FITNESS & HEALTH
Kenali Jenis-Jenis Glaukoma Sebelum Terlambat
A. Firdaus
Jumat 13 Maret 2026 / 18:10
- Di negara berkembang, sekitar 80-90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis.
- Skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini..
- Terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
Jakarta: Glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga kerap baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah berat. Berbeda dengan katarak, kerusakan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan, meskipun sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini.
Di negara berkembang, sekitar 80-90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis. Sementara menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan akan terus meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada tahun 2040 seiring dengan pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup. Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46% atau 4–5 orang per 1.000 penduduk.
Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service, JEC Group mengatakan, mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan.
Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini.
Glaukoma bukan satu jenis penyakit tunggal. Terdapat beberapa tipe yang memiliki karakteristik
berbeda:
Ini adalah jenis yang paling umum. Penyakit berkembang perlahan dan sering tanpa gejala.
Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap sehingga sering tidak disadari hingga stadium lanjut.
Jenis ini dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata
merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis
yang memerlukan penanganan segera.
Terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
Terjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang,
diabetes, atau penyakit mata tertentu.
Memahami jenis-jenis ini penting karena pendekatan pemeriksaan dan terapinya dapat berbeda pada setiap pasien. Sebagai pusat layanan kesehatan mata terintegrasi, JEC menempatkan penanganan glaukoma sebagai salah satu fokus utama layanan subspesialis dan rujukan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Di negara berkembang, sekitar 80-90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis. Sementara menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan akan terus meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada tahun 2040 seiring dengan pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup. Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46% atau 4–5 orang per 1.000 penduduk.
Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service, JEC Group mengatakan, mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan.
Baca Juga :
Kenapa Glaukoma Mata Berbahaya?
Jenis-Jenis Glaukoma yang Perlu Diketahui
Glaukoma bukan satu jenis penyakit tunggal. Terdapat beberapa tipe yang memiliki karakteristik
berbeda:
Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaucoma)
Ini adalah jenis yang paling umum. Penyakit berkembang perlahan dan sering tanpa gejala.
Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap sehingga sering tidak disadari hingga stadium lanjut.
Glaukoma Primer Sudut Tertutup (Angle-Closure Glaucoma)
Jenis ini dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata
merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis
yang memerlukan penanganan segera.
Glaukoma Kongenital
Terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
Glaukoma Sekunder
Terjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang,
diabetes, atau penyakit mata tertentu.
Memahami jenis-jenis ini penting karena pendekatan pemeriksaan dan terapinya dapat berbeda pada setiap pasien. Sebagai pusat layanan kesehatan mata terintegrasi, JEC menempatkan penanganan glaukoma sebagai salah satu fokus utama layanan subspesialis dan rujukan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)