggapnya sebagai kondisi ringan. “Farmasi dapat membantu dengan memberikan pendidikan awal, dan mengajarkan kapan pesakit membutuhkan penilaian lebih lanjut.”
Dengan berbagai peran tersebut, farmasi dinilai mampu mengisi kekosongan dalam sistem deteksi dini neuropati, yang selama ini masih menjadi tantangan.
“Farmasi jelas membantu menutup lubang dalam penyelidikan periperal neuropatik,” tegas Dr. Lusy.
Keberadaan farmasi memungkinkan proses penanganan dimulai sejak awal, bahkan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Meski peran farmasi semakin luas, Dr. Lusy menekankan bahwa langkah awal yang paling penting adalah mengenali pasien, yang membutuhkan penanganan segera.
“Sebelum kita bisa berintervensi, kita harus mengenali pesakit yang sedang berat,” jelasnya.
Identifikasi dini menjadi kunci agar intervensi, yang diberikan tepat sasaran dan mampu mencegah komplikasi lebih lanjut.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Farmasi kini tidak lagi sekadar menjadi tempat mendapatkan obat, tetapi juga berperan penting dalam deteksi dini, edukasi, hingga intervensi awal bagi pasien neuropati.
Neuropati adalah kondisi medis akibat kerusakan atau gangguan fungsi pada saraf tepi, yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh. Neuropati bukan lagi kondisi, yang jarang terjadi dan perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
“Peraturan neuropatik tidak hanya biasa, tetapi juga sering diperhatikan di region kita,” ujar Dr. Lusy Noviani, Head of Pharmacist Professional Study Program, UNIKA Atma Jaya, Jakarta dalam acara P&G Health Asia Pacific Virtual Media Roundtable 2026 via daring, Kamis (16/04/26).
Meningkatnya kasus ini membuat sistem kesehatan, perlu beradaptasi dengan memperluas peran tenaga kesehatan, termasuk farmasi, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Transformasi farmasi, dari balik layar ke garda depan
Perubahan signifikan terlihat dari posisi farmasi dalam sistem pelayanan kesehatan. Jika sebelumnya lebih banyak berperan di belakang, kini farmasi mulai berada di garis depan pelayanan.
“Farmasi bergerak dari belakang kontor hingga menjadi bagian dari jaringan depan penyelamatan,” jelas Dr. Lusy
Di berbagai negara seperti Australia, Singapura, dan Malaysia, farmasi bahkan sudah dikenal sebagai bagian dari layanan utama, yang tidak hanya menyediakan obat, tetapi juga melakukan edukasi serta intervensi awal.
“Ini berarti peran kita menjadi lebih proaktif, terutama di komunitas farmasi,” tambahnya.
Peran strategis farmasi di Indonesia
Di Indonesia, peran farmasi menjadi semakin penting, karena akses terhadap dokter masih belum merata di semua wilayah. Sementara itu, farmasi justru lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
“Di komunitas, farmasi sangat mudah diakses. Oleh karena itu, farmasi dapat membantu mengenali simptom awal dan memberikan edukasi inisial,” ungkap Dr. Lusy.
Dengan kedekatan ini, farmasi dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi kesehatan, yang tepat sebelum melanjutkan ke pemeriksaan lanjutan.
Kontribusi nyata farmasi dalam penanganan neuropati
Dr. Lusy menjelaskan bahwa ada beberapa kebutuhan, dalam penanganan neuropati yang dapat dibantu oleh farmasi.
Pertama, dalam praktik medis, fokus sering tertuju pada penyakit utama seperti diabetes, sehingga gejala awal neuropati bisa terlewat. “Dalam situasi ini, farmasi dapat membantu dengan mengenali simptom awal dan bertanya pertanyaan sederhana.”
Kedua, keterbatasan waktu konsultasi di fasilitas kesehatan dapat membuat penilaian tidak maksimal. “Farmasi dapat mendukung pesakit melalui penyelidikan awal, dan pengendalian inisial untuk menurunkan simptom.”
Ketiga, masih banyak pasien, yang mengabaikan gejala awal atau menganggapnya sebagai kondisi ringan. “Farmasi dapat membantu dengan memberikan pendidikan awal, dan mengajarkan kapan pesakit membutuhkan penilaian lebih lanjut.”
Menutup celah dalam deteksi neuropati
Dengan berbagai peran tersebut, farmasi dinilai mampu mengisi kekosongan dalam sistem deteksi dini neuropati, yang selama ini masih menjadi tantangan.
“Farmasi jelas membantu menutup lubang dalam penyelidikan periperal neuropatik,” tegas Dr. Lusy.
Keberadaan farmasi memungkinkan proses penanganan dimulai sejak awal, bahkan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Pentingnya mengenali pasien sejak awal
Meski peran farmasi semakin luas, Dr. Lusy menekankan bahwa langkah awal yang paling penting adalah mengenali pasien, yang membutuhkan penanganan segera.
“Sebelum kita bisa berintervensi, kita harus mengenali pesakit yang sedang berat,” jelasnya.
Identifikasi dini menjadi kunci agar intervensi, yang diberikan tepat sasaran dan mampu mencegah komplikasi lebih lanjut.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)